Aswad Syam
Aswad Syam

Rabu, 02 Desember 2020 08:43

Rizaldy alif (tengah) saat mengisi talkshow Radikalisme di Mata Milenial.
Rizaldy alif (tengah) saat mengisi talkshow Radikalisme di Mata Milenial.

Pasca Pembantaian di Lembantongoa, Anak Muda Harus Siap Jaga Perdamaian di Kabupaten Sigi

Pemuda Sigi berharap, pembantaian di Lembangtongoa tidak dibawa ke ranah suku agama dan ras. Dan dibutuhkan perang pemuda.

PALU, BUKAMATA - Suasana kondusif di Sulawesi Tengah mulai terusik, setelah terjadinya peristiwa pembantaian yang diduga kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur (MIT) terhadap empat orang warga di Dusun Lewonu Desa Lembantongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, beberapa hari lalu.

Kecaman terhadap aksi teror tersebut datang dari sejumlah pihak, tidak terkecuali dari Sekretaris Jenderal Pondok Pemuda Indonesia Rizaldy Alif Syahrial. Ia memberi beberapa tanggapan berkaitan dengan peristiwa keji yang terjadi di Desa Lembantongoa.

Sebagai salah satu putera daerah Sigi, Rizaldy mengecam keras kerusuhan tindakan kejahatan kemanusiaan yang menimpa para korban di tanah kelahirannya.

Menurutnya, kasus ini harus secepatnya diusut tuntas oleh pihak kepolisian, agar suasana tidak semakin mencekam. Ia khawatir kasus ini akan berpengaruh terhadap roda perekonomian daerah.

Sebagai salah satu contoh, ditutupnya kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) untuk sementara waktu. Ditutupnya kawasan TNLL kata dia, dapat mengganggu stabilitas ekonomi masyarakat yang bergantung hidup dari sektor pariwisata yang berada di kawasan tersebut.

"Bayangkan ada berapa keluarga yang hidup dari TNLL. Belum lagi pedagang sayur-sayuran dan warga yang mengantungkan hidupnya dari hasil hutan. Siklus perekonomian akan terganggu. Jangan sampai dampak yang terjadi lebih dari itu," ucap Rizaldy.

Mantan Ketua Umum Ikatan Pemuda Pelajar Mahasiswa Kabupaten Sigi (IPPMASI) ini menambahkan, seluruh pihak harus berupaya untuk membangun kebersamaan dalam keberagaman. Karena selama ini Kabupaten Sigi dikenal sebagai daerah yang damai di tengah keberagaman suku dan agama.

Baginya, peristiwa ini murni adalah kejahatan. Peristiwa ini murni adalah urusan negara dalam melindungi rakyatnya dalam melawan aksi terorisme.

Rizaldy meminta kepada semua pihak untuk tidak terprovokasi ke dalam isu suku dan agama. Bahkan menurutnya Kabupaten Sigi adalah daerah yang paling damai.

"Semua pihak harus mengusahakan perdamaian. Kita semua tahu peristiwa yang terjadi di Kabupaten Poso beberapa tahun lalu. Tentu kita tidak ingin hal serupa terjadi di Kabupaten Sigi. Kita tidak ingin ada trauma yang diwariskan ke anak cucu. Kita harus bekerjasama untuk mengatasi kejadian ini dan untuk menjaga kedamaian di Sigi," tambahnya.

Selain itu, Rizaldy juga mengemukakan, sudah saatnya anak muda untuk mengambil peran besar dalam situasi seperti ini di Kabupaten Sigi. Anak muda harus siap untuk menjaga perdamaian dan tidak boleh terprovokasi dengan isu-isu yang dibangun pasca terjadinya peristiwa pembantaian tersebut. Terutama isu-isu yang berkaitan dengan agama.

"Kita belum bangkit dari bencana gempa bumi dan pandemi Covid-19. Jangan sampai kita dilanda lagi masalah kerusuhan. Anak muda harus mengambil peran untuk menjaga perdamaian dan tidak boleh terprovokasi. Kita harus menyatukan kekuatan untuk membangun Sigi di tengah pandemi. Ini murni kejahatan dan tidak ada kaitannya dengan agama. Agama tidak pernah mengajarkan kekerasan" tegas Rizaldy.

Terakhir, ia meminta agar proses penegakan hukum pada peristiwa pembantaian ini dilaksanakan dengan cermat dan mempertimbangkan dampaknya bagi Perekonomian, sosial dan Politik.

"Sigi belum pulih dari keterpurukan ekonomi pasca Gempa Bumi dan Likuifaksi 28 September. Belum juga pulih dari efek ekonomi akibat pandemi. Kami berharap penanganan yang dilakukan oleh aparat keamanan agar memperhatikan saksama situasi ekonomi, sosial dan politik di Kabupaten Sigi," harapnya.

Penulis: Rizkakdy

#Pembantaian di Sigi

Berita Populer