Ulfa
Ulfa

Minggu, 21 Maret 2021 08:51

Ilustrasi.
Ilustrasi.

Anak Rajin Rentan Mengalami 8 Hal Buruk Ini

Menjadi rajin dan tekun pada dasarnya baik. Banyak kesuksesan yang datang dari sifat yang satu itu.

BUKAMATA - Semua orangtua akan merasa bangga dan puas bila memiliki anak rajin. Atas dasar itu, terkadang mereka memaksa anak untuk belajar super keras dan melakukan banyak hal sekaligus dalam satu waktu (multitasking).

Menjadi rajin dan tekun pada dasarnya baik. Banyak kesuksesan yang datang dari sifat yang satu itu.

Jika perilaku rajin bukan datang dari keinginan anak sendiri, maka hal tersebut justru bisa menjadi bumerang.

Tekanan berlebihan yang setiap hari diterima dari orangtua dan sekitar akhirnya menumbuhkan ambisi yang tidak sehat dalam diri anak.

Kondisi itu tentu berbeda hasilnya bila niat rajin dan produktif datang dari dorongan internal anak, lalu orangtua tinggal memberi dukungan.

Seorang psikolog, Gracia Ivonika mengungkapkan dampak buruk yang rentan dialami anak dengan kondisi tersebut yaitu:

1. Lelah Secara Fisik

Segala sesuatu yang dilakukan berlebihan akhirnya akan membuat stamina tubuh drop dan jatuh sakit.

Belajar, mengerjakan tugas, les ini dan itu, ikut beragam komunitas, hingga membantu banyak pekerjaan rumah memang aktivitas positif.

Kalau dilakukan tanpa jeda agar mendapat titel “anak rajin”, itu justru merugikan kesehatannya.

2. Lelah Secara Mental (Burnout)

“Karena terus berfokus pada pencapaian-pencapaian yang tinggi, mentalnya akan ikut lelah. Bila pada kenyataannya potensi anak di bawah target lalu Anda memarahinya, ia juga akan down dan lelah psikisnya,” kata Psikolog Gracia.

“Tertekan dan burnout mungkin dapat dialami oleh si anak karena ia berusaha memenuhi ekspektasi lingkungan," tambahnya/

Semua aktivitas yang dilakukan saat terlanjur burnout akan memberikan hasil yang buruk. Hal itu semakin menambah kekecewaan dan seperti “lingkaran setan” yang tak pernah selesai.

3. Sering Dimanfaatkan Orang Lain

Kekurangan anak rajin yang satu ini juga sangat menyebalkan untuknya. Kebiasaan disuruh ini dan itu oleh orang dewasa di rumah akan membuat anak menjadi tidak peka dan asertif (tegas).

Alhasil, potensinya malah dimanfaatkan orang lain, tak terkecuali teman sebayanya. Ia sering disuruh mengerjakan tugas teman-temannya, memberikan jawaban ujian, mewakili untuk melakukan sesuatu hal yang tidak perlu, dan lainnya.

4. Bila Kurang Apresiasi, Langsung Merasa Tak Berharga

Usaha ekstra biasanya menuntut apresiasi lebih. Sayangnya, kadang hidup tidak sesuai harapan.

Orangtua acap kali tidak memberikan perhatian dan apresiasi secara penuh atas usaha-usaha anak. Ia pun akan merasa tidak berharga, menganggap yang dilakukannya sia-sia saja, dan rendah diri.

5. Kapok Bersikap Baik

Anak rajin biasanya juga lebih taat aturan. Bila orang dewasa memberikan toleransi yang cukup besar kepada temannya yang tidak taat aturan, ia merasa terkhianati dan kapok bersikap baik.

6. Kesulitan Memahami Minat Sendiri

Anak yang terlampau rajin karena paksaan orangtua biasanya tidak memiliki banyak opsi di dalam hidupnya.

Ia hanya melakukan perintah tanpa mengetahui apa yang sebenarnya ingin dilakukan. Ujung-ujungnya, anak akan susah mengenali dirinya sendiri dan hilang arah.

7. Sering Dibandingkan dengan Anak Pintar

Karena merasa tak cukup pintar, seorang anak berusaha rajin dan giat belajar. Hal tersebut sebenarnya positif.

Sayangnya, orang dewasa sering tidak memahami usaha anak dan malah membandingkannya dengan anak lain yang lebih pintar.

Biasanya, anak pintar berada di peringkat satu dan si anak rajin berada di peringkat dua. Perbandingan yang terus-menerus diterimanya semakin meningkatkan ambisi yang tidak sehat ketika dewasa.

Rasa tidak puas dan kecewa yang mendalam bisa membuatnya terpuruk dan bertindak negatif.

8. Timbul Masalah Mental

Pada taraf yang tidak lagi bisa ditoleransi anak, paksaan untuk rajin mengarahkannya ke masalah psikologis, seperti gangguan cemas dan depresi.

“Hal ini karena anak melakukannya bukan untuk kepuasan pribadi, melainkan orang lain. Sehingga, pure sense of completion dan joy-nya tidak benar-benar didapatkan anak,” ungkap Psikolog Gracia.

Itu dia sejumlah hal buruk yang bisa menimpa anak rajin yang sering menerima paksaan dari sekitarnya.

 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Anak Rajin #Kesehatan

Berita Populer