Sebuah ilustrasi sederhana menggambarkan lima pintu yang berjajar. Di atas masing-masing pintu tertulis kalimat yang sangat dekat dengan perilaku kita sehari-hari: “Untuk Mengkritik”, “Untuk Bergosip”, “Untuk Ikut Campur Tangan”, “Untuk Memberi Semangat”, dan “Untuk Membantu”. Ketika mata kita menelusuri antrean di depan pintu-pintu itu, tampak kontras yang menyentak: pintu kritik dan gosip penuh sesak; pintu ikut campur masih lumayan ramai; tetapi pintu memberi semangat dan membantu hampir kosong. Hanya satu-dua orang yang berdiri di sana. Pesannya sangat jelas: banyak orang tertarik hadir ketika bisa berbicara, menilai, atau ikut urusan orang lain; tetapi sangat sedikit yang mau datang ketika dibutuhkan aksi nyata, dukungan, dan kerja sunyi.
Ilustrasi itu mungkin tampak lucu, tetapi sesungguhnya ia adalah cermin sosial kita. Bukankah di dunia nyata kita melihat hal yang sama? Ketika ada kesalahan sedikit saja di lingkungan sekolah, kampus, pesantren, atau organisasi, komentar cepat bermunculan. Media sosial langsung ramai, grup WhatsApp mendadak aktif, semua orang punya pendapat. Namun ketika masalah itu harus diselesaikan—ketika kita harus menemui pihak yang salah, menenangkan korban, membuat laporan, atau menyiapkan solusi—tidak semua orang tetap bertahan. Keramaian tiba-tiba menyusut. Yang tinggal hanyalah mereka yang memang terbiasa beramal. Dari sinilah muncul kalimat yang menjadi judul tulisan ini: ramai di pintu kritik, sepi di pintu amal.
Pertanyaan yang harus kita ajukan adalah: mengapa perilaku seperti ini begitu mudah muncul? Jawabannya bukan semata-mata karena manusia sekarang “kurang baik”, tetapi karena pendidikan karakter kita belum sungguh-sungguh menyiapkan manusia untuk memilih jalan yang sunyi itu. Kita cukup berhasil membuat orang tahu bahwa menolong itu mulia, memberi semangat itu penting, dan menutup aib itu dianjurkan. Tetapi kita belum cukup berhasil membuat mereka terbiasa melakukannya. Kita menumbuhkan “pengetahuan moral” tetapi belum mengokohkan “kemauan moral”.
Perlu diakui, mengkritik itu ongkosnya murah. Ia tidak menuntut tenaga, tidak butuh dompet, dan tidak menuntut keberanian sosial. Di dunia digital, cukup dengan jempol dan kuota, seseorang sudah bisa tampil seolah pembela kebenaran. Bergosip pun begitu. Ia memberi rasa “terhubung”, memberi sensasi tahu lebih dulu, tapi tanpa kewajiban memperbaiki. Sebaliknya, membantu dan memberi semangat itu ongkosnya mahal. Kita harus datang, harus mendengar, kadang harus mengalah, kadang harus mengeluarkan biaya, bahkan mungkin harus siap disalahpahami. Itulah sebabnya pintu amal selalu lebih sepi: ia memerlukan karakter, bukan sekadar wacana.
Di titik ini, kita harus jujur bahwa pendidikan kita masih terlalu kognitif-sentris. Banyak siswa, mahasiswa, bahkan orang dewasa bisa menjelaskan ayat tentang ta’?wanu ‘alal birri wat-taqw?, bisa mengutip hadis tentang menutup aib, bisa menuliskan esai tentang empati, tetapi ketika ada teman yang terjatuh, mereka lebih memilih mengomentari daripada mengangkat. Artinya, yang lemah bukan konsep akhlaknya, melainkan latihan akhlaknya. Padahal, para pakar pendidikan karakter menegaskan bahwa karakter itu terdiri dari tiga unsur yang tidak boleh terpisah: moral knowing (tahu yang baik), moral feeling (mencintai yang baik), dan moral action (mengerjakan yang baik). Kita berhenti di yang pertama.
