Aswad Syam
Aswad Syam

Rabu, 16 September 2020 11:11

Eep Saefulloh Fatah
Eep Saefulloh Fatah

Semakin Memanas, Ini Penjelasan Lengkap Eep Soal Polemik Survei PolMark dengan Tim Appi-ARB

CEO PolMark Indonesia, Eep Saefulloh Fatah, memberikan penjelasan resmi seputar perseteruannya dengan Tim Appi-ARB.

MAKASSAR, BUKAMATA - Polemik CEO PolMark Eep Saifulloh Fatah dan Ketua Tim Appi-ARB, Erwin Aksa, bergulir liar. Polemik itu sudah merambah ke jalur hukum. Tim Hukum Appi-ARB rencana melaporkan Eep. Dasarnya, perbuatan tidak menyenangkan. Itu juga diungkap Ketua Tim Pemenangan Appi-ARB, Erwin Aksa.

Sementara itu, CEO PolMark Indonesia, Eep Saifulloh Fatah mengirimkan penjelasan resmi secara tertulis, soal survei dan tidak berlanjutnya kerjasama PolMark dengan Tim Appi-ARB. Berikut penjelasan Eep Saifulloh Fatah:

Penjelasan Resmi CEO PolMark Indonesia
mengenai Tidak Berlanjutnya Kerja Sama
Pendampingan-Terbatas dalam Pilkada
Kota Makassar 2020

PENGANTAR
1. Dengan sangat sengaja, saya tidak tergesa-gesa merespon secara emosional pemberitaan dan pembicaraan berkaitan dengan perkembangan Pilkada Kota Makassar yang menyebut-nyebut nama saya dan PolMark Indonesia.
2. Tidak bijak memanfaatkan arena publik sebagai tempat perdebatan emosional.
3. Sebagai orang yang selama sebelas tahun terakhir mengelola kegiatan pemenangan Pilkada dan Pemilu, saya juga tahu persis bahwa sesungguhnya Tim Pemenangan dan Kandidat harus amat sangat hati-hati mengambil langkah di tengah dinamika kompetisi yang sangat tinggi. Jika tidak, kerugian elektoral terbesar justru harus ditanggung oleh Tim Pemenangan dan Kandidat yang bersangkutan.
4. Saatnya sekarang saya sampaikan penjelasan yang menyeluruh berkaitan dengan perkembangan Pilkada Kota Makassar 2020. Penjelasan ini saya bagi menjadi beberapa bagian: keterlibatan kami (saya dan PolMark Indonesia) di dalamnya, tentang meme hasil Survei yang beredar, dan mengenai isu pemecatan saya dan pengusiran tim PolMark Indonesia dari Kota Makassar.

