Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Selasa, 28 Juni 2022 15:55

Penandatanganan MoU Antara Kepala Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar dan Habituasi, yang dilaksanakan di Kantor Camat Pasimasunggu, Kepulauan Selayar, Selasa, 28 Juni 2022.
Penandatanganan MoU Antara Kepala Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar dan Habituasi, yang dilaksanakan di Kantor Camat Pasimasunggu, Kepulauan Selayar, Selasa, 28 Juni 2022.

Empat Titik di Laut Jampea Rusak Berat, Habituasi Turun Lakukan Pendampingan

Sebagai organisasi nasional, Habituasi berpartisipasi aktif bekerja di Bagian Timur Indonesia. Dan Pulau Jampea punya potensi untuk dikembangkan.

KEPULAUAN SELAYAR, BUKAMATA - Empat titik di Laut Jampea mengalami kerusakan yang cukup parah, satu titik rusak ringan, dan hanya satu titik dalam kondisi baik. Hal ini diketahui setelah pihak Habituasi, salah satu environmental enterprise, melakukan penyelaman di Laut Jampea.

Direktur Eksekutif Habituasi, Najemia, mengungkapkan, untuk melakukan perbaikan dibawah laut membutuhkan waktu yang panjang, serta intervensi. Habituasi melalui Program Peka Laut Jampea, melakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) yang ditandatangani dengan Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar, sekaligus Kampanye Perlindungan Laut.

"Ada dua desa yang menjadi sasaran kami, yakni Desa Kembang Ragi dan Labuang Pamajang. Ada 35 nelayan yang kami bina, dari berbagai latarbelakang," kata Najemia, di sela-sela Kampanye Perlindungan Laut dan Penandatanganan MoU Antara Kepala Daerah Kabupaten Kepulauan Selayar dan Habituasi, yang dilaksanakan di Kantor Camat Pasimasunggu, Kepulauan Selayar, Selasa, 28 Juni 2022.

Ia mengungkapkan, salah satu penyebab terjadinya kerusakan di laut adalah ilegal fishing. Para nelayan terdesak masalah ekonomi. Karena itu, Habituasi berupaya melakukan edukasi dengan memperkenalkan alat tangkap yang ramah lingkungan, serta melatih para nelayan beserta keluarganya, agar mereka memiliki kemampuan mengolah potensi yang ada dan bisa bernilai tinggi.

"Ada jenis ikan yang kalau dijual hanya dihargai dua ribu rupiah per kilogramnya. Melalui pendampingan yang kami berikan, ikan itu kami olah, sehingga bisa bernilai lebih. Sekarang ini, ada lima produk olahan yang sementara kita ujicoba," jelas Najemia.

Sebagai organisasi nasional, tambah Najemia, Habituasi berpartisipasi aktif bekerja di Bagian Timur Indonesia. Ia menilai, Jampea punya potensi untuk dikembangkan.

"Adapun nanti hasil temuan kerja kami selama satu tahun, bisa diakses semua pihak, khususnya pemerintah daerah," imbuhnya.

Sementara, Wakil Bupati Kepulauan Selayar, Syaiful Arief, mengaku siap bersinergi dengan Habituasi dalam program Peka Laut Jampea. Apalagi, isu lingkungan bukan hanya menjadi isu daerah, tetapi telah menjadi isu global.

"Habituasi tentunya tidak bisa jalan sendiri. Harus diback up oleh semua stakeholder. Habituasi akan bersinergi dengan semua institusi dan lembaga, sehingga ini menjadi keberhasilan bersama," kata Syaiful.

Iapun berharap, program pemberdayaan masyarakat yang dilakukan Habituasi melalui sektor perikanan, bisa memberikan dampak besar. MoU yang ditandatangani juga bisa berlanjut ke Perjanjian Kerjasama (PKS). (*)

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Habituasi #Kampanye Perlindungan Laut #Peka Laut Jampea #Pulau Jampea