Redaksi : Kamis, 09 Juli 2026 09:33

SEOUL, BUKAMATANEWS – Bagi turis yang berlibur ke Korea Selatan, menggunakan Google Maps untuk mencari arah berjalan kaki atau berkendara adalah hal yang mustahil. Aplikasi navigasi paling populer di dunia itu mendadak "lumpuh" begitu Anda menginjakkan kaki di Seoul. Google Maps hanya bisa digunakan untuk melihat ulasan restoran atau lokasi hotel, tanpa fitur navigasi dari titik A ke titik B.

Kondisi unik ini bukan karena Korea Selatan memblokir Google seperti yang dilakukan China. Melainkan akibat sengketa regulasi dan isu keamanan nasional yang berakar dari perang yang belum usai dengan Korea Utara.

Dikutip dari BGR, Kamis (9/7/2026), keterbatasan ini bersumber dari kebijakan ketat Seoul. Sejak gencatan senjata tahun 1950-an, Korea Selatan secara teknis masih dalam status perang dengan Korea Utara. Atas dasar keamanan negara, pemerintah melarang Google mengekspor data peta digital super-detail berskala 1:5.000 ke server luar negeri, karena khawatir lokasi pangkalan militer dan instalasi rahasia mereka terekspos.

Google sempat memprotes aturan ini. Raksasa teknologi AS itu berargumen bahwa gambar satelit militer toh sudah bisa diakses publik lewat layanan peta kompetitor. Namun, pemerintah Korsel tetap bergeming dan sempat menolak mentah-mentah permohonan Google.

Selain isu militer, sentimen sejarah masa lalu juga sempat memanaskan hubungan kedua pihak ketika Google kedapatan menggunakan penamaan bahasa Jepang untuk beberapa wilayah sensitif di Korea Selatan pada aplikasi Google Earth-nya.

Titik Terang di Awal 2026

Setelah negosiasi panjang, titik terang akhirnya muncul pada akhir Februari 2026 lalu. Pemerintah Korea Selatan dilaporkan resmi melunak dan sepakat mengizinkan Google mengekspor data peta presisi tinggi tersebut.

Namun, izin ini diberikan dengan syarat yang sangat ketat:

Google wajib memproses data peta di server lokal Korea Selatan terlebih dahulu sebelum diekspor.

Google harus menyensor (mengaburkan) seluruh pangkalan militer dan situs sensitif pada fitur Street View dan Google Earth.

Pemerintah Korsel berhak memantau dan meminta revisi data kapan saja.

Meski kesepakatan sudah diteken beberapa bulan lalu, hingga pertengahan Juli 2026 ini Google Maps ternyata belum juga berfungsi normal. Google tampaknya masih membutuhkan waktu untuk melakukan penyesuaian sistem demi memenuhi tuntutan keamanan super-ketat dari Seoul.

Nasib Apple Maps dan Solusi untuk Turis

Masalah ini ternyata tidak hanya menimpa Google. Sang rival, Apple Maps, juga mengalami nasib serupa karena belum mengantongi izin peta presisi tinggi dari pemerintah setempat. Satu-satunya aplikasi navigasi milik Google yang entah bagaimana tetap bisa berfungsi normal di sana hanyalah Waze.

Bagi wisatawan asing yang hendak berkunjung ke Korea Selatan dalam waktu dekat, ketergantungan pada Google Maps harus didepak jauh-jauh. Mau tidak mau, Anda harus mengunduh aplikasi navigasi lokal yang diizinkan oleh pemerintah Korsel, seperti:

Naver Maps: Pilihan utama turis karena sudah mendukung navigasi berbahasa Inggris penuh dan Street View.

KakaoMap: Sangat akurat untuk rute jalan kaki, bersepeda, hingga jadwal transportasi umum.

TMAP: Aplikasi favorit pengemudi lokal karena memproses data lalu lintas real-time dari 20 juta pengguna.

Sampai Google selesai menyensor pangkalan militer Korea Selatan di server mereka, tiga aplikasi lokal itulah yang menjadi juru selamat Anda agar tidak tersesat di Negeri Gingseng.