Menag Salurkan Bantuan untuk Madrasah, Guru, dan Siswa Terdampak Longsor Cisarua
01 Februari 2026 20:42
Pembantaian di Palolo, Sigi, disaksikan putri korban dari tempat persembunyian. Dia menyaksikan bagaimana ayah dan suaminya dibantai dengan sadis.
SIGI, BUKAMATA - Mata BG berair. Masih terbayang jelas di matanya, bagaimana ayahnya Yasa dan suaminya, tewas dieksekusi pria bengis di halaman rumah mereka di Desa Lembatongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulteng. Pelaku diduga Ali Kalora Cs.
Hari itu, Jumat, 27 November 2020. Pukul 08.00 Wita. BG dan suaminya sudah bersiap hendak ke ladang. BG sudah di luar rumah. Sedang suaminya, masuk kembali ke dalam rumah. Hendak buang air di kamar mandi.
Tiba-tiba, datang rombongan pria kumal. Sekitar 10 orang. Mereka menenteng parang. Sebagian membawa senjata api.
BG yang sudah di luar rumah, ketakutan dan bersembunyi. Dia menarik tangan anaknya.
Pria kumal itu masuk ke dalam rumah. Terdengar di telinga BG, seorang dari pria berambut gondrong itu berteriak. "Mana bapak tadi? Mana bapak tadi?," teriak pria itu.
Mereka lalu keluar menggiring ayah BG ke halaman. Lalu didudukkan di tanah. Suami BG yang baru keluar dari kamar mandi, mengejar pria yang membawa mertuanya. Namun dia juga tak berdaya diancam parang dan senjata. Suami BG pun ikut didudukkan di tanah.
"Pas suamiku mau berdiri begini kan, langsung dia suruh begini (duduk jongkok)," ungkap BG.
Dari tempat persembunyian, BG melihat dengan jelas bagaimana ayahnya dihabisi. Dia melihat para pria bengis itu memegang leher bagian belakang Yasa, ayahnya. Lalu mendorong kepala Yasa dari belakang ke bawah.
Saat melihat aksi keji itu, BG tak sadar berteriak, "Itu bapakku mau diapakan, itu bapakku mau diapakan!!!" Mendengar teriakan itu, kelompok itu langsung dengan sadis membunuh Yasa dengan menggorok lehernya. Lalu mencincang-cincang punggung belakang korban yang tertelungkup di tanah. Kemudian, menyusul menghabisi suami BG.
Melihat kekejian itu, BG ketakutan. Lalu menggendong anaknya dan adiknya yang masih kecil, berlari masuk ke dalam hutan Palolo.
Sementara itu, kelompok yang diduga Ali Kalora Cs, membakar sejumlah rumah. Ada enam rumah rata dengan tanah. Juga membakar sejumlah sepeda motor. Lalu memanggul beras 40 kilogram, masuk kembali ke dalam hutan.
Saat ini, polisi dan TNI yang tergabung dalam Satgas Tinombala, masih melakukan perburuan.
Komandan Korem 132/Tadulako, Brigadir Jenderal TNI Farid Makruf mengharapkan, melihat kekejian itu, dia meminta masyarakat Sulteng tidak lagi memberikan informasi mengenai pergerakan Satgas Tinombala, juga tidak membagikan makanan kepada kelompok teroris tersebut.
01 Februari 2026 20:42
01 Februari 2026 17:46
01 Februari 2026 14:50
01 Februari 2026 10:33