Lalu, bagaimana agar masyarakat—terutama umat Islam dan komunitas pendidikan—tidak berhenti di pintu kritik? Pertama, kita perlu mengalihkan arus dari komentar ke kontribusi. Di ruang-ruang belajar, jangan hanya memberi tugas menulis tentang akhlak, tetapi beri juga tugas mempraktikkan akhlak. Misalnya: tugas mengunjungi teman yang sakit, mendampingi teman yang tertinggal dalam mata kuliah Metode Penelitian, membantu guru membuat media pembelajaran PAI, atau menjadi relawan di kegiatan masjid. Semakin sering peserta didik “masuk” ke pintu amal, semakin mudah pintu itu menjadi kebiasaan.
Kedua, teladan harus tampak. Anak, santri, dan mahasiswa akan jauh lebih mudah datang ke pintu membantu kalau mereka melihat gurunya sudah ada di sana. Dosen yang mau membimbing mahasiswa lemah, kepala madrasah yang turun langsung saat ada problem, ustaz yang ikut memikul karung sembako untuk warga, semuanya adalah dakwah karakter yang lebih fasih daripada ceramah. Akhlak itu lebih kuat jika ditunjukkan, bukan hanya diajarkan.
Ketiga, kebaikan harus diapresiasi. Salah satu sebab orang ramai di pintu kritik adalah karena kritik itu cepat terlihat. Sementara perbuatan baik sering tidak kelihatan dan tidak dipuji. Lembaga pendidikan, ormas, kampus, dan pesantren perlu menampakkan dan merayakan kebaikan—bukan untuk riya’, tetapi untuk membentuk budaya. Anak yang melihat kebaikan dihargai akan lebih mudah mengulanginya.
Keempat, etika bermedia harus diajarkan sebagai bagian dari pendidikan agama. Banyak kerumunan kritik dan gosip sekarang terjadi di ruang digital. Padahal Al-Qur’an sudah mengajarkan tabayyun (QS. al-?ujur?t:6), larangan ghibah (QS. al-?ujur?t:12), dan adab bertetangga serta menjaga kehormatan. Semua itu harus diterjemahkan ke bahasa media sosial: jangan sebarkan sebelum cek, jangan permalukan sebelum klarifikasi, dan jangan jadikan tragedi orang lain sebagai bahan hiburan. Inilah wujud akhlaq al-kar?mah di era digital.
Kelima, orientasi amal harus diangkat ke level ibadah. Selama membantu hanya dianggap pekerjaan sosial, orang akan memilih aktivitas yang lebih “terlihat”. Tetapi ketika membantu dipahami sebagai ibadah, sedekah tenaga, dan bukti cinta kepada sesama, orang akan lebih mudah memilih pintu yang sepi itu. Di sinilah peran dakwah dan PAI: mengikat amal sosial dengan orientasi ilahiah.
Sebagai muslim, kita sebenarnya sudah memiliki landasan teologis yang sangat kuat. Rasulullah ? bersabda, “Khairun-n?si anfa‘uhum lin-n?s”—sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain. Hadis ini, kalau benar-benar ditanamkan, akan memindahkan kita dari kerumunan kritik ke barisan amal. Karena ukuran “baik” di sini bukan seberapa sering kita berkomentar, tetapi seberapa besar manfaat kita bagi orang lain. Begitu pula firman Allah: “berlomba-lombalah dalam kebaikan". Berarti kebaikan itu seharusnya ramai. Kalau yang ramai justru pintu gosip dan kritik, berarti ada yang terbalik dalam pendidikan kita.
Karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri. Tanyakan dengan jujur: selama ini saya lebih sering di pintu mana? Apakah saya termasuk orang yang muncul ketika ada masalah untuk dikomentari, tetapi menghilang ketika masalah itu harus diselesaikan? Apakah saya lebih suka menyebarkan kekurangan orang lain, daripada mengulurkan tangan? Kalau iya, mari kita pindah pintu sekarang juga.
Ya Allah, jadikan lisan kami lisan yang memperbaiki, bukan melukai. Jadikan hati kami hati yang mudah tergerak menolong, bukan mudah bersenang-senang di atas luka orang lain. Ajari kami memilih pintu yang Engkau ridai, meski pintu itu sepi. Kuatkan guru-guru kami, dosen-dosen kami, dan para pendidik di negeri ini untuk menjadi teladan amal, bukan hanya teladan kata. Satukan keluarga, sekolah, kampus, dan pesantren kami dalam budaya membantu, bukan budaya menghakimi.
?m?n y? Rabbal ‘?lam?n.
Editor : Redaksi