Aswad Syam
Aswad Syam

Jumat, 27 Agustus 2021 15:17

H Cale dan Hj Tombong melintas dwngan kudanya.
H Cale dan Hj Tombong melintas dwngan kudanya.

Romantis! Pasutri Lansia Penunggang Kuda di Bulukumba Bikin Iri Anak Milenial

Pasangan renta ini masih sangat romantis. Naik kuda berdua. Suami memegang tali kekang, istri memeluk dari belakang.

BUKAMATA, BULUKUMBA - Pasangan suami istri penunggang kuda ini menyita perhatian kumpulan pesepakbola jurnalis di Bulukumba. Saat laga berlangsung sengit, keduanya melintas di jalan di depan SMP 40 Bulukumba, desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale.

Kuda berponi bewarna cokelat gelap yang ditunggangi berjalan perlahan di depan masjid Al Azhar kompleks SMP 40. Dua utas tali dipegang suami yang bernama Haji Cale. Usianya sekira 70 tahun. Istrinya begitu setia di belakangnya bernama Hajjah Tombong, selisih usia 10 tahun dengan sang suami. Diperkirakan memasuki usia 60 tahun.

Pasangan lansia ini baru saja pulang dari kebun. 5 kilometer dari rumahnya di desa kampung Boring Dasi desa Bontomanai, Kecamatan Rilau Ale. Pasangan romantis ini memang tak mengenal kendaraan modern. Hanya menunggang kuda sejak berpuluh tahun lalu.

Haji Cale begitu ceria menunggang. Wajahnya semringah. Sesekali berbicara dengan sang istri yang begitu rekat di belakangnya. Tanpa alas kaki, dan berpakaian sederhana, layaknya dari kebun.

Hentakan kaki kuda begitu dinikmati. Perlahan menyusuri jalan bebatuan di Desa Borong Dasi. Sekira 2 Kilometer dari Trans Sulawesi Bulukumba-Sinjai.

Dua buah karung berisi hasil kebun. Biasanya berisi kelapa tua, atau sayur mayur. Kadang pula membawa pulang jagung muda untuk disantap di kediamannya.

Rumahnya sederhana di Borong Dasi. Rumah Panggung dengan ukuran seadanya. Tinggal berdua setelah sang buah hati berpisah rumah karena telah berkeluarga. Anaknya lima orang, 4 perempuan dan 1 orang lelaki yang menjadi kepala dusun di daerahnya.

Haji Cale dan Hajjah Tombong dikenal warga sebagai sosok sederhana. Tak bergelimpangan harta di rumahnya, meski memiliki lahan kering dan basah yang cukup luas untuk dijadikan ladang penghasilan.

Dari hasil bertani dan berkebun itu juga dijadikan biaya untuk anaknya menempuh pendidikan tinggi. Lima anaknya pun sudah berhasil meski hanya dari hasil berkebun.

Keromantisan pasangan renta ini membuat iri anak muda sekarang. Bagaimana tidak, perjalanannya berpuluh tahun ini didampingi istri tercinta, suka dan duka. Kadang pulang dari kebunnya dalam gelap gulita. Hanya menunggangi kuda.

Agar sang istri tidak kelelahan, kadang ia hanya berjalan kaki sedangkan istrinya duduk cantik di atas pelana. Sedangkan Haji Cale Menggenggam tali kekang dan berjalan kaki agar kudanya tak salah jalan.

Ida, salah seorang kerabat Pasutri Lansia ini, mengakui sosok sederhana itu. Sejak dulu memang dikenal sederhana dan penyabar. Berbicara seadanya, dan santun kepada semua orang.

"Sabar memang dia. Dari dulu juga selalu naik kuda ke kebunnya. Kadang naik.kida bersama, kadang masing-masing menunggangi kuda," kata Ida.

Pasutri ini kata Ida dikenal gigih oleh masyarajat setempat. Tak berneko-neko dan tidak tersentuh modernisasi yang kental.

"Dia memang dak suka naik motor. Kadang hanya dibonceng sama anaknya. Selaluji naik kuda kalau ke kebunnya biar jauh," kata Ida lagi.

Saat foto pasutri ini tersebar di sosial media, sejumlah netizen terharu. Mereka mengakui keromantisan keduanya. Setia dan sederhana.

Foto keduanya menunggang kuda diabadikan oleh salah seorang jurnalis Bulukumba. Saat diunggah di sosial media pun mendapat tanggapan positif.

Penulis : Rey Yudistira
#Romantis #kisah haru