Pengurus KTNA Luwu Utara Dilantik, Bupati Andi Rahim Tantang Petani Terus Berinovasi
19 Oktober 2026 16:17
Pemkab Sidrap menghadapi El Niño dengan optimalisasi irigasi, pompanisasi, pengaturan pola tanam, dan pendataan sawah untuk memperkuat produksi pangan nasional.
SIDRAP, BUKAMATANEWS — Ancaman El Niño dan kemarau berkepanjangan memaksa pemerintah daerah memperkuat strategi menjaga produksi pangan. Pemerintah Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan, mengandalkan pengaturan pola tanam, optimalisasi distribusi air irigasi, hingga pemanfaatan teknologi pompanisasi untuk mempertahankan produktivitas lahan pertanian.

Bupati Sidrap, Syaharuddin Alrif, menegaskan strategi tersebut saat menghadiri Rapat Rutin Penyuluh Pertanian yang dirangkaikan dengan Rapat Koordinasi Program Kementerian Pertanian, pemantapan pelaksanaan PM-AAS, dan penguatan kelembagaan petani di Aula Saromase, Kantor Bupati Sidrap, Senin (19/10/2026).
Kegiatan itu dihadiri Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, Perkebunan, dan Ketahanan Pangan Ibrahim, para penyuluh pertanian lapangan (PPL), ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), serta pemangku kepentingan sektor pertanian lainnya.
Syaharuddin mengatakan, pengalaman menghadapi kemarau panjang menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan petani untuk memperbaiki manajemen air, memperkuat koordinasi, serta meningkatkan efektivitas pola tanam.

Menurutnya, menjaga keberlanjutan produksi pangan membutuhkan kerja bersama antara pemerintah daerah, penyuluh, dan petani. Setiap kebijakan harus disesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan air di wilayah masing-masing.
Salah satu langkah yang ditempuh Pemkab Sidrap ialah mengoptimalkan distribusi air irigasi melalui pemetaan sumber air dan penyesuaian jadwal penyaluran. Pemerintah daerah bersama tim Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) berupaya memastikan air menjangkau lahan yang paling membutuhkan.
Di wilayah Pitu Riawa, misalnya, air dari Bulu Cenrana dialirkan hingga sekitar 18 kilometer untuk membantu menyelamatkan tanaman petani. Dari sekitar 7.800 hektare lahan pertanian di wilayah tersebut, lahan yang mengalami kegagalan akibat kekeringan dilaporkan sekitar 170 hektare.
Upaya serupa dilakukan di Mojong, Empagae, Sidenreng, Walatedong, dan Arateng dengan memanfaatkan aliran air dari Danau Sidenreng untuk mendukung kebutuhan pengairan persawahan.
Syaharuddin menilai keberhasilan penanganan kekeringan sangat bergantung pada kemampuan seluruh unsur pemerintahan menyatukan sumber daya dan bergerak sesuai kebutuhan di lapangan.
“Ini saya sebut orkestrasi pemerintahan, kekuatan kita satukan,” ujar Syaharuddin.
Selain mengoptimalkan jaringan irigasi, inovasi pompanisasi juga dilakukan petani di Bola Bulu. Mereka memanfaatkan pompa berdaya 110.000 watt untuk mengalirkan air dari Sungai Bila–Bulu Cenrana guna mengairi sekitar 160 hektare lahan pertanian.
Meski biaya operasional pompa mencapai Rp42 juta per bulan, langkah tersebut menjadi salah satu upaya mempertahankan pertanaman ketika pasokan air terbatas.
Benahi Pola Tanam dan Data Luas Sawah
Selain pengelolaan air, Pemkab Sidrap akan mendorong penerapan pola tanam sesuai standar Kementerian Pertanian. Pengaturan musim tanam dinilai penting agar pemanfaatan lahan lebih optimal dan risiko kekeringan terhadap tanaman dapat ditekan.
Pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada akurasi data luas sawah. Mulai 2027, Pemkab Sidrap berencana mengalokasikan tambahan anggaran operasional bagi setiap Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) untuk mendukung pendataan ulang lahan hingga tingkat dusun dan desa.
Pembenahan data tersebut ditujukan untuk memperjelas luasan lahan pertanian sekaligus menyelaraskan data pemerintah daerah dengan statistik nasional. Dengan data yang lebih akurat, perencanaan program, penyaluran dukungan, dan evaluasi produksi diharapkan menjadi lebih tepat sasaran.
Syaharuddin menegaskan, Sidrap tidak hanya ingin mempertahankan perannya sebagai salah satu kawasan pangan nasional, tetapi juga meningkatkan posisi dalam produksi beras Indonesia.
“Tujuan supaya tahun 2028 saya tidak mau lagi ranking 20, saya mau Sidrap masuk lima besar seluruh Indonesia, karena persoalan data,” tegasnya.
Bagi Sidrap, tantangan El Niño bukan semata persoalan cuaca, melainkan juga ujian terhadap kesiapan infrastruktur air, ketepatan pola tanam, serta koordinasi seluruh pihak yang terlibat dalam sektor pertanian.
Karena itu, pemerintah daerah mendorong penyuluh pertanian untuk terus mendampingi petani, menyampaikan informasi teknis, dan memastikan kebijakan yang diterapkan sesuai kondisi lapangan.
Melalui kombinasi pengelolaan air, pompanisasi, pengaturan pola tanam, serta pembenahan data pertanian, Pemkab Sidrap berharap produktivitas lahan tetap terjaga meski menghadapi tekanan musim kemarau.
Langkah tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan daerah dan mempertahankan kontribusi Sidrap terhadap produksi beras nasional.
19 Oktober 2026 16:17
19 Oktober 2026 14:50
19 Oktober 2026 11:11
19 Oktober 2026 10:38
19 Oktober 2026 08:56
19 Oktober 2026 11:11
19 Oktober 2026 10:38
19 Oktober 2026 10:29