KETERLIBATAN KAMI DALAM PILKADA KOTA MAKASSAR 2020
1. Saya dan PolMark Indonesia tak punya sama sekali kebiasaan membantah
keterlibatan dalam Pilkada atau Pemilu. Kami Justru menjadi satu dari sedikit lembaga yang secara terbuka mempublikasikan keterlibatan kami. Ini terjadi di semua kegiatan pendampingan Pilkada yang kami lakukan.
2. Dalam kerangka itu, tidak ada alasan bagi kami untuk menyembunyikan keterlibatan kami dalam Pilkada Makasar 2020. Untuk meluruskan kesimpang-siuran informasi, berikut saya jelaskan perihal keterlibatan kami:
(a) Pada tanggal 28 Februari sampai dengan 10 Maret 2020, kami
menyelenggarakan Survei Opini Publik di Makassar, bekerja sama dengan
Munafri Arifuddin (MA). Sejalan dengan kesepakatan di antara kami dan MA,
hasil survei hanya saya presentasikam kepada MA dan tim intinya tanpa ada
publikasi. Pada saat itu, kerjasama hanya sebatas survei. Tidak ada kerjasama pendampingan kami (sebagai konsultan kerja pemenangan) untuk MA.
(b) Pada tanggal 23-31 Juli 2020, kami kembali menyelenggarakan survei di Kota Makassar, bekerja sama dengan Erwin Aksa (EA). Selepas mempresentasikan hasil survei ini, saya dan EA bersepakat untuk menjajaki kemungkinan melanjutkan kerja sama lebih jauh dengan “Pendampingan-Terbatas”.
(c) Akhirnya, kerja sama Pendampingan-Terbatas kami lakukan dengan EA, selaku Ketua Tim Pemenangan pasangan Munafri Arifuddin dan A Rahman Bando
(Appi-Rahman) mulai tanggal 19 Agustus 2020. Uraian hak dan kewajiban
masing-masing pihak serta berbagai aspek kerja sama ini tertuang dalam satu naskah kontrak kerja sama yang menempatkan Para Pihak sebagai mitra kerja sama yang sejajar.
(d) Sesungguhnya seluruh isi kontrak tersebut bersifat rahasia. Tetapi, karena sudah ada pihak tertentu yang mengedarkan foto kontrak kerjasama, ada baiknya saya jelaskan bahwa pendampingan terbatas ini meliputi lima aspek.
(1) Konsultasi dengan dan pendampingan oleh saya selaku CEO PolMark
Indonesia.
(2) Membangun dan mengelola Dashboard Kerja Pemenangan dalam rangka
digitalisasi political marketing Appi-Rahman.
(3) Penyelenggaraan dua kali survei selama masa kerja Pendampingan-
Terbatas, Agustus-Desember.
(4) Membentuk dan mengelola Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap
kerja pemenangan Appi-Rahman.
(5) Menyelenggarakan Quick Count pada hari pencoblosan Pilkada, 9
Desember 2020. Cakupan kerja sama pendampingan di Kota Makassar ini hanya meliputi sekitar seperlima saja dari keseluruhan kerja “Pendampingan-Penuh” yang menjadi layanan PolMark Indonesia. Karena itulah kami menyebutnya sebagai "Pendampingan-Terbatas".
3. Sebagai pihak yang melakukan Pendampingan-Terbatas untuk Appi-Rahman, saya sendiri sudah melakukan kunjungan kerja di Kota Makassar, 28-30 Agustus 2020. Saya dan tim PolMark Indonesia dari Jakarta (Deputi CEO, Corporate Secretary, Direktur Konsultasi, Direktur Riset dan Project Manager) melakukannya secara terbuka. Tak ada yang disembunyikan soal kunjungan kerja ini.
4. Adapun mengenai rilis hasil survei, kami juga terbiasa melakukan rilis survei secara terbuka tanpa menyembunyikan mitra kerja sama survei dan/atau pendampingan kami. Ini kami lakukan di berbagai Pilkada/Pemilu sepanjang sekitar 11 tahun keberadaan kami. Berikut beberapa contohnya: Rilis survei Pilkada Kalteng 2010, Pilkada Kota Medan 2010, Pilkada Jakarta 2012, Pilkada Jawa Barat 2013, Pemilu Presiden 2014, Pilkada Jember 2015, Pilkada Pangandaran 2015, Pilkada Jakarta 2017, Pilkada Sulbar 2017, Pilkada Riau 2018, Pemilu Legislatif 2019.
5. Dalam pertemuan-pertemuan di Kota Makassar dengan berbagai unsur kerja
pemenangan Appi-Rahman dicapai kesepakatan, semacam komitmen bersama, untuk tidak mempublikasikan hasil survei yang kami lakukan dengan pertimbangan strategis tertentu. Pertimbangan itu dan informasi detail lainnya tentu saja tidak bisa saya jelaskan kepada publik atas nama etika kerjasama pendampingan yang harus kami jaga dan junjung tinggi.
6. Jadi, kami tak pernah dan tak punya niat membantah soal adanya kerja sama dengan pihak EA dan/atau MA dan/atau Appi-Rahman. Berita mengenai bantahan saya terhadap meme hasil survei Kota Makassar tidak akurat. Saya tidak pernah membantah mengenai ada/tidaknya kerja sama survei/pendampingan dengan Appi-Rahman. Yang saya bantah adalah bahwa kami bukan pembuat meme itu. Saya juga membantah isi meme tersebut karena tidak akuratnya data/keterangan di dalamnya.

