Aswad Syam
Aswad Syam

Sabtu, 04 September 2021 16:58

Biaya Politik Mahal Awal Mula Korupsi dan Rusaknya Demokrasi

Biaya Politik Mahal Awal Mula Korupsi dan Rusaknya Demokrasi

Mahalnya biaya politik menjadi salah satu faktor suburnya prilaku korupsi.

JAKARTA, BUKAMATA - Wakil Ketua Umum Partai Gelora Indonesia, Fahri Hamzah mengatakan, mahalnya biaya politik dalam pemilihan presiden, legislatif maupun pilkada selama ini, telah menjadi bumerang bagi keberlangsungan sistem demokrasi dan eksistensi parpol di Indonesia.

Keterpilihan tidak lagi ditentukan oleh kualitas dan kapabilitas, tapi ditentukan 'isi tas' atau besaran dana politik yang bersumber dari kantong pribadi atau dari penyandang dana.

Menurut Fahri, tidak mengherankan apabila sudah terpilih dalam jabatan tertentu, maka yang terpikir pertama kali adalah bagaiamana mengembalikan biaya politik dan balik modal.

"Hampir tidak ada klaster politik yang tidak ditangkap KPK. Baru-baru ini ramai Anggota DPR dan bupati yang pasangam suami istri ditangkap," kata Fahri saat menjadi narasumber dalam acara 'RUMPI' dengan 'tema Cost Politik Mahal, Bisakah Disiasati? Jumat (3/9/2021) petang.

Fahri berpandangan, kerusakan sebuah negara demokrasi, bisa dilihat dari tingkah laku parpolnya, apalagi yang masuk dalam lingkaran kekuasaan. Untuk itu, perlu pembenahan segera agar parpol dan sistem demokrasinya sehat.

Wakil Ketua DPR Periode 2014-2019 ini menegaskan, Partai Gelora akan berusaha untuk memutus lingkaran setan tersebut. Ia mengatakan, pertarungan politik adalah pertarungan rakyat, bukan pertarungan pribadi atau partai politik.

Sejalan dengan Ketua Bidang Perempuan DPN Partai Gelora Indonesia Ratih Sanggarwati mengatakan, Partai Gelora akan akan mendorong kaum perempuan untuk maju dalam konstestasi Pemilu 2024 dalam rangka memenuhi keterwakilan 30 persen perempuan di parlemen.

"Saya berharap semua perempuan di seluruh wilayah Indonesia yang memiliki kapasitas yang hebat untuk maju di Pemilu. Tidak lagi berpikir terganjal biaya politik yang mahal, tapi harus kreatif dan mencerdaskan dalam menarik simpati dukungan masyarakat," kata Ratih.

Praktik-praktik pembiayaan politik yang mahal selama ini, lanjut Ratih, tidak mencerdaskan masyarakat dan hanya menyuburkan prilaku korupsi.

"Serangan Fajar dan Wani Piro harus dihindari karena selain melanggar aturan yang ada praktik ini sangat tidak mencerdaskan masyarakat," tutup Ratih.

#Partai Gelora Indonesia #Fahri Hamzah