Dewi Yuliani : Rabu, 22 April 2026 20:18
Menlu Sugiono dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

JAKARTA, BUKAMATANEWS - Dua kapal Pertamina tertahan di Selat Hormuz. Meski demikian, Menteri Luar Negeri Sugiono memastikan pasokan energi nasional tetap aman.

Menlu mengatakan, kondisi energi nasional masih terkendali sesuai laporan pemerintah. Ia merujuk pada data dari Kementerian ESDM terkait ketersediaan energi.

"Posisi energi nasional saat ini relatif aman dan terkendali. Pemerintah terus memastikan pasokan tetap terjaga dengan baik," kata Menlu dalam konferensi pers di Gedung Bina Graha, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu, 22 April 2026.

Ia menjelaskan, suplai energi Indonesia tidak hanya bergantung pada Selat Hormuz. Pemerintah memiliki berbagai sumber alternatif dari negara lain.

Sugiono menyebut, dua kapal Pertamina membawa sekitar dua juta barel minyak. Jumlah tersebut dinilai kecil dibanding kebutuhan energi nasional.

"Jika dibandingkan kebutuhan nasional, jumlah itu relatif kecil. Hal ini penting agar masyarakat memahami situasi secara proporsional," ujarnya.

Meski demikian, ia memastikan, pemerintah tetap menangani persoalan ini tanpa mengabaikan dampaknya. Sugiono menekankan pentingnya melihat situasi secara seimbang.

Ia juga mengatakan, Indonesia memiliki alternatif pasokan dari berbagai negara. Rusia dan Amerika Serikat menjadi opsi strategis pemenuhan energi.

"Pemerintah terus menjajaki berbagai sumber pasokan energi dari negara mitra. Langkah ini untuk memperkuat ketahanan energi nasional," ucapnya.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyebut komunikasi dengan Iran terus dilakukan. Koordinasi lintas kementerian juga terus diperkuat.

"Komunikasi intensif dengan Iran terus dilakukan untuk penyelesaian masalah. Kolaborasi antar kementerian berjalan untuk memastikan hasil terbaik," ujar Bahlil.

Menurutnya, tidak semua proses diplomasi dapat disampaikan ke publik. Hal ini terkait sensitivitas situasi geopolitik yang sedang berlangsung.

"Ini bicara geopolitik dalam kondisi seperti ini, ya boleh kita terbuka. Tapi jangan terlalu banyak, nanti malu juga kita," ucap Bahlil. (*)