Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Jumat, 20 Januari 2023 21:49

Kepala BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani, saat Rapat Perencanaan Pengadaan Alokon, di Hotel Grand Imawan Makassar, Jumat, 20 Januari 2023.
Kepala BKKBN Sulsel, Andi Ritamariani, saat Rapat Perencanaan Pengadaan Alokon, di Hotel Grand Imawan Makassar, Jumat, 20 Januari 2023.

BKKBN Sulsel Gandeng BPKP Mitigasi Resiko Pengadaan Alokon

Pengadaan alokon ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat guna mendukung pencapaian sasaran program, seperti TFR, CPR dan Unmeet Need.

MAKASSAR, BUKAMATA - Guna mengidentifikasi resiko dalam proses pengadaan Alat dan Obat Kontrasepsi (Alokon) tahun 2023, Perwakilan BKKBN Provinsi Sulsel menggandeng Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Provinsi Sulsel melakukan pendampingan dan mitigasi resiko dalam pengadaan alokon.

Kegiatan Rapat Perencanaan pengadaan alokon ini diikuti tim pengadaan alokon serta perwakilan komponen bidang lingkup BKKBN Sulsel, di Hotel Grand Imawan Makassar, Jumat, 20 Januari 2023.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sulsel, Andi Ritamariani, mengatakan, pendampingan BPKP dalam proses pengadaan alokon sebagai komitmen mewujudkan ZI-WBK di BKKBN Sulsel dan upaya mewujudkan proses pengadaan alokon sesuai aturan.

"Saya berharap seluruh peserta dapat memberikan masukan dalam pengadaan alokon ini, sehingga apa yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan resiko kesalahan bisa kita minimalisir bersama, ujar Andi Rita

Andi Rita mengimbau agar panitia memperhatikan setiap tahapan pengadaan, mencakup proses perencanaan, perkiraan, persiapan dan pasokan kebutuhan alokon.

"Seluruh proses pengadaan agar diidentifikasi secara baik, harus sesuai aturan, lakukan analisis harga dan kebutuhan, lakukan perhitungan jumlah kebutuhan secara tepat, termasuk alur pengiriman dan penerimaan alokon," pesannya.

Ditambahkan, pengadaan alokon dilakukan untuk menjamin ketersediaan pasokan di fasiltas kesehatan, sebagai bentuk pelayanan prima kepada masyarakat guna mendukung pencapaian sasaran program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting (PPS).

"Pengadaan alokon ini untuk memenuhi kebutuhan masyarakat guna mendukung pencapaian sasaran program kita, seperti TFR, CPR dan Unmeet Need," ujar Andi Rita.

Ia berharap agar pihak BPKP Sulsel memberikan penguatan dan pendampingan terhadap proses pengadaan alokon yang akan dilaksanakan pada Bulan Januari ini.

"Banyaknya permintaan darurat tahun lalu mengindikasikan perlu dilakukan perhitungan ulang secara tepat tiap kabupaten kota. Kita berharap permintaan darurat serupa dapat kita minimalisir di tahun ini," tutup Andi Rita.

Mewakili BPKP Sulsel, Tunggul Simajuntak, mengatakan, mitigasi resiko pengadaan alokon penting dilakukan untuk mengidentifikasi kendala dan hambatan dalam pelaksanaan pengadaan.

"Sebelum dilaksanakan, setiap kegiatan penting dilakukan mitigasi resiko, tujuannya untuk mengetahui serta menghindari kesalahan yang mungkin terjadi dalam proses pelaksanaan pengadaaan," terang Tunggul.

Tunggul menambahkan, mengelola resiko meliputi seluruh tahapan pengadaan. Baik pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan distribusi, serta melakukan monitoring dan evaluasi di lapangan.

"Dalam proses pengadaan alokon, tim pengadaan harus menyusun spesifikasi teknis dan Harga Perkiraan Sendiri atau HPS oleh PPK dengan mempertimbangkan harga pasar yang ada," terangnya.

Untuk mencegah terjadinya persoalan, lanjut Tunggul, perlu meningkatkan peran APIP dalam pengendalian internal dan pengawasan instansi. Selain itu, koordinasi dengan pihak BPKP dan Kejaksaan untuk supervisi kegiatan. (*)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#BKKBN Sulsel #BPKP #Andi Ritamariani #Pengadaan alokon