BUKAMATA - Kondisi ekonomi dunia yang sedang dibayang-bayangi Staglasi juga menjadi momok yang mengancam Indonesia. Bank Indonesia selaku regulator moneter di Indonesia, mengaku akan bekerja ekstra untuk menjaga perekonomian domestik dari risiko stagflasi.
Stagflasi adalah kondisi di mana inflasi melonjak tajam namun pertumbuhan ekonomi malah melambat.
"Dari BI kami akan waspadai tekanan inflasi dan dampak ekspektasi inflasi. Kami akan gunakan all out kebijakan yang kami memiliki," ujar Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti di Gedung DPR RI, Senin (27/6/2022) seperti dikutip dari CNN Indonesia.
Destry mengatakan, setidaknya ada tiga langkah yang akan ditempuh oleh BI untuk mencegah dampak stagflasi menyentuh Indonesia.
Pertama, menjaga inflasi inti tetap di bawah 3 persen. Saat ini inflasi ini berada di level 2,6 persen dan inflasi secara umum 3,55 persen pada Mei 2022.
Kedua, BI akan menaikkan suku bunga acuan jika terjadi lonjakan inflasi inti. Namun, hingga bulan ini diperkirakan inflasi inti akan tetap berada di bawah 3 persen.
"Kami akan melakukan penyesuaian suku bunga apabila ada kenaikan inflasi inti," kata dia.
Ketiga, BI akan memperkuat koordinasi dengan tim pengendalian inflasi (TPI) baik di pusat maupun di daerah. Ini untuk menjaga agar tidak ada lonjakan inflasi terutama dari harga bergejolak.
"BI juga memperkuat kebijakan dengan pemerintah pusat dan pemerintah daerah," pungkasnya.
BERITA TERKAIT
-
Touring Sinergitas BI Sulsel, Brimob dan OJK Sulsel Jelajahi Pesona Rammang-Rammang Hingga Kuliner di Pangkep
-
Siap-Siap! Mulai Juni 2026, Beli Dolar AS Tanpa Dokumen Makin Dibatasi, Ini Batas Barunya
-
Luwu Utara Perketat Pengawasan Harga Pangan Lewat Sinergi Bersama Bank Indonesia
-
BI Kolaborasi Trend Hijab 2026 Hadirkan Pekan Ekonomi Syariah
-
Ekonomi Sulsel Tumbuh 5,99 Persen, Peringkat 10 Nasional