Redaksi
Redaksi

Sabtu, 09 Mei 2026 19:02

Publik Lecture Series Ketiga Pandu Negeri di Makassar: Anak Muda Diajak Baca Peta Global dan Bahaya "Pemilu Tanpa Demokrasi"

Publik Lecture Series Ketiga Pandu Negeri di Makassar: Anak Muda Diajak Baca Peta Global dan Bahaya "Pemilu Tanpa Demokrasi"

Ratusan anak muda di Makassar bahaya 'pemilu tanpa demokrasi' & rivalitas AS-China. Rocky Gerung sebut Indonesia alami 'homeless mind'.

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Ratusan anak muda dari berbagai kalangan memadati Universitas Negeri Makassar, Sabtu (9/5/2026), dalam gelaran Public Lecture Series ketiga yang diselenggarakan oleh Pandu Negeri. Dengan tema besar “Situasi Global dan Arah Politik Negeri: Generasi Muda dalam Konsep To Build The World Anew”, diskusi ini menghadirkan tiga pembicara kunci: Hamid Awaluddin, Rocky Gerung, dan Andi Luhur Prianto.

Demokrasi yang Dicuri di Kotak Suara

Pembicara pertama, Andi Luhur Prianto—pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Makassar—menyentil fakta mengejutkan: demokrasi global sedang mengalami kemunduran. Menurutnya, pemilu yang demokratis tidak otomatis melahirkan pemimpin yang demokratis.

“Justru di banyak tempat, pemilu melahirkan pemimpin otoritarian,” tegas Luhur.

Ia mengutip berbagai laporan internasional yang menunjukkan meningkatnya jumlah negara dengan sistem otoriter. Fenomena itu, kata dia, tampak jelas dalam pelaksanaan pemilu global sepanjang 2024.

“Ada laporan bahwa demokrasi dicuri di kotak suara. Ketika kita berpartisipasi dalam pemilu, di situlah justru demokrasi kita dicuri, karena tidak selalu melahirkan pemimpin yang demokratis,” ujarnya.

Luhur menyebut kondisi ini dalam terminologi politik sebagai electoral autocracy atau otokrasi elektoral: proses pemilu tetap berjalan, tetapi kualitas demokrasi terus merosot pasca-pemilu.

“Gejalanya secara global, termasuk di Indonesia, semakin tajam sejak pemerintahan Jokowi,” tambahnya.

Rivalitas AS-China: Bukan Sekadar Ideologi, Tapi Energi

Hamid Awaluddin membawa audiens menyelami dinamika geopolitik dunia, khususnya rivalitas antara Amerika Serikat dan China. Menurut mantan Menteri Hukum dan HAM itu, berbagai konflik dan intervensi politik global tak bisa dilepaskan dari persaingan ekonomi.

Ia memberi contoh hubungan AS dengan Iran dan Venezuela.

“Dua-duanya kepentingannya hanya satu: bagaimana meruntuhkan hegemoni China. Amerika tidak mampu menyaingi industri China,” ujar Hamid.

Strategi Amerika, lanjutnya, adalah memutus rantai pasokan energi yang menopang industri China. Venezuela memasok sekitar 675 ribu barel minyak mentah per hari ke China, sementara Iran mengekspor 95 persen dari produksi 2,4 juta barel minyak hariannya ke China.

“Oleh karena itu Iran harus diganggu, sehingga suplai minyak ke China terganggu,” tegasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Rocky Gerung

Berita Populer