TENTANG MEME HASIL SURVEI YANG BEREDAR
1. Izinkan saya memperjelas masalah ini secara cukup detail untuk memberi
pemahaman menyeluruh dan tepat kepada semua pihak. Pemberian penjelasan ini tak sama sekali dimaksudkan untuk menyerang siapapun. Saya juga tak punya niat sama sekali untuk menimbulkan kerugian-kerugian -- termasuk kerugian politik atau elektoral -- untuk siapapun. Tujuan saya semata-mata ingin meminimalkan salah paham dan menghindarkan kita dari fitnah. Saya merasa berkewajiban untuk tidak membiarkan berkembangnya fitnah terhadap saya maupun PolMark Indonesia.
2. Pada pukul 00.48 dinihari Senin (14/9/2020) EA mengirimi saya meme hasil survei sebuah lembaga (Profetik Institute). EA kemudian memberi tahu bahwa ia akan mengeluarkan survei kami (PolMark Indonesia) sebagai bantahannya. Saya menyarankan EA untuk tidak memakai hasil survei lama sebagai bantahan. Saya juga tegaskan bahwa jika sebuah hasil survei dirilis ke publik maka keterangan waktu survei tersebut wajib disertakan di dalamnya. Saya sarankan agar bantahan dilakukan dengan menggunakan survei baru — kebetulan, sesuai dengan kesepakatan kerja pendampingan, kami memang masih akan melakukan dua kali survei. (Mohon maaf saya tidak bisa menyampaikan detail percakapan kami, apalagi capture chat nya. Sebab, prinsip etika yang saya jaga tidak memperkenankan saya untuk melakukan hal-hal semacam ini).
3. Pada pukul 10.39, pagi hari yang sama (Senin, 14/9/2020), EA mengirimkan kepada saya meme publikasi hasil survei yang mencantumkan gambar profil saya, nama saya dan PolMark Indonesia. Saya langsung menyatakan keberatan. Saya juga keberatan atas penyertaaan kata-kata jumawa, "Konsultan politik ternama yang memenangkan Jokowi-Ahok dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno menjadi Gubernur Jakarta" dalam meme itu. Saya sampaikan bahwa itu bukan cara saya. Saya memang keberatan. Terlebih-lebih, kemudian saya lihat ada pencantuman waktu survei dan data yang keliru/bermasalah.
4. Bagi saya dan PolMark Indonesia ada dua masalah penting dan besar berkaitan rencana penggunaan meme hasil survei (yang menggunakan nama kami) tersebut. Pertama, sebagai konsultan kami berkewajiban bukan hanya menyusun tetapi juga menjaga strategi dan ritme kerja pemenangan. Kedua, publikasi hasil survei wajib dilakukan secara jujur tanpa ada sedikitpun rekayasa data. Hal terakhir ini bukan soal kecil, melainkan perkara yang amat sangat besar, bahkan sakral. Ketika dua hal tersebut tidak terpenuhi, saya dan PolMark Indonesia tidak akan bisa bekerja secara optimal. Karena itulah, atas nama persahabatan, untuk menghindari konflik yang lebih serius dan lebih besar di kemudian hari, saya merasa opsi mengundurkan diri dan mengembalikan dana adalah pilihan terbaik.
5. Saya kemudian menegaskan sikap mengutamakan persahabatan itu kepada EA.
Saya sampaikan bahwa mengundurkan diri dan mengembalikan dana adalah opsi
terbaik dibandingkan harus berselisih paham berkepanjangan berkaitan dengan ketidaksepakatan soal cara-cara kerja pemenangan. Bagi kami, cara kerja bukanlah sekadar soal teknis, tetapi melibatkan sikap, prinsip dan integritas.
6. EA tidak keberatan sama sekali atas niat saya untuk mengundurkan diri tersebut. Kami pun bersepakat untuk bertemu dan membahasnya secara tuntas pada esok harinya, Selasa (15/9/2020) pukul 10.00 pagi di kantor EA.
7. Pada pukul 11.41 (Senin, 14/9/2020) saya untuk pertama kali menerima dari pihak lain (selain EA) meme hasil survei yang saya persoalkan ke EA dalam butir "3" di atas. Pengirimnya, seorang wartawan dari harian yang dimiliki EA, meminta tanggapan saya. (Atas nama etika dan pertimbangan lain, saya tidak bisa menyampaikan rincian identitas yang bersangkutan). Menimbang bahwa yang menghubungi saya adalah wartawan dari media milik EA, saya pun langsung memberikan bantahan bahwa meme itu bukan dari saya. Menimbang bahwa saya berbicara dengan pihak internal EA, saya pun merasa leluasa saja menggunakan terminologi yang cukup lepas, seperti kata "ngaco". (Kepada semua media yang tidak berasosiasi dengan EA, saya tidak memberikan respon sama sekali mengenai isu ini karena tak ingin masalah jadi meluas).
