Dewi Yuliani : Selasa, 12 Mei 2026 15:30
Jaringan Geopark Indonesia (JGI) terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong pengembangan geopark di Indonesia melalui rangkaian safari audiensi ke sejumlah kementerian, lembaga nasional, hingga UNESCO Jakarta pada 6–8 Mei 2026.

JAKARTA, BUKAMATANEWS - Jaringan Geopark Indonesia (JGI) terus memperkuat langkah strategis dalam mendorong pengembangan geopark di Indonesia melalui rangkaian safari audiensi ke sejumlah kementerian, lembaga nasional, hingga UNESCO Jakarta pada 6–8 Mei 2026.

Safari audiensi yang dipimpin Ketua JGI, Dedy Irfan Bachri tersebut, menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi lintas sektor dalam mendukung keberlanjutan geopark sebagai kawasan konservasi, edukasi, dan penggerak ekonomi masyarakat.

Diketahui, Indonesia memiliki 12 UNESCO Global Geopark (UGGp), yang tersebar dari Pulau Sumatera hingga Papua. Salah satunya ada di Sulawesi Selatan, yakni Geopark Maros Pangkep.

Dalam keterangannya, Dedy menyebut kunjungan tersebut melibatkan para general manager dan perwakilan UGGp dari berbagai daerah di Indonesia.

Rangkaian audiensi dimulai pada Rabu, 6 Mei 2026, di Kementerian Kehutanan, tepatnya bersama Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) di Gedung Manggala Wanabakti, Jakarta. Pertemuan itu menghasilkan kesepahaman awal untuk mengintegrasikan program konservasi di kawasan kehutanan dengan pengelolaan geopark di berbagai daerah.

"Disepakati bahwa program konservasi di tingkat tapak akan dikolaborasikan dengan geopark melalui pembangunan kesepahaman bersama antara Kementerian Kehutanan dan Jaringan Geopark Indonesia," ujar Dedy.

Kerja sama tersebut rencananya akan diperkuat melalui penandatanganan nota kesepahaman atau MoU antara Kementerian Kehutanan dan JGI pada ajang Geofest Juli 2026 di kawasan Toba Caldera UNESCO Global Geopark. Langkah itu dinilai penting karena sebagian besar kawasan geopark di Indonesia memiliki keterkaitan langsung dengan kawasan konservasi dan kehutanan.

Audiensi kemudian berlanjut ke Kantor UNESCO Jakarta dan diterima langsung oleh Direktur UNESCO Regional Office Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa.

Dalam pertemuan itu, UNESCO Jakarta menyatakan dukungannya terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pengelola geopark melalui program workshop dan penguatan kelembagaan.

Penguatan SDM dianggap menjadi salah satu aspek penting dalam menghadapi tantangan pengelolaan geopark, terutama menjelang proses revalidasi UNESCO yang secara berkala dilakukan terhadap seluruh UNESCO Global Geopark.

Setelah itu, rombongan JGI melanjutkan audiensi ke Komite Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU) dan diterima Ketua Harian KNIU, Prof Ananto Kusuma Seta.

Pada hari kedua, Kamis 7 Mei 2026, JGI menjajaki peluang kerja sama dengan sektor swasta melalui audiensi di Menara Bumiputera Jakarta. Pembahasan difokuskan pada kemungkinan kerja sama asuransi untuk mendukung aktivitas outdoor dan geotrail di kawasan geopark yang dinilai memiliki potensi wisata petualangan cukup besar.

Masih di hari yang sama, JGI juga melakukan audiensi dengan Kementerian Lingkungan Hidup bersama Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati, Inge Retnowati. Dalam pertemuan tersebut, JGI mendorong penguatan identifikasi dan pendataan biodiversitas di seluruh geopark Indonesia sebagai bagian dari upaya konservasi berkelanjutan.

Safari audiensi ditutup pada Jumat, 8 Mei 2026, melalui pertemuan dengan Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas dan Badan Pusat Statistik di Jakarta.

Dalam forum tersebut, JGI mendorong percepatan revisi Peraturan Presiden Nomor 9 Tahun 2019 tentang Pengembangan Geopark Nasional, termasuk penguatan tata kelola kelembagaan dan pembukaan akses pendanaan internasional.

"Selain itu, dibahas pula peluang pendanaan melalui mekanisme filantropi, penyusunan coffeetable book geopark untuk para duta besar RI, hingga penyusunan data statistik geopark nasional yang mencakup angka kunjungan dan dampak pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar," ungkap Dedy.

Rombongan JGI diterima langsung oleh Menteri Bappenas, Kepala Badan Statistik RI, beserta jajaran pejabat terkait bidang sumber daya alam dan pertambangan.

Bagi JGI, rangkaian safari audiensi tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi geopark Indonesia sebagai kawasan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian alam, tetapi juga pembangunan berkelanjutan berbasis masyarakat.

"Indonesia saat ini menjadi salah satu negara dengan jumlah UNESCO Global yang cukup banyak di dunia, ada dua belas, sehingga membutuhkan dukungan lintas sektor agar pengelolaannya semakin profesional dan berdaya saing global," tutup Dedy. (*)