Jokowi Larang Ekspor CPO, Rupiah Anjlok
Hari ini, Senin (25/4/2022) nilai tukar rupiah dibuka anjlok 130 poin ke level Rp 14.492 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini.
BUKAMATA - Kebijakan larangan ekspor crude palm oil (CPO) oleh pemerintah RI berbuntut pada pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD.
Aturan yang akan dimulai Kamis pekan ini (28/4/2022) menjadi langkah yang diambil pemerintah demi meredam harga minyak goreng.
Hari ini, Senin (25/4/2022) nilai tukar rupiah dibuka anjlok 130 poin ke level Rp 14.492 per dolar AS pada perdagangan di pasar spot pagi ini.
Mengutip Bloomberg, rupiah berbalik menguat ke level Rp 14.423 pada pukul 09. 15 WIB, masih melemah dibandingkan penutupan kemarin Rp 14.362 per dolar AS.
Mayoritas mata uang Asia lainnya juga melemah terhadap dolar AS pagi ini. Yuan Cina anjlok 0,74% disusul won Korea Selatan 0,68%, ringgit Malaysia 0,49%, dolar Taiwan 0,45%, rupee India 0,43%, dolar Singapura 0,23%, peso Filipina 0,22%, dan baht Thailand 0,11%. Sementara, dolar Hong Kong dan yen Jepang stagnan.
Analis Bank Mandiri Rully A Wisnubroto memperkirakan rupiah akan tertekan hari ini di rentang Rp 14.341-Rp 14.377 per dolar AS. Selain sentimen negatif global, rupiah bisa tertekan oleh kebijakan baru Presiden Jokowi dalam meredam harga minyak goreng. BACA JUGA Sakit Lutut & Sendi akan Hilang jika Anda Lakukan Ini Tiap Pagi PR "Dari dalam negeri, pasar akan mengamati isu kebijakan larangan ekspor sawit yang akan melemahkan rupiah," kata Rully seperti dikutip dari Katadata.co.id, Senin (25/4/2022).
Diberitakan sebelumnya Presiden Jokowi pada akhir pekan lalu mengumumkan larangan ekspor bahan baku minyak goreng dan minyak goreng mulai Kamis (28/4/2022). Kebijakan ini berlaku hingga batas waktu yang belum ditentukan.
Kebijakan ini dalam rangka memastikan ketersediaan dan menekan harga minyak goreng yang saat ini masih bertahan tinggi. Kendati demikian, ekonom memperingatkan Indonesia bisa kehilangan devisa triliunan rupiah jika melanjutkan kebijakan tersebut.
Hal ini karena ekspor CPO berkontribusi cukup besar dalam komposisi ekspor Indonesia. Pergerakan rupiah sepanjang hari ini juga akan dibayangi sentimen eksternal. Pasar menantikan rilis data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat dan Zona Eropa untuk kuartal I pada pekan ini. Laporan data ini akan memberi gambaran dampak perang terhadap dua wilayah tersebut.
Analis pasar uang Ariston Tjendra menyebut sentimen kenaikan bunga acuan The Fed yang lebih agresif juga akan menekan rupiah hari ini. Kurs garuda diperkirakan melemah ke rentang Rp 14.380-14.400, dengan potensi support di Rp 14.340 per dolar AS.
"Naiknya ekspektasi pasar ini dipicu oleh pernyataan sejumlah pejabat Bank Sentral AS termasuk Gubernurnya Jerome Powell di pekan lalu yang mendukung kenaikan suku bunga acuan AS sebesar 50 bps," ujarnya.
The Fed sendiri sudah menaikkan bunga sebesar 25 bps pada bulan lalu dan kenaikan lebih agresif kemungkinan diambil pada pertemuan bulan depan.
Selain itu, The Fed juga akan membahas rencana pengurangan neracanya dengan menjual sejumlah aset yang mereka pegang. Sentimen The Fed ini telah membuat indeks dollar AS, yang mengukur kekuatan dollar terhadap sejumlah mata uang utama dunia, menguat di pekan lalu menembus ke atas angka indeks 101.
Ini merupakan level tertinggi sejak April 2020. Naiknya ekspektasi suku bunga acuan AS ini juga telah memberikan sentimen negatif ke indeks saham Asia pagi ini. Nikkei 225 Jepang melemah 1,66% , Shanghai SE Composite 1,69% , Hang Seng Hong Kong 2,52% , Kospi Korea Selatan 1,60%, Nifty 50 India 1,27% , Straits Times Singapura 0,69% dan IHSG pagi ini terkoreksi 0,7% Selain itu, ekspektasi kenaikan inflasi di dalam negeri karena kenaikan harga pangan menjelang lebaran juga bisa menekan rupiah.
"Tekanan inflasi ini bisa menghambat pertumbuhan ekonomi," kata Ariston.
News Feed
Gubernur Sulsel Resmikan Jembatan Sungai Balampangi Penghubung Sinjai - Bulukumba
31 Januari 2026 21:37
