Aswad Syam
Aswad Syam

Rabu, 05 Mei 2021 10:16

Ilustrasi
Ilustrasi

Begini Kronologi Oknum Legislator Nasdem Remas Payudara Ibu Rumah Tangga

Seorang legislator di NTT, ditahan polisi. Itu setelah meremas payudara seorang IRT.

KUPANG, BUKAMATA - Kejadiannya diKota Soe, Timor Tengah Selatan (TTS), Nusa Tenggara Timur (NTT). Minggu, 11 April 2021, anggota DPRD Timor Tengah Selatan, Jean Neonufa, sedang bertamu ke rumah kenalannya. Kebetulan, Jean Neonufa kenal baik dengan suami DS.

Saat itu, DS sedang di dapur. Membuatkan air panas untuk sang legislator. Sedang suami DS sedang di kamar mandi.

Jean Neonufa lalu menyusul ke dapur. Dia kemudian menyentuh payudara DS. Awalnya, DS diam saja. Pikirnya, mungkin Jean sedang tak sengaja menyentuh area sensitifnya itu.

Lalu, dia kemudian membawakan minuman itu ke ruang tamu. Jean saat itu duduk di sofa. Sedang suami DS masih di kamar mandi.

Lalu, Jean kembali meremas payudara DS. Kontan, IRT itu mengamuk. Ternyata, Jean memang sengaja memegang payudaranya. DS pun mengusir Jean keluar dari rumah. Mendengar ribut, suami DS keluar dari kamar mandi. Lantas melaporkan Jean ke polisi.

Saat ini, Jean sudah tersangka. "Iya betul, (tersangka) pelecehan seksual. Dia meraba payudara perempuan," kata Kapolres TTS AKBP Andre Librian.

Kabid Humas Polda NTT Kombes Rishian Krisna mengatakan dalam waktu dekat, penyidik juga akan mengirimkan berkas perkara tahap pertama ke jaksa penuntut umum (JPU) untuk diperiksa lebih lanjut.

Tersangka juga sudah ditahan selama 20 hari ke depan sejak Senin (3/5/2021) malam untuk kepentingan penyidikan kasus tersebut.

"Alasan penahanan terhadap tersangka adalah memang dua alat bukti yang kuat sudah dikantongi," kata Kombes Krisna.

Polisi menjerat JN dengan Pasal 289 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) subsider Pasal 281 ayat 1 KUHP, dan dikenai ancaman hukum 9 tahun penjara.

Partai NasDem yang menjadi tempat Jean bernaung, menyatakan menjunjung asas praduga tak bersalah. NasDem menilai seseorang belum dapat dinyatakan bersalah selama kasus yang dihadapi belum berkekuatan hukum tetap (inkrah).

Waketum NasDem Ahmad Ali mengatakan DPP NasDem memiliki aturan tertentu dalam menangani kader-kader yang terjerat pidana. Selain aturan sanksi, kader yang terjerat kasus pidana memiliki hak melakukan pembelaan.

"Kalau orang ditetapkan tersangka biasanya kita berhentikan dari partai. Tapi kemudian dia juga punya hak untuk melakukan pembelaan terhadap hal tersebut," imbuhnya.

#Pelecehan Seksual