Redaksi
Redaksi

Rabu, 16 Juni 2021 11:05

Rian semasa hidup.
Rian semasa hidup.

"Kak, Perasaanku Tidak Enak," Rian Telepon Kakaknya Setelah Lima Jam Pergi, Lalu Ponsel Tak Aktif

Rian sempat menelepon kakaknya. Mengabarkan kalau firasatnya tak enak. Sang kakak menyuruhnya pulang. Namun belum sempat dijawab, tiba-tiba panggilan terputus. Ponsel Rian tak pernah lagi aktif sejak itu.

MAKASSAR, BUKAMATA - Masih terbayang di pelupuk mata Rita, tante Rian (20) yang menjadi korban pembunuhan dan jasadnya dibakar di Bukit Kemiri, Tompoladang, Desa Padaelo, Kecamatan Mallawa, Maros, Sulsel.

Hari itu, Senin, 7 Juni 2021. Pagi-pagi, Rian sempat keluar dari rumah. Lalu, kembali pada siang hari, sekira pukul 13.00 Wita. Kemudian usai magrib dia mandi. Dia berpakaian rapi. Menyandang ransel berisi pakaian.

Dia pamit ke orang tuanya, hendak ke Malino. "Ada temanku mau jemput," ujar Rian ke ibunya.

"Kenapa harus ke Malino nak, di sini saja. Panggil itu temanmu," ujar ibu Rian.

Tak lama kemudian, datang dua teman Rian. Berboncengan satu sepeda motor. Keduanya menjemput Rian. "Jangan khawatir tante. Kalau ada apa-apa dengan Rian, kami yang tanggung jawab," ujar salah satu dari keduanya.

Lantas, petang itu Rian pergi berboncengan tiga dengan temannya. Itu terakhir kalinya Rian terlihat oleh keluarga.

Rita menceritakan, lima jam kemudian sebuah panggilan telepon masuk ke ponsel kakak Rian. Dari Rian. "Kak, perasaanku tidak enak," ujar Rian di balik telepon.

"Pulang mako saja dek," ujar kakak Rian.

Namun, tiba-tiba telepon terputus. Sejak saat itu, ponsel Rian tak pernah aktif lagi. Diduga saat itu Rian sudah mengalami teror dan penyiksaan.

Keluarga Rian begitu khawatir. Apalagi setelah ada penemuan mayat hangus di Tompoladang, Maros. Itu setelah pada Minggu, 13 Juni 2021, polisi dari Polres Maros menyebar rekonstruksi wajah. Juga foto korban. Ibu Rian lalu ke Polres Maros. Dia membawa foto identitas putranya.

Lalu dicocokkan. Termasuk sidik jari. Juga ciri-ciri gigi yang berlubang. Kanit Reskrim Polres Maros, AKP Nico Ericson menyebutkan, ada 12 ciri yang identik antara Rian dengan jasad terbakar yang ditemukan. Meski hasil tes DNA belum keluar, polisi dan keluarga memastikan kalau itu adalah Rian.

Ibu Rian sempat mengirim chat ke WA Rian. Sempat dibalas. Diduga dari pelaku. Seolah-olah dari Rian. Dari chat itulah polisi dari Satreskrim Polres Maros dan Resmob Polda Sulsel, mengidentifikasi lokasi ponsel Rian berada. Dari sebuah hotel di kawasan Pantai Losari.

Segera personel Satreskrim Polres Maros dan Resmob Polda Sulsel ke lokasi. Di sana, dua pria yang menjemput Rian dibekuk.

"Kami masih memburu pelaku lainnya. Sehingga, peran masing-masing terduga pelaku belum bisa kami ungkap sebelum semuanya tertangkap," ujar Kabid Humas Polda Sulsel, Kombes Pol E. Zulpan.

Sebelumnya, pada Jumat dini hari, 11 Juni 2021, seorang pemandu mobil truk di tanjakan Tompoladang Maros bernama Dudi, melihat ada asap dan benda terbakar di pinggir jalan. Saat itu sekira pukul 03.00 Wita. Dudi awalnya mengira itu sampah. Nanti sekira pukul 05.00 Wita, Dudi curiga melihat ada menyerupai tubuh manusia. Dia mendekat. Dudi kaget. Ternyata benar. Itu jasad manusia.

Dudi tancap gas melajukan sepeda motornya ke Polsek Mallawa. Dia melaporkan apa yang dia lihat. Lalu Polsek Mallawa ke lokasi, memasang garis polisi, dan melakukan olah TKP. Tiga hari kemudian baru terungkap, korban adalah Rian, pria asal Gowa yang pamit ke ibunya pergi ke Malino merayakan ulang tahun.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Pembunuhan di Maros