Dari Golkar ke Demokrat? Dosen Unhas Baca Manuver Appi lewat Teori Sirkulasi Elite
05 Oktober 2026 20:41
Gelora Sulsel meluncurkan Gelombang Muda Makassar sebagai ruang bagi anak muda untuk menyuarakan gagasan, kepentingan, dan agenda sendiri di ruang publik.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Anak muda dinilai tidak boleh hanya hadir sebagai massa pendukung dalam setiap momentum politik. Mereka perlu memiliki gagasan, kepentingan, dan agenda sendiri yang diperjuangkan di ruang publik.

Pesan tersebut mengemuka dalam Launching Gelombang Muda Makassar yang digelar Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Partai Gelombang Rakyat Indonesia (Gelora) Sulawesi Selatan di Kantor DPW Gelora Sulsel, Ahad, 4 Oktober 2026.
Kegiatan yang diikuti sekitar 50 anak muda itu menjadi momentum memperkenalkan Gelombang Muda Makassar sebagai ruang bagi generasi muda untuk belajar, berdiskusi, berkolaborasi, sekaligus mengambil peran dalam kehidupan sosial dan politik.
Ketua Bidang Generasi Muda DPW Gelora Sulsel, Agung Wahyudi, mengatakan keterlibatan anak muda dalam politik tidak semestinya berhenti pada posisi sebagai pendukung atau objek mobilisasi kepentingan elite.

“Anak muda jangan hanya menjadi objek kepentingan elite politik. Anak muda tidak boleh jadi objek. Anak muda harus punya kepentingan, gagasan, dan agenda sendiri yang dibawa ke dalam ruang politik,” tegas Agung.
Menurutnya, anak muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah kehidupan bangsa. Namun, posisi tersebut harus diikuti dengan kesadaran untuk memahami persoalan yang dihadapi dan kemampuan mengubah persoalan tersebut menjadi gagasan serta agenda yang dapat diperjuangkan.
Ia menyebut sejumlah isu yang dekat dengan kehidupan generasi muda, mulai dari lapangan kerja, pendidikan, ekonomi, perkembangan teknologi, lingkungan, ruang kreativitas hingga peluang kewirausahaan, seharusnya menjadi bagian dari agenda yang mereka suarakan.
“Kalau anak muda tidak membawa kepentingannya sendiri, maka ada risiko kepentingan mereka hanya dibicarakan oleh orang lain. Kita ingin anak muda belajar menyampaikan gagasan, berdiskusi, berkolaborasi, dan mengambil peran,” ujarnya.
Bukan Sekadar Ruang Politik
Agung menegaskan, Gelombang Muda Makassar tidak diarahkan hanya menjadi ruang politik. Wadah tersebut diharapkan menjadi tempat bagi anak muda untuk mengembangkan kapasitas, bertukar gagasan, membangun jejaring, serta melahirkan karya yang menjawab persoalan di sekitar mereka.
Menurut dia, partisipasi anak muda dalam kehidupan publik tidak harus selalu dimulai dari politik praktis. Kontribusi dapat tumbuh dari lingkungan terdekat melalui kegiatan sosial, kreativitas, kewirausahaan, pendidikan, maupun berbagai bentuk kolaborasi.
Karena itu, ia mengajak anak muda untuk tidak menunggu memiliki jabatan ataupun posisi tertentu sebelum mulai memberikan kontribusi.
“Kita tidak perlu menunggu jadi pejabat untuk berkontribusi. Jangan menunggu menjadi orang besar untuk buat karya. Mulai saja dari apa yang kita punya, dari apa yang kita bisa, dan dari persoalan yang ada di sekitar kita,” katanya.
Launching Gelombang Muda Makassar menjadi langkah awal untuk membangun ruang interaksi dan kolaborasi generasi muda di Makassar.
Ke depan, Gelombang Muda Makassar diharapkan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya anak muda, tetapi juga menjadi ruang lahirnya gagasan dan inisiatif yang mampu menjawab berbagai persoalan generasi muda.
“Anak muda bukan sekadar penonton perubahan. Mereka harus menjadi bagian dari orang-orang yang menentukan arah perubahan itu sendiri,” pungkas Agung.
Saya sengaja mengubah lead dari “Gelora menggelar launching” menjadi isu “anak muda jangan sekadar jadi massa politik”. Dengan angle ini, berita lebih kuat karena kegiatan menjadi konteks, sementara gagasan utama dan pernyataan narasumber menjadi nilai beritanya.
05 Oktober 2026 20:41
05 Oktober 2026 18:52
05 Oktober 2026 18:02