BUKAMATA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaksanakan Street Test untuk menguji ketahanan lembaga keuangan, termasuk sektor perbankan, sebagai respons terhadap tekanan dari ekonomi global yang dinamis.
Dalam sebuah konferensi pers pada Senin, Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menjelaskan bahwa pengujian tekanan dilakukan dengan mempertimbangkan sejumlah parameter penting.
"Ini biasanya dikaitkan dengan perubahan cepat yang terjadi dan membawa dampak atau risiko kondisi yang ada," ungkap Mahendra Siregar.
Pengujian ini lanjut dia melibatkan evaluasi terhadap sejumlah faktor, termasuk pelemahan nilai tukar rupiah, kenaikan inflasi, lonjakan suku bunga, dan perubahan harga komoditas di pasar global.
Dari hasil uji tekanan yang dilakukan, OJK memperhatikan bahwa portofolio perbankan relatif tidak terlalu terpengaruh oleh gejolak ekonomi global. Mahendra Siregar menjelaskan, "jika dilihat dari kacamata perubahan nilai tukar, portofolio perbankan secara umum relatif tidak terpengaruh
". Karena posisi devisa netonya tetap stabil di 1,76%, hanya naik sedikit dari 1,72% dari tahun sebelumnya." katanya.
Namun demikian, OJK tetap mengimbau lembaga jasa keuangan untuk tetap waspada terhadap risiko pasar dan menjaga kecukupan modal sebagai bentuk perlindungan terhadap potensi kerentanan di masa mendatang.
Terkait dengan pemantauan kondisi pasar, OJK memberikan peringatan agar lembaga keuangan selalu siap menghadapi kemungkinan risiko yang dapat muncul. Mereka juga menekankan pentingnya menjaga ketersediaan likuiditas yang memadai sebagai langkah preventif.
"Kami meminta agar lembaga jasa keuangan dapat lebih mencermati risiko pasar serta senantiasa menjaga kecukupan modal sebagai penyangga risiko dengan mengantisipasi potensi kerentanan yang mungkin terjadi, serta memastikan ketersediaan likuiditas yang memadai," ungkap Mahendra Siregar.
Sebelumnya, OJK telah mendorong sektor perbankan untuk memperkuat cadangan sebagai respons terhadap risiko dalam periode suku bunga yang cenderung tinggi.
Sementara itu, pergerakan ekonomi global terus menjadi perhatian, terutama dengan sinyal dari The Fed yang menandakan akan mempertahankan tingkat suku bunga yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang.
Hal ini membuat pasar keuangan mengalami volatilitas akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di beberapa wilayah. OJK berupaya memastikan bahwa sistem keuangan dalam negeri mampu bertahan di tengah dinamika global yang terus berubah.
BERITA TERKAIT
-
Diskusi Ekonomi JMSI: OJK Dorong UMKM Perempuan Go Digital dan Waspadai Keuangan Ilegal
-
Dua Tersangka Korupsi CSR BI Belum Ditahan, MAKI akan Layangkan Somasi Kedua kepada KPK
-
Modus Baru Judi Online, Dari Layanan Penukaran Uang Asing Hingga Transaksi Ekspor Impor Fiktif
-
OJK Blokir 10.016 Rekening Bank yang Dipakai Judi Online
-
Pegadaian Resmi Jadi Bank Emas Pertama di Indonesia