Gerhana Matahari Total Terjadi Hari Ini, Begini Cara Menyaksikannya
12 Agustus 2026 03:34
Guru Seni Budaya MAN IC Gowa, Nur Amalia, loloskan proposal hibah Dana Indonesiaraya untuk selamatkan Gandrang Riwakkang, kesenian Barru yang rawan punah sekaligus perkuat tradisi agraris dan ketahanan pangan
GOWA, BUKAMATANEWS – Kabar gembira datang dari dunia pelestarian budaya Sulawesi Selatan. Nur Amalia, seorang guru Seni Budaya di MAN Insan Cendekia Gowa, berhasil meloloskan proposal hibah Program Dana Indonesiaraya Tahun Anggaran 2026/2027 yang digagas Kementerian Kebudayaan. Ia membawa misi mulia: menghidupkan kembali Gandrang Riwakkang, kesenian musik tradisional asal Kabupaten Barru yang kini berada di ambang kepunahan.

Langkah ini bermula dari sebuah kepedulian mendalam yang tumbuh bertahun-tahun silam. Saat mendengar kabar wafatnya maestro Gandrang Riwakkang, Wa Colleng, pada tahun 2024, hati Nur Amalia terketuk.
Sosok itu adalah penerus terakhir yang menguasai seni tersebut secara utuh. Sejak kepergiannya, tidak ada lagi yang melanjutkan pertunjukan itu. Ironisnya, rekaman dan dokumentasi terakhir yang dipublikasikan secara luas bahkan sudah berhenti sejak tahun 2017 silam.
Kekhawatiran akan hilangnya warisan leluhur itu akhirnya menemukan jalan keluar saat Kementerian Kebudayaan membuka peluang pendanaan lewat Dana Indonesiaraya, khusus bagi budaya yang masuk kategori rawan punah.

Lebih dari sekadar alat musik, Gandrang Riwakkang adalah napas kehidupan masyarakat Kecamatan Pujananting, Barru. Tradisi ini tak terpisahkan dari siklus agraris masyarakat setempat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual Menddoja Bine—upacara sakral yang dilakukan sebelum masa tanam padi dimulai.
Jejaknya pun tercatat abadi dalam naskah kuno Kitab Ilagaligo, tepatnya pada bagian syair Meompalo Karellae, yang menyebutkan Barru sebagai salah satu wilayah yang menjaga luhur budaya tersebut.
Kini, di tangan Nur Amalia dan dukungan dana hibah tersebut, tradisi yang sempat redup bak "matahari yang mulai terbenam" akan kembali dicarikan cahayanya.
Program ini bukan sekadar menyelamatkan irama tabuhan gendang. Ia membawa harapan besar: menjaga keberlangsungan Gandrang Riwakkang sekaligus menjaga kearifan lokal pertanian masyarakat Barru.
Di tengah isu ketahanan pangan dan perubahan iklim yang menjadi tantangan dunia saat ini, inisiatif ini ingin membuktikan satu hal penting: seni dan budaya bukan sekadar hiasan, melainkan fondasi ketahanan hidup.
Lewat kembalinya irama Gandrang Riwakkang, diharapkan masyarakat kembali mengingat dan melestarikan cara bertani yang selaras alam, sekaligus menjawab pertanyaan besar: apakah budaya mampu berkontribusi pada ketahanan pangan bangsa di tengah perubahan zaman?
Nur Amalia membuktikan, dengan kepedulian dan langkah nyata, satu orang bisa menjadi jembatan yang menyambung masa lalu ke masa depan.
12 Agustus 2026 03:34
11 Agustus 2026 19:10
12 Agustus 2026 00:52
12 Agustus 2026 03:34
12 Agustus 2026 06:31
12 Agustus 2026 03:25