Redaksi
Redaksi

Kamis, 13 November 2025 13:52

Menteri Keuangan Temukan Kasus Under Invoicing: Barang Mesin Impor US$7 Laku Rp50 Juta di E-Commerce

Menteri Keuangan Temukan Kasus Under Invoicing: Barang Mesin Impor US$7 Laku Rp50 Juta di E-Commerce

Praktik under invoicing ini melibatkan pemalsuan nilai barang impor agar lebih rendah dari harga sebenarnya, bertujuan mengurangi bea masuk dan pajak impor yang harus dibayar.

SURABAYA, BUKAMATANEWS – Kunjungan kerja Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ke fasilitas Bea Cakuin Surabaya mengungkap praktik curang dalam perdagangan impor. Selama inspeksi di Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai Tipe Madya Pabean (KPPBC TMP) Tanjung Perak serta Kantor Balai Laboratorium Bea Cukai (KBLBC) Kelas II Surabaya pada Selasa (11/11), ditemukan indikasi under invoicing pada barang berupa mesin.

Praktik under invoicing ini melibatkan pemalsuan nilai barang impor agar lebih rendah dari harga sebenarnya, bertujuan mengurangi bea masuk dan pajak impor yang harus dibayar. Dalam kasus ini, sebuah mesin impor tercatat dengan harga hanya US$7 di faktur, setara sekitar Rp117.040 berdasarkan kurs Rp16.720 per dolar AS. Namun, produk serupa tersebut dijual di marketplace online dengan harga fantastis mencapai Rp40-50 juta per unit.

Purbaya menyatakan keterkejutannya atas temuan tersebut. "Waktu periksa kontainer ada yang menarik tuh harganya kelihatannya kemurahan. Masa harga barang sebagus itu cuma US$7, di marketplace Rp40-50 juta. Nanti dicek lagi," ungkapnya saat memeriksa kontainer di lokasi. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan tidak ada kerugian negara akibat praktik ilegal semacam ini.

Selain itu, kunjungan ini juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi infrastruktur pengawasan. Purbaya memuji pengoperasian container scanner yang baru dipasang dua minggu lalu di Tanjung Perak. "Lab kita bagus, tadi saya bilang ke teman-teman di lab kalau ada kurang peralatan tolong dikasih tahu sehingga kita bisa lengkapi. Tadi juga saya lihat pengoperasian container scanner, baru dua minggu dipasang lumayan bagus, walaupun belum sempurna," katanya. Alat ini diharapkan dapat mempercepat deteksi penyimpangan seperti under invoicing di masa depan.

Untuk meningkatkan transparansi, Menteri Keuangan berencana mengintegrasikan data pemeriksaan secara real-time ke pusat. "Nanti dengan IT base saya akan tarik ke Jakarta juga sehingga orang Jakarta bisa lihat langsung apa yang terjadi di lapangan," tambahnya. Langkah ini dianggap krusial dalam memperkuat tata kelola perdagangan impor yang adil dan mencegah kebocoran penerimaan negara.

Temuan ini menjadi pengingat bagi pelaku usaha untuk patuh pada regulasi impor, sekaligus dorongan bagi otoritas fiskal untuk terus berinovasi dalam pengawasan digital. Dengan demikian, ekosistem e-commerce nasional dapat berkembang lebih sehat dan kompetitif.

Andi Nurul Aimmah Danial

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa