MAKASSAR, BUKAMATA - Innalillahi wa inna ilaihi roji'un. Dunia kedokteran kembali berduka. Ikatan dokter Indonesia (IDI) kembali kehilangan dokter terbaiknya. Dr dr Adnan Ibrahim, SpPD, berpulang sebelum magrib, di hari baik, Jumat, 14 Agustus 2020. Almarhum meninggal dalam usia 47 tahun di Rumah Sakit Wahidin Sudirohusodo, Makassar.
Di depan peti jenazahnya yang berwarna putih, seorang wanita berhijab hitam berdiri tegar. Suaranya lantang dari balik masker. Berusaha tegar di samping putranya, Rahmat yang berpakaian APD lengkap.
Dia memohonkan maaf suaminya di depan teman-teman sejawat. Berharap, almarhum pergi tanpa meninggalkan utang. Sesekali suaranya tercekat di sela-sela sambutannya. Dia bersyukur, hingga akhir hayatnya, sang suami tak pernah meninggalkan wudu dan salat. Bahkan saat sakaratul maut, almarhum tetap menyempatkan salat.
Baca Juga :
"Kalau ada salahnya dokter Adnan, tolong dimaafkan ya," ujarnya tercekat.
Di ujung sambutannya, wanita berhijab hitam itu terus menepuk pundak putranya. Seakan memberi kekuatan untuk tegar.
Salah seorang teman sejawat almarhum, dr Wachyudi Muchsin SH, juga menceritakan bagaimana perjalanan almarhum saat sakit hingga berpulang.
Dokter Yudi, sapaan Humas IDI Kota Makassar itu, mengaku tersentak dengan berita kepergian dr Adnan. Menurutnya, senior yang sangat mencintai profesinya itu, berjuang di episentrum pandemi saat ikut terkena Covid-19.
"Dan aku diperjalankan untuk mengikuti kisahmu secara online. Dan kisah tentang kebaikan-kebaikanmu, seperti sejak dulu, selalu saja tetap mengalir," tulis dr Yudi.
Dr Yudi menulis, pada hari kedua dr Adnan menjalani perawatan di ruang IC-Covid, dipasanglah masker yang menutup wajah, yang terhubung mesin ventilator non-invasive.
"Terasa berat sudah nafasmu, tak leluasa juga untuk berbicara. Tapi di saat begitu, engkau masih menyempatkanmengirim isyarat untuk istri tercinta di depanmu. Di tautkan ujung telunjuk kanan kiri serta jempol tangan kanan kirimu, sebuah pertanda simbolik yang bermakna : I love You : (My beloved Wife)," tulis dr Yudi.
Hari kedelapan lanjut dr Yudi, dr Adnan masuk ICU. Masih terjaga baik kesadarannya saat itu. Dengan nafas yang makin terasa berat, dia masih sempat melihat pasien yang tergeletak tak berdaya di sampingnya, dengan pandangan penuh sayang dan rasa empati.
Dari balik masker snorkle, dia berbisik ke telinga istrinya, “Mi, tolong belikan pakaian pasien di sebelah saya, kasihan kainnya sering tersingkap”.
Hari kesembilan. Mesin ventilator yang non-invasive sudah tak mampu lagi mengkompensasi kebutuhan nafas dr Adnan yang semakin tambah memberat. Tim dokter ICU memutuskan mengintubasi.

Dr Adnan meminta waktu sejenak, untuk salat subuh di atas ranjang dua rakaat, sebelum tindakan besar ini diberikan kepadanya. "Salat yang senantiasa berpuluh tahun engkau jalani sebagai wujud kesetiaanmu sebagai seorang hamba pada khaliqNya, terasa sangat intimasi suasananya di pagi itu," tulis dr Yudi.
"Kalau engkau pernah bilang di WAG, 'tolong cari saya di akhirat nanti bila nasib saya tidak beruntung...' tapi... sekarang kami semua yang semakin yakin sepenuhnya bahwa kami yang malah berharap engkau menemukan kami nanti di kehidupan akhirat nanti," tulis dr Yudi.
"Insya Allah engkau syahid Senior dan sejawat kami...," tutup dr Yudi.