RSUD Daya Makassar Luncurkan GELIAT, Pasien Terlantar Kini Lebih Cepat Kembali ke Keluarga
RSUD Daya Makassar meluncurkan inovasi GELIAT untuk mempercepat penanganan dan pemulangan pasien terlantar melalui kolaborasi lintas instansi dan identifikasi biometrik.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Makassar meluncurkan inovasi Gerakan Empati Layanan Integrasi Aktif Terpadu (GELIAT) sebagai upaya mempercepat penanganan pasien terlantar, mulai dari proses perawatan hingga pemulangan kepada keluarga. Inovasi ini menjadi terobosan baru dalam pelayanan kesehatan yang mengedepankan kolaborasi lintas instansi untuk memastikan pasien tidak hanya sembuh secara medis, tetapi juga dapat kembali ke lingkungan keluarga dengan lebih cepat.

Direktur RSUD Daya Makassar, dr. A. Any Muliany, mengatakan inovasi tersebut lahir dari persoalan yang selama ini kerap dihadapi rumah sakit, yakni banyaknya pasien terlantar yang telah dinyatakan sembuh oleh dokter namun tidak bisa dipulangkan karena identitas maupun keberadaan keluarganya belum diketahui.
Menurutnya, sebagai rumah sakit milik Pemerintah Kota Makassar, RSUD Daya selama ini menjadi salah satu rumah sakit rujukan bagi warga terlantar yang ditemukan di jalan, termasuk pasien tanpa identitas yang membutuhkan penanganan medis segera.
"Selama ini setiap ada warga terlantar ditemukan di jalan tanpa identitas, hampir pasti dibawa ke RSUD Daya untuk mendapatkan pelayanan medis. Kendalanya muncul ketika pasien sudah dinyatakan sembuh tetapi belum diketahui harus dipulangkan ke mana," ujar dr. Any, Kamis (16/7/2026).
Pasien Sembuh, Namun Tak Bisa Pulang
Ia menjelaskan, sebelum adanya GELIAT, proses pemulangan pasien sering kali memerlukan waktu berhari-hari bahkan lebih lama karena rumah sakit harus menunggu proses pencarian identitas melalui Dinas Sosial dan instansi terkait.
Selama proses tersebut berlangsung, pasien tetap harus menempati ruang perawatan meski dokter telah mengizinkan pulang. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada pasien, tetapi juga memengaruhi efisiensi pelayanan rumah sakit.
"Dokter sudah menyatakan pasien boleh pulang, tetapi karena administrasi dan identitas belum jelas, pasien harus tetap tinggal beberapa hari lagi di rumah sakit," katanya.
Melalui GELIAT, RSUD Daya membangun sistem koordinasi terpadu bersama Dinas Sosial, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil), pemerintah kecamatan, pemerintah kelurahan, hingga berbagai instansi terkait lainnya.
Kolaborasi tersebut memungkinkan proses penelusuran identitas pasien dilakukan lebih cepat melalui pemeriksaan biometrik sehingga proses reunifikasi atau pemulangan kepada keluarga tidak lagi memakan waktu lama.
Berhasil Pulangkan Pasien Berkat Biometrik
Dr. Any menceritakan salah satu keberhasilan implementasi sistem tersebut. Seorang pasien yang ditemukan di jalan dalam kondisi sakit hanya mampu mengingat bahwa dirinya tinggal di kawasan Cenderawasih, Makassar, namun tidak mengetahui alamat lengkap maupun identitasnya.
Melalui koordinasi antara RSUD Daya, Disdukcapil, dan pemerintah wilayah, identitas pasien akhirnya berhasil ditemukan melalui pencocokan data biometrik.
"Begitu diketahui alamatnya di Makassar, pasien langsung diantar pulang ke rumahnya. Tidak perlu lagi menunggu lama. Ini menjadi kebahagiaan bagi kami karena pasien bisa kembali kepada keluarganya dan mendapatkan perawatan lanjutan di rumah," tuturnya.
Menurut dr. Any, keberhasilan mempercepat pemulangan pasien juga mengurangi risiko pasien kembali terlantar di jalan yang berpotensi menyebabkan kondisi kesehatannya kembali memburuk.
"Pasien bukan hanya membutuhkan dokter yang mengobati, tetapi juga membutuhkan lingkungan yang mendukung proses pemulihan setelah keluar dari rumah sakit," jelasnya.
Tingkatkan Efisiensi Pelayanan Rumah Sakit
Selain memberikan manfaat bagi pasien, GELIAT juga berdampak positif terhadap efektivitas pelayanan rumah sakit.
Dr. Any menjelaskan, setelah dokter menyatakan pasien telah sembuh, biaya perawatan tidak lagi dapat diklaim melalui program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Jika pasien masih tertahan karena persoalan administrasi, maka biaya konsumsi dan operasional selama pasien berada di rumah sakit menjadi beban rumah sakit.
Di sisi lain, tempat tidur yang masih ditempati pasien juga tidak dapat digunakan oleh pasien lain yang membutuhkan layanan kesehatan.
"Melalui GELIAT, proses pemulangan menjadi lebih cepat sehingga tempat tidur bisa segera dimanfaatkan pasien lain yang membutuhkan pelayanan," ujarnya.
Dikembangkan Menjadi Sistem Berbasis Web
Implementasi GELIAT mulai diterapkan pada Juli 2026. Saat ini koordinasi antarinstansi masih dilakukan melalui grup WhatsApp, namun RSUD Daya tengah mengembangkan aplikasi berbasis web untuk mengintegrasikan seluruh proses penanganan pasien terlantar.
Melalui sistem tersebut, pemerintah kecamatan, kelurahan, Dinas Sosial, Disdukcapil, hingga rumah sakit dapat memantau perkembangan penanganan pasien secara real time.
"Ke depan seluruh proses koordinasi akan dilakukan melalui aplikasi berbasis web sehingga lebih cepat dan lebih mudah dipantau. Apabila ditemukan warga terlantar di suatu wilayah, pemerintah kecamatan maupun kelurahan dapat langsung melaporkan kepada RSUD Daya," kata dr. Any.
Ia berharap inovasi GELIAT menjadi model pelayanan kesehatan yang tidak hanya mengutamakan kesembuhan pasien, tetapi juga memastikan setiap warga yang terlantar dapat kembali ke keluarganya dengan cepat melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan.
Dengan pendekatan tersebut, RSUD Daya Makassar ingin menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih humanis, responsif, dan terintegrasi, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, khususnya kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan dan perhatian lebih.
News Feed
Berita Populer
16 Juli 2026 12:02
16 Juli 2026 12:18
16 Juli 2026 12:54
16 Juli 2026 12:48
