Profil Denny Mathius, Dokter Forensik di Balik Operasi DVI Polda Sulsel
Forensik adalah bidang yang membutuhkan ketelitian, integritas, dan dedikasi. Mungkin tidak selalu terlihat di depan publik, tetapi manfaatnya sangat besar bagi penegakan hukum dan pelayanan kemanusiaan.
MAKASSAR, BUKAMATANEWS - Di balik keberhasilan Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Sulawesi Selatan mengidentifikasi korban bencana maupun kecelakaan massal, ada sosok yang bekerja dalam senyap. Salah satunya adalah dokter spesialis forensik, dr. Denny Mathius, yang selama ini menjadi Dokter Mitra Forensik Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Sulsel.

Belakangan, dr. Denny kembali terlibat dalam Operasi DVI Polda Sulsel saat mengidentifikasi korban tenggelamnya KLM Nurul Salsa di perairan Kabupaten Kepulauan Selayar. Bersama tim, ia memastikan setiap proses identifikasi dilakukan secara ilmiah agar identitas korban dapat dipastikan sebelum diserahkan kepada keluarga.
Bagi dr. Denny, tugas dokter forensik bukan sekadar melakukan pemeriksaan terhadap jenazah. Lebih dari itu, profesi tersebut memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan kepastian bagi keluarga korban.
"Setiap jenazah yang datang memiliki identitas yang harus kami temukan. Di balik proses ilmiah itu ada keluarga yang menunggu kepastian. Itu yang selalu menjadi tanggung jawab kami," ujar dr. Denny saat ditemui di ruang Forensik Dokpol Biddokkes Polda Sulsel, Minggu, 26 Juli 2026.
Ia mengatakan seluruh proses identifikasi dalam Operasi DVI dilakukan berdasarkan standar internasional. Tim akan mencocokkan data antemortem yang diberikan keluarga dengan hasil pemeriksaan postmortem terhadap korban.
"Kami tidak bisa bekerja berdasarkan dugaan. Semua harus berdasarkan data ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan. Mulai dari ciri fisik, sidik jari, pemeriksaan gigi, hingga DNA jika memang dibutuhkan," katanya.
Menurutnya, tidak ada ruang untuk kesalahan dalam proses identifikasi. "Satu identitas yang keliru akan berdampak besar bagi keluarga. Karena itu kami memilih bekerja lebih teliti daripada terburu-buru," ungkapnya.
Pria yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Instalasi Forensik RSUD Labuang Baji Makassar itu mengaku setiap operasi DVI memiliki tantangan yang berbeda. Kondisi jenazah, lamanya korban ditemukan, hingga faktor cuaca menjadi bagian yang harus dihadapi tim forensik.
"Setiap kasus memiliki tingkat kesulitannya masing-masing. Namun prinsip kami tetap sama, bagaimana setiap korban dapat teridentifikasi dengan benar dan dikembalikan kepada keluarganya," tuturnya.
Selain menjadi Dokter Mitra Forensik Biddokkes Polda Sulsel, dr. Denny juga bertugas sebagai dokter forensik di RS Bhayangkara Makassar. Pengalaman menangani berbagai kasus pidana, kecelakaan hingga bencana membuatnya memahami bahwa ilmu forensik memiliki peran yang jauh lebih luas dibanding yang dipahami masyarakat.
"Banyak yang mengira dokter forensik hanya melakukan autopsi. Padahal kami juga berperan dalam identifikasi korban bencana, pemeriksaan korban kekerasan, hingga mendukung proses pembuktian hukum," jelasnya.
Di sela kesibukannya sebagai praktisi forensik, dr. Denny juga aktif sebagai akademisi. Saat ini ia menjabat sebagai Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Indonesia Paulus (UKIP) Makassar dan menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Sulawesi Selatan.
Menurutnya, pengalaman bertugas bersama Tim DVI selalu menjadi bekal berharga saat mengajar mahasiswa kedokteran.
"Apa yang saya temui di lapangan menjadi pengalaman nyata yang saya bagikan kepada mahasiswa. Mereka harus memahami bahwa profesi dokter bukan hanya soal menyembuhkan orang yang hidup, tetapi juga memberikan kepastian bagi mereka yang telah meninggal dunia," ujarnya.
Ia berharap semakin banyak dokter muda yang tertarik mendalami ilmu kedokteran forensik karena kebutuhan tenaga ahli di bidang tersebut masih cukup besar.
"Forensik adalah bidang yang membutuhkan ketelitian, integritas, dan dedikasi. Mungkin tidak selalu terlihat di depan publik, tetapi manfaatnya sangat besar bagi penegakan hukum dan pelayanan kemanusiaan," katanya.
Baginya, setiap operasi DVI selalu meninggalkan pengalaman yang berbeda. Namun ada satu tujuan yang tidak pernah berubah.
"Kepuasan terbesar bagi kami bukan ketika identifikasi selesai, tetapi ketika keluarga akhirnya mendapatkan kepastian dan bisa memakamkan orang yang mereka cintai dengan layak. Itu yang membuat pekerjaan ini memiliki nilai kemanusiaan yang sangat tinggi," pungkas dr. Denny. (*)
News Feed
Berita Populer
26 Juli 2026 13:11
26 Juli 2026 13:22
26 Juli 2026 13:38
