Ririn
Ririn

Kamis, 08 April 2021 09:28

Ilustrasi
Ilustrasi

Iran Telah Memproduksi 55kg Uranium yang Diperkaya 20%

Langkah tersebut sesuai dengan undang-undang yang mewajibkan Iran untuk mulai memperkaya hingga 20%

BUKAMATA - Iran telah membuat 55 kg uranium yang diperkaya hingga 20%, kata pihak berwenang Iran pada hari Rabu (07/04/2021).

Pengungkapan itu terjadi sehari setelah Teheran dan Washington mengadakan apa yang mereka gambarkan sebagai pembicaraan tidak langsung yang "konstruktif" di Wina, yang bertujuan menemukan cara untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015.

Langkah tersebut sesuai dengan undang-undang yang mewajibkan Iran untuk mulai memperkaya hingga 20% dan menetapkan bahwa setidaknya 120 kg uranium yang dimurnikan ke tingkat itu dibuat setiap tahun, yang berjumlah 10 kg sebulan.

"Tingkat produksi Iran sudah sampai 40 persen," kata juru bicara Organisasi Energi Atom Behrouz Kamalvandi, seperti dikutip Reuters.

“Dalam waktu kurang dari empat bulan kita sudah memproduksi 55 kg uranium yang diperkaya 20% ... dalam waktu sekitar delapan bulan kita bisa mencapai 120 kg,” tambahnya.

Uranium dianggap sangat diperkaya dengan 20%.

Iran secara konsisten mengurangi kepatuhannya pada kesepakatan 2015 sebagai tanggapan atas langkah mantan Presiden Donald Trump menarik AS dari kesepakatan itu pada tahun 2018.

Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengatakan dalam sebuah laporan baru pekan lalu bahwa Iran telah mulai memperkaya uranium dengan kaskade keempat, atau cluster, mesin IR-2m canggih di pabrik bawah tanah Natanz, yang jelas melanggar ketentuan kesepakatan 2015.

Pelanggaran tersebut dilihat sebagai langkah Teheran untuk menekan Presiden AS Joe Biden agar membawa Washington kembali ke perjanjian tersebut.

Biden telah menyatakan keinginan untuk kembali ke kesepakatan tetapi telah menekankan bahwa Iran harus memperlihatkan kepatuhan, sebelum negosiasi dimulai.

AS baru-baru ini menerima tawaran Eropa untuk menengahi percakapan dengan Iran terkait kesepakatan nuklir 2015.

Iran, bagaimanapun, menolak proposal tersebut , mengklaim bahwa "waktunya tidak tepat" untuk mengadakan pembicaraan semacam itu.

#Iran