Wiwi : Senin, 18 Desember 2023 09:29

MAROS, BUKAMATA - Penjabat Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Bahtiar Baharuddin menargetkan penanaman satu juta bibit sukun pada tahun 2024 mendatang.

Hal ini disampaikan Pj. Gubernur Bahtiar saat bersama Bupati Maros H.A.S Chaidir Syam bersama muspida dan tokoh masyarakat saat melakukan prosesi penanaman bibit sukun di Wisata Rammang-rammang, Kabupaten Maros, Minggu 17 Desember 2023.

"Kita langsung saja tentukan target 1 juta pohon tahun depan. KIta akan siapkan bibit sukun. Sukun salah satu komoditas yang dibutuhkan dunia di saat masyarakat sudah mulai menerapkan pola hidup sehat. Nilai ekonominya pasti akan tinggi," kata Pj Gubernur saat berbincang bersama awak media di destinasi berkelas dunia di Sulsel.

Menurutnya lahan perbukitan terutama di kawasan karst Maros butuh tanaman sukun untuk bisa menjaga ekosistem di Rammang-rammang karena tanaman ini bisa merekatkan bebatuan dan tanah.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, lanjutnya akan menganggarkan 10 ribu bibit sukun di Maros. Khusus ditanam di Kawasan Geopark Rammang-rammang.

“Kita berjanji sama Pak Bupati, sama Kapolres, khusus Salenrang atau Rammang-rammang ini saya alokasikan di 2024 bulan Januari, saya alokasikan 10.000 sukun,” kata Bahtiar saat menyusuri tapak kayu yang berada di kawasan geopark Maros itu.

Bahtiar menyampaikan bahwa Sulsel merupakan penghasil sukun terbesar di Indonesia maupun tingkat dunia. Bahkan ia juga berikhtiar bisa juara penghasil sukun terbesar tingkat internasional.

“Kita bukan hanya sekedar ingin menjadi juara dunia, tetapi kita hendak masyarakat punya produksi yang menghasilkan,” tutupnya.

Bahtiar berharap produksi sukun ini bisa menjadi nilai tambah pendapatan warga di kawasan Geopark Maros yang selama ini bergantung dengan pendapatan dari kunjungan wisatawan di kawasan itu.

“Kami ingin masyarakat kita sejahtera khususnya warga yang tinggal di kawasan wisata Rammang-rammang. Makanya kita perlu melakukan penanaman pohon sukun yang sesuai dengan kondisi tanahnya, sehingga nantinya bisa dipasarkan dan bernilai ekonomi, bukan hanya mengandalkan tiket perahu atau jualan kecil yang ada disini,” kata dia.

Bahtiar juga menyampaikan bahwa Sulsel merupakan penghasil sukun terbesar di Indonesia maupun tingkat dunia. Bahkan ia juga berikhtiar bisa juara penghasil sukun terbesar tingkat internasional.

“Kita bukan hanya sekedar ingin menjadi juara dunia, tetapi kita hendak masyarakat punya produksi yang menghasilkan,” tutupnya.

Dia berharap produksi sukun tidak hanya memasok kebutuhan konsumsi rumah tangga melainkan mampu juga terserap di sejumlah industri dalam negeri yang sudah mulai menggunakan sukun sebagai bahan baku industri.

"Selama ini sukun hanya dipasarkan untuk konsumsi masyarakat saja. Jika produksi sukun masyarakat bisa terserap oleh industri dalam negeri. Ini bisa mensejahterakan masyarakat kita. Makanya kita butuh satu juta pohon yang dimulai tahun depan," tutupnya.

Selain itu, nilai ekonominya pun tidak kecil. Jika dianggarkan 10 ribu bibit, nilai ekonominya bisa Rp10 miliar.

“Kalau ada 10.000 bibit kita tanam. 10.000 dikali Rp1 juta per pohon. Nilainya jadi Rp10 miliar. Bayangkan kalau kita lipat gandakan jadi 100.000 bibit. Masyarakat jadi sejahtera,” jelasnya.

Ia menjelaskan, satu pohon bisa menghasilkan 300 buah sukun. Paling sedikit 100 buah.

“Harganya mulai Rp10 ribu sampai sampai Rp50 ribu. Tarolah paling murah 10.000, tidak usah 300 buah satu pohon. Ambil terkecil, 100 buah saja satu tahun. Berarti satu pohon itu bisa menghasilkan Rp1 juta per pohon,” terangnya

Menanggapi hal itu, Bupati Maros Chaidir Syam mengaku akan menyiapkan lahan yang lebih besar agar Maros bisa menjadi daerah penghasil terbesar di Sulsel.

"Kami akan menyiapkan lahan yang lebih besar lagi pak Gubernur. Kami di Maros siap menjadi daerah penghasil sukun terbesar di daerah ini," kata dia.