Dolar AS Makin Perkasa, Rupiah Kembali Tersungkur ke Level Rp18.000
Berdasarkan data Investing, pada pukul 06.20 WIB rupiah berada di posisi Rp18.001 per dolar AS atau melemah 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya
BUKAMATANEWS - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan setelah menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan Kamis (4/6/2026) pagi. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu lonjakan harga energi dan mendorong investor mencari aset yang lebih aman.

Berdasarkan data Investing, pada pukul 06.20 WIB rupiah berada di posisi Rp18.001 per dolar AS atau melemah 0,43 persen dibandingkan perdagangan sebelumnya. Bahkan dalam 24 jam terakhir, mata uang Garuda sempat menyentuh level Rp18.013 per dolar AS, menjadi salah satu titik terlemah dalam beberapa waktu terakhir.
Sehari sebelumnya, rupiah telah ditutup pada level Rp17.966 per dolar AS, mendekati batas psikologis yang selama ini menjadi perhatian pelaku pasar dan otoritas keuangan.
Di tengah pelemahan tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kondisi fiskal nasional yang memburuk.
Menurutnya, fundamental fiskal Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik dan bahkan menunjukkan perbaikan dibanding tahun sebelumnya, terutama dari sisi penerimaan negara.
"Banyak yang bilang rupiah melemah karena fiskalnya berantakan. Kalau ada isu pemerintah kebijakannya ngawur atau fiskalnya ugal-ugalan, itu tidak benar," ujar Purbaya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (3/6).
Ia menegaskan bahwa peningkatan penerimaan pajak pada 2026 menjadi salah satu indikator bahwa reformasi perpajakan yang dijalankan pemerintah mulai memberikan hasil positif bagi perekonomian nasional.
Sementara itu, analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah lebih banyak berasal dari faktor eksternal. Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pelaku pasar saat ini masih mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan energi global.
Ketidakpastian dalam negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran turut memperbesar kekhawatiran investor terhadap stabilitas ekonomi global. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pandangan serupa disampaikan pengamat mata uang Ariston Tjendra. Ia menilai belum adanya titik temu antara Amerika Serikat dan Iran menjadi faktor utama yang membuat pasar bergerak lebih berhati-hati.
"Penggerak utama pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih terkait konflik AS dan Iran. Kedua negara belum menunjukkan kesepakatan damai, bahkan ketegangan yang terjadi mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia," ujarnya.
Kenaikan harga minyak dinilai berpotensi memperbesar tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi, termasuk Indonesia, sehingga memengaruhi sentimen pasar terhadap rupiah.
Dengan berbagai sentimen global yang masih membayangi, pelaku pasar kini menunggu langkah lanjutan dari bank sentral serta perkembangan geopolitik internasional yang akan menjadi penentu arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek.
News Feed
16 Tim Siap Berlaga di Turnamen Sepakbola Kapolres Cup II 2026
05 Juni 2026 10:45
Bupati Irwan Dorong Standarisasi Rendemen untuk Tingkatkan Harga TBS Petani
05 Juni 2026 10:36
Berita Populer
05 Juni 2026 10:31
05 Juni 2026 10:45
05 Juni 2026 10:36
05 Juni 2026 10:25
