MAMASA, BUKAMATA - Kehidupan yang semakin sulit di tanah rantau Makassar, membuat Paulus Genggong, memboyong istri dan dua anaknya, pulang kampung ke Desa Satanetan, Kecamatan Sesenapadang, Kabupaten Mamasa.
Dia sudah menyusun rencana-rencana indah untuk membangun masa depannya di desanya. Saat hendak menjalani karantina di rumahnya, warga menolak.
Warga khawatir, Paulus akan menularkan virus corona. Paulus, istri dan anaknya, mengalah. Mereka terpaksa tinggal di gubuk sawah. Mereka rela hidup kekurangan.
Baca Juga :
Sudah empat hari, Paulus mengajak istri dan kedua anaknya yang masih belia, tinggal digubuk sawah berukuran dua kali tiga meter, jauh dari pemukiman warga.
Paulus mengaku akan berkebun, dengan menanam tanaman jangka pendek, guna memenuhi kebutuhan istri dan anaknya.
"Mungkin saya akan berkebun dengan menanam tanaman jangka pendek," ungkap Paulus.
Kepala Desa Satanetan, Soleman mengatakan, mau bagaimana lagi. Awalnya rencananya Paulus akan ditempatkan di sekolah, tapi warga juga tidak setuju karena tetap di tengah-tengah masyarakat.
"Jadi serba salah kita," ujar Soleman.
Pasca kisahnya viral di media sosial, bantuan sosial terus berdatangan. Mereka prihatin terhadap kehidupan yang dijalani Paulus.
Seperti Minggu, 26 April 2020, tampak beberapa warga menyusuri jalan-jalan setapak di daerah berbukit, demi untuk mencapai gubuk yang ditinggali Paulus.