Dewi Yuliani
Dewi Yuliani

Rabu, 13 Januari 2021 16:12

Ilustrasi
Ilustrasi

Belum Cukup Sepekan, Tiga Warga Toraja Tewas Gantung Diri

Mengawali tahun 2021 ini, tiga warga Toraja memutuskan mengakhiri hidup dengan gantung diri. Kasus bunuh diri di daerah ini memang cukup tinggi. Tahun lalu, tercatat 30 kasus bunuh diri terjadi di Toraja.

TANA TORAJA, BUKAMATA - Entah apa yang ada di dalam pikiran RB (18 tahun), ES (20 tahun), dan DN (18 tahun). Ketiga warga Toraja ini nekat mengakhiri hidupnya, dengan cara yang sama. Gantung diri.

RB diketahui bunuh diri pada Minggu, 10 Januari 2021, di dalam kamar tidurnya dengan menggunakan seutas kain, di Desa Buttu Limbong, Kecamatan Bittuang, Kabupaten Tana Toraja. Sebelum melakukan gantung diri, korban sempat menulis surat yang ditujukan kepada rumpun keluarga yang berisi permintaan maaf, karena banyak melakukan kesalahan dan selalu membuat keluarganya susah di masa hidupnya.

Keesokan harinya, Senin, 11 Januari 2020, seorang laki-laki ES (20 tahun) juga melakukan hal serupa. ES ditemukan tewas gantung diri di Lingkungan Garonggong, Kelurahan Ariang, Kecamatan Makale. ES beralamat di Se’seng, Lembang Pongbatik, Kecamatan Bittuang.

Hanya berselang sehari, Rabu, 13 Januari 2021, seorang pelajar SMK Pelangi Makale, DN (18 tahun), ditemukan gantung diri menggunakan dasi sekolahnya. Ibunda DN, Mardayanti Tungo', menjadi orang pertama yang menemukan sang anak tewas tergantung di pintu kamarnya.

Kasus bunuh diri di Toraja, tergolong cukup tinggi. Di tahun 2020, tercatat 30 kasus bunuh diri terjadi di daerah ini. 14 kasus di Tana Toraja, dan 16 kasus di Toraja Utara. Hal ini tentu saja bukan hal biasa, dan membutuhkan perhatian semua pihak. Pemerintah hingga lintas stakeholder harus turun tangan.

Tokoh muda asal Toraja yang juga pengurus KNPI Sulsel, Daming Sampe Seso, mengaku turut prihatin. Apalagi, rata-rata korban merupakan anak muda, yang sejatinya masih memiliki masa depan yang cerah.

Menurutnya, penyebab mereka bunuh diri adalah tekanan psikis, yang tidak bisa mereka kontrol. Kebanyakan, akibat masalah asmara.

Iapun berharap agar anak-anak muda diberi aktivitas kepemudaan, dan ruang berkegiatan, agar mereka bisa berinteraksi satu sama lain, dan tidak lagi berpikir melakukan hal-hal yang melenceng.

"Aktivitas pemuda dan interaksi satu sama lain dalam framing pemuda tertentu, sangat kurang. Contohnya, kegiatan-kegiatan kepemudaan kurang, beda yang dulu banyak kegiatan. Jadi ada interaksi satu sama lain, ada kgiatan dan kesibukan pemuda," kata Daming.

Daming pun meminta agar pemerintah, tokoh-tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan stakeholder lainnya, turut memberikan perhatian terhadap persoalan tersebut. Anak muda harus diberi ruang untuk berkreativitas.

"Semua harus turun tangan. Kita tidak boleh diam melihat fenomena ini. Jumlah kasus bunuh diri ini sudah mengkhawatirkan," ujarnya. (*)

 

#Bunuh diri #toraja