Pemkab Gowa Genjot Penurunan Stunting, Targetkan Prevalensi 16,4 Persen pada 2025
Pemkab Gowa targetkan prevalensi stunting turun jadi 16,4 persen pada 2025. Komitmen ini mendapat apresiasi UNICEF dalam lokakarya gizi di Kantor Gubernur Sulsel.
GOWA, BUKAMATANEWS — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa terus menunjukkan komitmen kuat dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayahnya. Melalui skema perencanaan dan penganggaran berbasis data, Pemkab Gowa menargetkan prevalensi stunting menurun hingga 16,4 persen pada tahun 2025.
Hal ini disampaikan langsung oleh Wakil Bupati Gowa sekaligus Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Gowa, Darmawangsyah Muin, saat menghadiri Lokakarya Komitmen untuk Gizi: Dari Bukti Menuju Dampak yang digelar di Ruang Rapat Pimpinan, Kantor Gubernur Sulawesi Selatan, Selasa (15/7).
“Target kami adalah menekan prevalensi stunting menjadi 16,4 persen pada tahun depan. Melihat capaian saat ini, kami optimistis target tersebut bisa diraih,” ujar Darmawangsyah.
Menurutnya, penurunan angka stunting yang signifikan selama dua tahun terakhir menjadi indikator keberhasilan strategi intervensi yang terarah. Berdasarkan data Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gowa, prevalensi stunting pada tahun 2024 berada di angka 17 persen—lebih rendah dari rata-rata Provinsi Sulawesi Selatan.
Penurunan ini merupakan lanjutan dari capaian positif pada 2023, di mana prevalensi stunting berhasil ditekan dari 33 persen (2022) menjadi 21,1 persen. “Kami berkomitmen bahwa semua kebijakan dan program diarahkan untuk mengatasi persoalan gizi secara menyeluruh, mulai dari perencanaan anggaran hingga implementasi lapangan,” tambahnya.
Kinerja Pemkab Gowa dalam menurunkan angka stunting turut mendapat apresiasi dari UNICEF. Kepala Kantor Perwakilan UNICEF Wilayah Sulawesi dan Maluku, Henky Widjaja, menyebut Gowa sebagai salah satu daerah dengan komitmen tinggi dalam mengatasi persoalan gizi anak.
“Saya sangat mengapresiasi antusiasme dan kerja nyata para Ketua TPPS, termasuk dari Gowa. Ini bentuk kolaborasi lintas sektor yang sangat dibutuhkan dalam memperkuat ketahanan gizi nasional,” ujar Henky.
Henky menyoroti bahwa tantangan gizi di Indonesia kini tidak hanya pada stunting, tetapi juga meningkatnya obesitas anak yang menjadi ancaman baru di tengah pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, investasi di sektor gizi merupakan fondasi penting dalam membangun generasi emas Indonesia 2045.
“Masalah kekurangan dan kelebihan gizi berdampak langsung terhadap kualitas tumbuh kembang anak. Maka, investasi gizi harus dipandang sebagai strategi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia,” tegasnya.
Lokakarya ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor dalam merancang program gizi yang terintegrasi dan berkelanjutan. Dalam forum tersebut, dipaparkan bahwa angka stunting di Sulawesi Selatan berhasil turun dari 27,4 persen pada 2019 menjadi 23,3 persen pada 2023.
Henky menyebut capaian tersebut sebagai bukti nyata dari kerja kolaboratif berbagai pihak.
“Penurunan ini tidak lepas dari keterlibatan banyak elemen—pemerintah, organisasi internasional, hingga komunitas. Ini harus terus dijaga dan ditingkatkan,” katanya.
Turut hadir dalam kegiatan ini antara lain Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Selatan yang mewakili Wakil Gubernur Sulsel, Direktur Jenewa Institute Surahmansah Said, Kepala Bappeda Gowa Sujjadan, Kepala Dinas Kesehatan Gowa drg. Haris Usman, serta Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan KB Gowa Sofyan Daud.
News Feed
RMS Jadi Magnet Gelombang Kader Baru, Lutfi Halide dan Rezki Mufliati Gabung PSI
31 Januari 2026 16:43
APCAT Summit, Hasanuddin CONTACT Dorong Program Pengendalian Tembakau di Kota Makassar
31 Januari 2026 15:51
Berita Populer
31 Januari 2026 08:38
31 Januari 2026 08:47
31 Januari 2026 11:46
31 Januari 2026 12:32
31 Januari 2026 14:13
