Program Jelajah Sampah Mulai Digelar di Makassar, DLH Sasar 15 Kecamatan Bangun Budaya Kelola Sampah dari Sumbernya
Menurut Helmy, capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa Program Jelajah Sampah mampu mendorong masyarakat untuk mulai memilah dan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) resmi menggerakkan Program Jelajah Sampah sebagai upaya membangun budaya baru dalam pengelolaan sampah berbasis partisipasi masyarakat. Program ini akan menjangkau seluruh 15 kecamatan di Kota Makassar dan menjadi bagian dari strategi pemerintah mengurangi timbunan sampah sejak dari sumbernya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Makassar, Helmy Budiman, mengatakan pelaksanaan program telah dimulai di tiga kecamatan, yakni Panakkukang, Tamalate, dan Bontoala. Hasil awal menunjukkan capaian yang cukup menggembirakan, baik dari sisi volume sampah yang berhasil dikumpulkan maupun tingginya keterlibatan masyarakat.
Berdasarkan data DLH, Kecamatan Panakkukang berhasil mengumpulkan total 72,1 kilogram sampah yang terdiri atas 27 kilogram sampah organik, 9 kilogram anorganik, dan 36 kilogram sampah campuran.
Sementara itu, Kecamatan Tamalate mencatat pengumpulan 220,48 kilogram sampah, terdiri dari 58,78 kilogram sampah organik, 131 kilogram anorganik, serta 30,7 kilogram residu.
Adapun Kecamatan Bontoala berhasil mengumpulkan sekitar 65 kilogram sampah yang meliputi 24 kilogram sampah organik, 16,5 kilogram anorganik, 14 kilogram residu, serta 1,5 kilogram sampah kertas.
Menurut Helmy, capaian tersebut menjadi indikator awal bahwa Program Jelajah Sampah mampu mendorong masyarakat untuk mulai memilah dan mengelola sampah secara lebih bertanggung jawab.
"Data ini menjadi gambaran awal efektivitas program dalam mengurangi timbunan sampah sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah sejak dari rumah," ujar Helmy, Selasa (7/7/2026).
Lebih dari sekadar aksi bersih-bersih, Helmy menegaskan Program Jelajah Sampah dirancang sebagai gerakan edukasi yang bertujuan mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah.
Menurutnya, antusiasme warga pada pelaksanaan perdana menjadi sinyal positif bahwa kesadaran lingkungan di Kota Makassar terus meningkat. Di Kecamatan Panakkukang saja, kegiatan ini diikuti sekitar 500 peserta dari berbagai kalangan.
"Animo masyarakat cukup tinggi, terutama di Panakkukang yang diikuti sekitar 500 peserta. Itu menandakan semangat masyarakat sudah berbeda. Mereka semakin paham dan ingin mengetahui bagaimana sampah dapat dikelola dengan baik," katanya.
Helmy berharap pengelolaan sampah ke depan tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab pemerintah semata, melainkan menjadi gerakan kolektif seluruh elemen masyarakat.
"Kita berharap tanggung jawab sampah bukan lagi hanya milik pemerintah, tetapi menjadi kesadaran bersama. Kalau semua bergerak, persoalan sampah akan jauh lebih mudah diselesaikan," tegasnya.
Selain mengedukasi masyarakat, Program Jelajah Sampah juga dimanfaatkan untuk menyosialisasikan target Pemerintah Kota Makassar menghentikan praktik open dumping di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) mulai Agustus 2026. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menerapkan sistem pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
DLH juga memperkenalkan konsep urban farming sebagai salah satu solusi pemanfaatan sampah organik. Sampah organik yang dipilah akan diolah menjadi kompos yang selanjutnya dimanfaatkan untuk tanaman pangan, kebun, hingga tanaman buah di kawasan perkotaan.
"Kalau sampah organik dikelola, dia akan menjadi kompos. Kompos itu bisa diserap oleh tanaman, baik kebun maupun tanaman buah. Urban farming dapat memanfaatkan hasil tersebut sehingga nilai sampah semakin tinggi," jelas Helmy.
Untuk memperkuat ekosistem tersebut, DLH menggandeng Dinas Perikanan dan Pertanian (DP2) serta Dinas Ketahanan Pangan dalam membangun ekonomi sirkular berbasis pengelolaan sampah. Bahkan, melalui jaringan bank sampah, DLH telah membeli berbagai produk hasil pengolahan sampah organik seperti kompos basah, kompos kering, hingga kasgot atau sisa budidaya maggot.
Langkah ini diharapkan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di TPA.
"Ini merupakan langkah nyata agar sampah tidak lagi dianggap sebagai beban, tetapi berubah menjadi sumber ekonomi baru yang memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjaga lingkungan," tutup Helmy.
