Aswad Syam
Aswad Syam

Sabtu, 21 November 2020 12:48

Ketiga pelaku saat dibekuk Resmob Polres Pinrang.
Ketiga pelaku saat dibekuk Resmob Polres Pinrang.

Begini Modus Oknum Guru Cabuli Santri di Pinrang, Ketua Yayasan: Mereka Sudah Dinonaktifkan

Oknum guru yang mencabuli santri di Pinrang sudah dinonaktifkan. Langkah tersebut dilakukan Ketua Yayasan menyusul penetapan tersangka terhadap ketiga pelaku.

PINRANG, BUKAMATA - Polres Pinrang sudah menetapkan dua guru honorer, MS (32) dan FD (29) sebagai tersangka pencabulan santri di Pinrang. Status yang sama diterapkan ke seorang penjaga pondok, AM (55).

Awalnya hanya satu santri. Namun dari pengembangan Polres Pinrang, ternyata lebih dari satu korban.

Kasat Reskrim Polres Pinrang AKP Dharma Praditya Negara mengatakan, dua pelaku yang merupakan guru honorer, mencabuli korban dengan awalnya mencari-cari kesalahan korban.

Salah satu kesalahan korban yang diungkit adalah saat korban membawa ponsel ke dalam asrama. Diketahui, murid dalam MTs tersebut tinggal dalam asrama layaknya pondok pesantren.

Para pelaku lalu menahan ponsel korban. Setelah itu, mereka meminta korban datang ke kamarnya mengambil ponsel tersebut. "Dilakukanlah pemaksaan di kamarnya," ujar AKP Dharma.

Fakta lain dari kasus ini yang terungkap, MS dan FD yang merupakan guru honorer di MTs tersebut ternyata pernah menjadi murid atau santri di MTs tersebut. Sedangkan AM, adalah mantan guru dari MS dan FD.

"AM sudah lebih 20 tahun jadi guru di sana, MS dan FD mantan murid AM. Mereka (MS dan FD) pernah diajar," ungkap AKP Dharma.

Polisi juga menyebut aksi pencabulan para pelaku sudah dilakukan sejak lama. Namun baru ketahuan setelah pihak sekolah melapor ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pinrang.

Sementara itu, Yayasan sudah menonaktifkan ketiganya. Itu diungkap Ketua Yayasan, Arifuddin. "Sejak tanggal 19 November mereka sudah dinonaktifkan, sebelumnya dalam rapat juga sudah kami umumkan (penonaktifannya)," ujar Ketua Yayasan, Arifuddin, Sabtu (21/11/2020).

Arifuddin menjelaskan, kasus ini terungkap setelah adanya laporan dari salah seorang korban ke Badan Konseling. Arifuddin memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengecekan.

"Laporan itu kemudian diteruskan dari pimpinan pondok ke saya, lalu saya perintahkan untuk menelusuri kebenarannya. Karena ini aib bagi pondok pesantren, saya perintahkan untuk klarifikasi kurang lebih 10 hari kita telusuri kebenarannya," kata Arifuddin.

Dia menjelaskan, saat ini pihaknya fokus untuk memulihkan psikologi anak-anak. "Kita mau pulihkan psikologi anak-anak, kami melihat gesture anak-anak ada kelainan yang sudah terkontaminasi oleh para oknum. Kami berharap pihak KPA untuk membina anak-anak, memberikan pendampingan terhadap trauma yang dialami, selamatkan dunia pendidikan kita, kami bersyukur kasus ini terungkap," ujar Arifuddin.

Sementara itu, Kepala Dinas P2KBP3A Kabupaten Pinrang, Ridha, mengatakan selain pendampingan hukum, pihaknya juga akan memberikan pendampingan secara psikis.

"Akan kita lihat nanti hasil kajian tim yang mendampingi korban, jika hasil kajian korban dianggap harus mendapatkan pendampingan yang lebih dalam maka akan kita datangkan psikolog dari Makassar untuk pemulihan psikisnya," ujar Ridha.

Penulis: Hana

#Polres Pinrang #Pencabulan anak di bawah umur #Pinrang