Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Sabtu, 31 Januari 2026 08:38

Ilustrasi, Int
Ilustrasi, Int

Bosan Ditanya Kapan Nikah, Coba Peruntungan di Aplikasi Jodoh

Perempuan harus menikah merupakan hasil konstruksi sosial. Entah sejak kapan ini dimulai. Pernikahan dianggap sebagai pencapaian tertinggi, khususnya bagi para orangtua ketika berhasil menikahkan anak mereka.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Kapan nikah? Pertanyaan ini kerap menghantui perempuan, khususnya bagi mereka yang telah berusia 25 tahun ke atas. Di acara kumpul keluarga, hingga reuni pertemanan, pertanyaan ini seakan menjadi momok. Bahkan, kerap kali dibahas di ruang-ruang digital, termasuk grup WhatsApp.

Bosan terus ditanya Kapan Nikah, Wati (40 tahun), seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta, kerap membagikan konten di aplikasi Tiktok, ke grup WhatsApp keluarganya. Ia berharap, hal tersebut bisa membantunya menjelaskan kepada keluarga, jika pernikahan bukanlah sesuatu yang absolut, yang harus dilakukan.

"Kalau kamu gak nikah, kamu gak mati. Tapi kalau kamu nikah dengan orang yang salah, itu rasanya setengah mati." Potongan kalimat ini disampaikan dalam sebuah podcast, yang kemudian viral dan banyak dibagikan di ruang-ruang digital. Tak terkecuali Wati, yang turut membagikannya ke beberapa grup WhatsApp.

"Saya juga sering mengirimkan meme-meme sindiran yang saya dapat di medsos, supaya tidak ada lagi yang bertanya kapan nikah, kapan nikah," ujarnya.

Wati menceritakan, di usianya yang akan memasuki 40 tahun, desakan untuk segera menikah terus datang. Ia bahkan pernah berusaha dijodohkan dengan seorang laki-laki, yang usianya jauh lebih tua, berstatus duda beranak satu. Tanpa sepengetahuan Wati, fotonya dikirimkan kepada laki-laki tersebut melalui aplikasi pesan WhatsApp.

"Oleh salah seorang anggota keluarga, foto saya dikirim ke laki-laki tersebut. Laki-laki ini juga mengirimkan fotonya untuk diperlihatkan ke saya. Lucunya, foto yang dia kirim itu waktu dia masih muda. Waktu saya ketemu langsung, tentu saja saya kaget," tutur Wati, menceritakan pengalamannya.

Karena merasa tidak cocok, Wati tidak melanjutkan perjodohan. Penolakan ini bahkan dibahas di grup WhatsApp keluarga. Ada satu komentar yang tak bisa dilupakan Wati. "Di usia mu sekarang, kalau bukan orang tua, ya duda. Tidak usah milih-milih," ujarnya.

Wati mengaku memaklumi kegelisahan kedua orangtuanya. Namun, baginya pernikahan adalah keputusan masing-masing individu. Pernikahan tidak boleh diputuskan karena banyaknya desakan dari keluarga atau lingkungan.

Desakan untuk segera menikah, juga dialami oleh Nur (38 tahun). Memiliki karier yang bagus, dengan pendidikan S2, mandiri,  kerap disayangkan oleh pihak keluarga dan juga teman-teman Nur, karena Nur belum juga menikah.

"Sering dibahas. Bahkan sudah tidak bikin nyaman karena berulang-ulang," kata Nur.

Beragam komentar juga sering datang ketika Nur mengupload foto di sosial media. Apalagi, ketika dirinya mengupload foto menghadiri pesta pernikahan.

"Meskipun sebenarnya komentarnya cukup sopan, tapi tetap membuat kita risih. Seolah-olah kita ini didesak juga untuk segera menikah. Dikomentari dicap pemilih, diminta menurunkan standar," ungkapnya.

Lain lagi dengan Riri (39 tahun). Desakan untuk segera menikah, membuatnya nekat mencoba peruntungan di aplikasi jodoh. Beberapa kali, ia bertemu langsung dengan laki-laki yang dikenalnya di aplikasi.

"Profilnya di aplikasi bagus. Tapi setelah ketemu, tidak sesuai," terangnya.

Ia juga menceritakan, pernah berkenalan dengan seseorang di sosial media. Bahkan sampai pada jenjang pacaran, hingga merencanakan pernikahan. Namun kandas, karena sikap sang pria yang temperamental.

"Kalau marah, dia hubungi semua kontak pertemanan saya di Facebook. Kirimkan pesan yang menjelek-jelekkan saya. Sering juga pasang status di medsos setiap kali kami berselisih," ungkap Riri.

Riri menuturkan, hal tersebut ia lakukan karena terus didesak untuk segera menikah oleh pihak keluarga, dan orang-orang di sekelilingnya.  Orangtua juga merasa terbebani karena terus menerus ditanya, kenapa anaknya belum menikah.

"Orangtua merasa kalau tanggungjawabnya baru selesai, setelah anak-anaknya menikah," tuturnya.

Narasi Nikah Muda

Di sisi lain, muncul narasi nikah muda. Citra (19 tahun), mengaku ingin menikah di usia muda. Alasannya, ia tak mau ditanya 'kapan kawin' saat acara kumpul keluarga. Menurutnya, sejumlah persoalan yang dihadapi juga akan selesai dengan menikah.

Keinginan Citra untuk menikah muda semakin kuat ketika ia melihat konten yang dibagikan seorang influencer melalui media sosial. "Konten kreator Azkiave menikah di usia 19 tahun, dan sepertinya dia bahagia," kata Citra.

