Dewi Yuliani : Selasa, 13 Desember 2022 20:48
FGD Penggalian Isu Kesenjangan Gender Dalam Berbagai Aspek Pembangunan Berketahanan Iklim di Sulsel Tahun 2022, yang diselenggarakan ICRAF Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Sulsel, di Hotel Gammara Makassar, Selasa, 13 Desember 2022.

MAKASSAR, BUKAMATA - Kaum perempuan ternyata paling rentan terdampak perubahan iklim. Karena itu, dibutuhkan langkah mitigasi, termasuk kebijakan yang berpihak pada perempuan.

Hal tersebut terungkap dalam FGD Penggalian Isu Kesenjangan Gender Dalam Berbagai Aspek Pembangunan Berketahanan Iklim di Sulsel Tahun 2022, yang diselenggarakan ICRAF Indonesia bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Sulsel, di Hotel Gammara Makassar, Selasa, 13 Desember 2022.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Pengendalian Penduduk Sulsel, Andi Mirna, mengatakan, perempuan memang menjadi kelompok rentan terdampak perubahan iklim. Apalagi, perempuan memiliki peran sentral di dalam keluarga, meskipun ia bukanlah tulang punggung.

"Karena perempuan menjadi kelompok rentan, sehingga perlu mengedukasi dan meningkatkan kapasitas perempuan dalam rangka perubahan iklim ini, untuk meningkatkan kesejahteraan hidup mereka," kata Andi Mirna.

Sebagai langkah mitigasi, kata Andi Mirna, pemerintah melakukan berbagai strategi. Dimulai dari proses perencanaan pembangunan daerah.

"Di Pemprov, semua ada anggaran untuk pemberdayaan pengarusutamaan gender di semua OPD," ujarnya.

Sementara, Prof Novianty Eny Dungga, yang hadir sebagai narasumber FGD ini, mengatakan, harus ada aksi yang dilakukan untuk melindungi perempuan dari dampak perubahan iklim. Kebijakan-kebijakan pemerintah juga harus berprespektif gender. (*)