114 Lulusan ITP Dikukuhkan, Kampus Dorong Sarjana Jadi Pencipta Solusi dan Peluang
ITP mengukuhkan 114 lulusan pada Yudisium II 2026. Para sarjana didorong menjadi pencipta inovasi, peluang usaha, dan solusi yang berdampak bagi masyarakat.
TAKALAR, BUKAMATANEEWS – Sebanyak 114 mahasiswa Institut Teknologi Pertanian (ITP) resmi menyandang gelar sarjana setelah menyelesaikan pendidikan selama delapan semester. Menariknya, capaian para lulusan tidak hanya ditandai dengan keberhasilan akademik, tetapi juga kiprah mereka dalam menghasilkan inovasi, mengembangkan usaha, hingga menyelesaikan persoalan nyata di tengah masyarakat.

Hal tersebut terungkap dalam pelaksanaan Yudisium II ITP yang digelar di Aula Kampus ITP, Sabtu (29/8/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Pembina dan Ketua Yayasan Global Panrita selaku lembaga penyelenggara ITP, Rektor dan Wakil Rektor ITP, dosen, serta mahasiswa.
Dari 114 mahasiswa yang dinyatakan berhak menyandang gelar sarjana, sebanyak 69 orang merupakan Sarjana Pertanian (S.P.), 12 Sarjana Perikanan (S.Pi.), 13 Sarjana Peternakan (S.Pt.), dan 20 Sarjana Bisnis Digital (S.Bns.).
Ketua Yayasan Global Panrita, Dr. Nurdin, mengapresiasi kinerja Rektor bersama seluruh civitas akademika ITP yang dinilai berhasil menjalankan proses pendidikan tinggi sesuai dengan target yayasan.

Menurutnya, sejak berdiri pada 2020, ITP terus menunjukkan perkembangan, baik dari sisi jumlah mahasiswa maupun kualitas proses pembelajaran. Perkembangan tersebut pada akhirnya bermuara pada lahirnya lulusan yang mampu memberikan kontribusi nyata di tengah masyarakat.
“ITP telah berdiri tahun 2020. Sejak itu mahasiswa terus bertambah, perkuliahan berjalan dengan baik dan akhirnya menghasilkan lulusan yang membanggakan karena lulusannya memberi dampak nyata di masyarakat,” ujar Nurdin.
Ia menegaskan, keberadaan ITP di Kabupaten Takalar tidak hanya diperuntukkan bagi masyarakat lokal, tetapi terbuka bagi calon mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
“Ini karya kita bersama bagi pengembangan sumber daya manusia Indonesia. ITP walaupun berlokasi di Takalar tidak ditujukan untuk warga Takalar saja, tetapi untuk masyarakat Indonesia,” katanya.
Menurut Nurdin, hal tersebut terlihat dari sebaran mahasiswa ITP yang kini berasal dari berbagai daerah, mulai dari Sinjai, Jeneponto, Gowa, Takalar, Makassar hingga Sulawesi Barat. Bahkan, kata dia, saat ini terdapat calon mahasiswa yang mendaftar dari Pandeglang.
Terapkan Pembelajaran Berbasis Proyek dan Bukti
Sejalan dengan perkembangan kebutuhan dunia kerja dan masyarakat, ITP juga terus memperkuat metode pembelajaran yang tidak hanya berorientasi pada teori di ruang kelas.
Wakil Rektor I ITP Bidang Akademik, Dr. Abdullah, mengatakan proses pendidikan mahasiswa dilakukan dengan mengadopsi pendekatan pembelajaran terbaru, di antaranya Project Based Learning (PjBL) dan Evidence Based Learning (EBL).
Pendekatan tersebut mendorong mahasiswa untuk belajar melalui proyek, praktik, penyelesaian persoalan nyata, serta menghasilkan bukti atas proses dan capaian pembelajaran yang dilakukan.
“Penilaian tidak hanya mengandalkan aktivitas di kelas, tetapi menekankan pada praktik di lapangan, penyelesaian persoalan nyata, serta bukti yang dihasilkan mahasiswa,” jelas Abdullah.
Menurut dia, penerapan metode tersebut mulai terlihat dari kiprah sejumlah lulusan ITP yang telah mampu mengembangkan usaha di sektor pertanian, membuka jasa konsultan, menjalankan jasa servis peralatan elektronik, hingga menghasilkan berbagai inovasi dalam profesinya sebagai penyuluh pertanian dan aparat pemerintahan desa.
Tidak hanya itu, aktivitas mahasiswa selama menjalani program magang maupun Kuliah Kerja Nyata (KKN) juga mendapat apresiasi dari masyarakat di lokasi kegiatan.
ITP Targetkan Lulusan Jadi Pencipta Peluang
Rektor ITP, Dr. Irma Andriani, mengatakan keberhasilan pendidikan di ITP tidak semata-mata diukur dari nilai akademik atau kemampuan kognitif mahasiswa. Lebih dari itu, kampus berupaya memastikan setiap lulusan mampu menghasilkan sesuatu yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“Penilaian yang kami berikan sangat menekankan pada dampak yang dihasilkan mahasiswa. Kami bangga karena lulusan ITP tidak hanya belajar, tetapi telah menghasilkan inovasi, menjalankan usaha, menyelesaikan persoalan, dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Irma.
Ia menjelaskan, orientasi tersebut menjadi bagian dari upaya ITP mewujudkan konsep kampus berdampak yang dicanangkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).
Konsep tersebut sekaligus menjadi bagian dari arah pengembangan ITP sebagai School of Entrepreneurship. Melalui konsep itu, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi juga didorong agar mampu menciptakan peluang, membangun usaha, menghasilkan solusi, dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.
“Lulusan tidak hanya kami arahkan untuk siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang, menghasilkan solusi, membangun usaha, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat,” tegasnya.
Pelaksanaan Yudisium II ini pun menjadi salah satu penanda perjalanan akademik para mahasiswa ITP menuju dunia profesional. Dengan bekal pembelajaran berbasis proyek, pengalaman lapangan, serta penguatan jiwa kewirausahaan, para lulusan diharapkan mampu membawa kompetensi yang diperoleh di kampus untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus berkontribusi dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
News Feed
Sentil Pengendalian Karhutla, Partai Gelora: Tak Perlu Menhut Kalau Cuma Urus Pemadaman
30 Agustus 2026 14:55
Detik-Detik Tragis Pembalap Muda Malaysia Tewas di Lap 1
30 Agustus 2026 14:38
Berita Populer
30 Agustus 2026 14:55
30 Agustus 2026 14:38
30 Agustus 2026 15:07
30 Agustus 2026 18:04
