MAKASSAR, BUKAMATA - Banyak yang sudah jenuh dengan Covid-19. Begitu diingatkan menjaga protokol kesehatan, langsung berbalik menyemprot dengan nada tinggi. Tapi kejenuhan itu tidak melanda Rano Daeng Alle, seorang pengunjung setia warkop di bilangan Jl Mappaouddang, Makassar.
Senin, 14 Juni 2021. Hari masih pagi. Sudah beranjak menuju siang. Sinar matahari sudah hangat kuku menyentuh kulit. Sebuah sepeda motor matik warna biru putih, berhenti di depan Warkop AA, di bilangan Jl Mappaouddang, Makassar, Sulsel.
Seorang pria berbadan tambun menunggangi sepeda motor itu. Dia perlahan membuka helm pink bermotif Hello Kitty. Kemudian menggaruk kepalanya. Sejurus kemudian, dia meletakkan helm itu dengan menyampirkan ke spion kanan sepeda motornya.
Baca Juga :
Pria tambun itu tak langsung ke meja warkop. Dia memperbaiki masker hitamnya berlogo TNI-Polri. Lalu melangkah ke sebuah galon yang dilengkapi kran air. Dia memutar kran, lalu membasuh kedua tangannya.
Kemudian dia meraih sabun cair. Memencetnya lalu menuangkan ke telapak tangannya, menggosoknya, lalu kembali membasuhnya dengan air. Itu rutin dilakukan setiap pria itu datang ke warkop yang berada di samping Rujab Kapolda Sulsel itu.
Rano Daeng Alle, demikian nama pria itu. Usianya sekira 45 tahun. Termasuk sosok terkenal, khususnya bagi para fans fanatik PSM Makassar. Dia tak pernah melewatkan berada di kursi penonton setiap kali PSM main di Stadion Mattoanging Makassar. Makanya, Rano kerap digelari "Legenda PSM dari Kursi Penonton". Dia akrab dengan para pemain PSM.
Kepada Bukamatanews.id, Rano mengaku meski tak terlihat dirinya percaya dengan keberadaan virus Covid-19. Dia juga percaya bahwa menjaga kebersihan dengan protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah, adalah salah satu cara melawan makhluk tak kasat mata itu.
Karena itu, Rano mengaku selalu melengkapi dirinya dengan masker, rajin mencuci tangan, dan menjaga jarak dengan teman di warkop. Maskernya pun selalu berganti-ganti. Terbaru, dia baru saja membeli masker berlogo TNI. Motifnya loreng. Dia membuka pembungkusnya sebelum menyeruput kopi.
"Kalau pun misalnya virus itu tak ada, tidak mengapa. Yang penting kan kita menjaga kesehatan. Kita berjaga-jaga saja," ucapnya dengan suara baritonnya.