Menurut Citra, dari konten yang dibagikan Azkiave, ia belajar banyak hal. Termasuk soal keberanian mengambil keputusan menikah di usia muda.

"Saya suka konten-konten Azkiave. Menikah di usia muda bukan hal yang buruk," imbuhnya.

Diketahui, dalam unggahan-unggahannya, Azkiave secara konsisten mem-branding diri sebagai perempuan yang menikah muda, dan membagikan sudut pandangnya terkait pernikahan, kedewasaan, serta pengambilan keputusan besar di usia muda. Konten-konten tersebut berisi narasi pengalaman pribadi dan pandangan subjektifnya mengenai Generasi Z yang belum menikah.

Azkiave juga membandingkan keputusan dirinya yang telah menikah di usia 19 tahun dengan orang-orang yang lebih dewasa, tetapi belum memutuskan untuk menikah.

Menurutnya, menikah merupakan bentuk keberanian dalam mengambil keputusan besar, yang ia anggap belum tentu dimiliki oleh orang-orang yang usianya lebih tua.

Hasil Konstruksi Sosial

Perempuan harus menikah merupakan hasil konstruksi sosial. Entah sejak kapan ini dimulai. Pernikahan dianggap sebagai pencapaian tertinggi, khususnya bagi para orangtua ketika berhasil menikahkan anak mereka.

Aktivis perempuan Ema Husain mengatakan, pernikahan bukanlah keharusan, tapi pilihan setiap individu. Bahkan, ada yang menggolongkan, perempuan yang tidak menikah bukan umat Nabi Muhammad SAW. Perempuan dipandang dengan rasa kasihan oleh keluarga dan lingkungannya ketika belum menikah.

"Ketika usia perempuan misalnya sudah 30-an dan belum menikah, banyaklah desakan. Orangtua juga merasa belum berhasil kalau belum menikahkan anak perempuannya. Akhirnya, siapa saja yang datang melamar diterima, asalkan anaknya menikah, dan dia merasa lepas tanggungjawab setelah anaknya menikah," ungkap Ema.

Pernikahan seperti ini, kata Ema, akan menimbulkan banyak gejolak. Dan sangat rawan perceraian. Bahkan, ada juga yang bersedia menjadi isteri kedua, hingga menikah siri.

"Hal-hal seperti ini sangat merugikan perempuan. Tanpa kita sadari, desakan kapan menikah, kenapa belum menikah, bisa berakibat fatal," pungkasnya.

Menikah Butuh Kesiapan

Membangun rumah tangga butuh kesiapan. Jika tidak, maka bisa berujung pada perceraian. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Selatan, sepanjang tahun 2024 telah terjadi 48.718 pernikahan, dengan jumlah perceraian 11.949 kasus. Lima daerah di Sulawesi Selatan dengan angka perceraian tertinggi, yakni Kota Makassar 2.007 kasus, Kabupaten Bone 951 kasus, Wajo 884 kasus, Gowa 844 kasus, dan Kabupaten Sidenreng Rappang 591 kasus.

Nathalia Debora Sidabutar, SKM, M.I.Kom, selaku Ketua Tim Kerja Ketahanan Keluarga dan Pencegahan Stunting BKKBN Sulawesi Selatan, menjelaskan, pernikahan bukan sesuatu yang bisa dipaksakan. Menekan seseorang untuk menikah karena "dikejar" usia bukan sesuatu yang bisa dibenarkan.

"Banyak sekali di sekitar kita, karena capek ditanya terus, merasa tertekan, akhirnya putus asa, yang penting menikah saja dulu deh, urusan belakangan nanti saja," kata Nathalia.

Ia menuturkan, untuk menikah dan membangun rumah tangga, setidaknya dibutuhkan 10 kesiapan. Yang paling utama adalah kesiapan finansial. Apakah pasangan yang akan menikah ini sudah siap secara finansial. Suami memiliki penghasilan untuk menafkahi isterinya.

"Mayoritas penyebab perceraian adalah masalah ekonomi," ungkapnya.

Selanjutnya, kata Nathalia, adalah kesiapan psikis atau mental dan usia. Menurut BKKBN, usia ideal menikah bagi perempuan yaitu 21 (dua puluh satu) tahun dan bagi laki-laki yaitu 25 (dua puluh lima) tahun. Menikah terlalu muda juga tidak dibenarkan, karena dianggap mental dan fisiknya belum siap.

Pasangan yang akan menikah juga harus siap secara fisik, dalam kondisi sehat, agar bisa melahirkan generasi yang sehat.

Kesiapan selanjutnya adalah kesiapan sosial dan emosional. Pasangan yang akan menikah, harus sudah siap menerima jika kehidupannya akan berubah setelah menikah. Pernikahan bukan hanya melibatkan dua orang saja, tapi dua keluarga besar.

"Juga harus memiliki kesiapan interpersonal, keterampilan, intelektual, dan moral. Jangan sampai, ketika mendapatkan informasi misalnya dari sosial media, langsung ditelan semuanya mentah-mentah. Ini tentu saja berbahaya bagi rumah tangganya," ungkapnya.

Nathalia berharap, tidak ada lagi tekanan kepada para perempuan yang belum menikah meskipun usianya sudah ideal untuk menikah. Karena menikah bukan hanya soal usia, tapi kesiapan.

"Jangan sampai belum memiliki kesiapan, tapi karena terus ditekan, justru berujung pada perceraian. Kami di BKKBN juga terus mensosialisasikan hal ini, baik melalui media mainstream maupun media sosial," pungkasnya.

(*)

Penulis: Dewi Yuliani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Setop bertanya kapan nikah #BKKBN Sulsel #Disinformasi #Kesetaraan gender #Digital #Aplikasi jodoh