Raih 11 Medali, Luwu Timur Peringkat Empat Besar MTQ Tingkat Provinsi Sulsel
19 April 2026 21:40
Izin lintas bagi kapal Prancis dan Jepang ini bisa jadi adalah celah kecil pertama menuju de-eskalasi di Selat Hormuz. Namun, ketegangan masih membara—terutama dengan ancaman militer AS yang masih menggantung di udara.
BUKAMATANEWS - Untuk pertama kalinya sejak konflik bersenjata meletus pada 28 Februari lalu, Selat Hormuz—jalur perairan paling strategis sekaligus paling berbahaya di dunia—kembali dilintasi kapal milik negara Barat. iran dilaporkan memberikan izin khusus kepada sebuah kapal kontainer berbendera Malta milik perusahaan raksasa asal Prancis, CMA CGM, pada Jumat (3/4/2026).

Langkah ini memecah kebuntuan navigasi di kawasan yang selama lebih dari sebulan nyaris lumpuh akibat ketegangan militer. Kapal tersebut menjadi kapal pertama dari blok Barat yang secara resmi mendapat "lampu hijau" untuk melintasi perairan yang dijaga ketat oleh pasukan iran.
Data pelacakan maritim menunjukkan, kapal kontainer itu tidak melintas di jalur utama yang biasa dilalui. Sebaliknya, kapal tersebut memilih jalur aman dengan menyusur dekat pantai timur Oman—berlawanan arah dari wilayah perairan iran. Hingga berita ini diturunkan, belum diketahui secara pasti muatan apa yang dibawa oleh kapal tersebut.
Tak hanya kapal Prancis, sebuah kapal asal Jepang yang mengangkut gas alam cair juga sukses keluar dari Selat Hormuz. Hal ini dikonfirmasi langsung oleh perusahaan pelayaran raksasa Jepang, MOL (Mitsui O.S.K. Lines).
Dalam pernyataan resminya yang dikutip dari BBC, Sabtu (4/4/2026), MOL memastikan bahwa keselamatan kapal dan seluruh awaknya telah terjamin.
"Keselamatan kapal dan seluruh kru kapal telah dipastikan. Kami akan terus memprioritaskan keselamatan kru, kargo, dan kapal kami seiring berjalannya operasi," demikian bunyi pernyataan MOL.
Layanan intelijen dan berita maritim terkemuka, Lloyd's List, mengungkapkan fakta menarik: beberapa kapal yang melintas pada Kamis (2/4/2026) juga berlayar sangat dekat dengan garis pantai Oman. Hal ini memicu spekulasi apakah Oman telah melakukan koordinasi dengan Iran untuk memfasilitasi transit kapal-kapal tersebut. Hingga saat ini, belum ada konfirmasi resmi dari kedua negara.
Di tengah kabar positif itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump justru melontarkan nada kecewa. Melalui platform Truth Social, ia mengklaim bahwa militer AS mampu dengan mudah membuka kembali Selat Hormuz secara paksa—namun ia kecewa karena negara-negara sekutu menolak memberikan bantuan militer.
"Dengan sedikit waktu, kami bisa dengan mudah membuka Selat Hormuz, mengambil minyaknya, dan mendapat kekayaan," tulis Trump dengan nada tajam.
Pernyataan itu semakin mempertegas ketegangan diplomatik di balik upaya pelayaran komersial yang mulai merangkak kembali normal.