8. Pada pukul 14.20 (Senin, 14/9/2020), saya menerima WA dari seseorang yang ada di kontak saya dengan tambahan "Appi-Rahman" di belakang namanya. Artinya, yang bersangkutan adalah salah seorang dari jaringan kerja pemenangan Appi-Rahman yang sempat berinteraksi dengan saya dalam kunjungan kami ke Kota Makassar 28-30 Agustus 2020 lalu. (Sekali lagi, dengan pertimbangan etika dan pertimbangan lain, identitasnya tak bisa saya rincikan di sini). Karena merasa berkomunikasi dengan tim internal Appi-Rahman, maka saya capture jawaban-jawaban singkat saya untuk wartawan dari media milik EA (yang saya ceritakan dalam butir "7" di
atas) kepada yang bersangkutan. Saya memahami ini semua sebagai komunikasi
internal lingkaran EA. Lalu, saat yang bersangkutan meminta izin saya untuk menyebarluaskan respon saya yang sepotong-sepotong, saya mencegahnya. Sebagai gantinya, saya tulis sebuah penjelasan singkat yang lebih terstruktur dengan mencantumkan nama saya di dalamnya.
9. Sejumlah permintaan klarifikasi dan tanggapan juga masuk ke nomor WA saya. Dengan pertimbangan bahwa mereka bukan bagian internal kerja pemenangan Appi-Rahman, tak ada satupun yang saya respons.
10. Menimbang bahwa meme hasil survei yang mencantumkan nama saya dan PolMark Indonesia sudah beredar sangat luas, maka saya putuskan untuk menghubungi Koordinator Penggalangan Media Appi-Rahman, via WA pada pukul 15.04. Saya kirimkan ke yang bersangkutan percakapan saya dengan wartawan media milik EA (butir penjelasan "7" di atas) mengingat jaringan media ini ada di bawah koordinasinya. Saya juga sampaikan rencana mengundurkan diri dari pendampingan di Kota Makassar (sebagaimana sudah saya sampaikan sebelumnya ke EA).
11. Saya kaget ketika mulai pukul 15.55, masuk serangkaian WA dari EA yang isinya sangat tegas dan keras, menyatakan pengakhiran hubungan dan rencana
pengusiran tim saya dari Kota Makassar. Alih-alih menanggapinya secara frontal, saya melakukan rekonfirmasi soal realisasi pengunduran diri kami dan pemgembalian dana kerja sama. Tetapi komunikasi tak bisa berlanjut karena nomor WA saya tampaknya sudah serta merta diblokir oleh EA.
12. Sebagai bagian dari upaya memberikan klarifikasi yang tuntas dan layak, ada baiknya saya rincikan persoalan-persoalan serius pada meme hasil survei yang mencantumkan nama saya dan PolMark Indonesia yang beredar itu.
(a) Meme itu membuat keterangan waktu yang salah. Meme itu menyebut
"Data Agustus 2020" sebagai keterangan waktunya. Jelas ini salah. Kami
hanya punya data survei 23-31 Juli 2020. Pada bulan Agustus dan September
kami belum melakukan survei lagi di Kota Makassar. Bagi saya dan PolMark
Indonesia, ini bukan soal teknis belaka. Kejujuran menyampaikan keterangan
waktu survei adalah bagian dari etika publikasi survei yang sangat penting.
(b) Meme itu memuat data hasil survei secara keliru. Saya dan PolMark
Indonesia sesungguhnya terikat pada etika dan komitmen yang termuat dalam
kontrak kerja sama survei untuk tidak menyampaikan hasil survei kepada
siapapun. Tetapi, saat ini sudah beredar luas laporan hasil survei yang diklaim sebagai laporan hasil survei PolMark Indonesia. Maka, saya terpanggil untuk meluruskan kekeliruan dalam meme yang beredar itu.
Angka elektabilitas yang tercantum di dalam meme (yaitu berturut-turut 31,7%, 26,8%, 14.4% dan 3,4%) disebut sebagai elektabilitas pasangan kandidat (berturut-turut, Appi-Rahman, Danny-Fatma, Ical-Fadli, dan Irman-Zunnun). Ini keliru. Dalam data survei kami, angka-angka elektabilitas yang tercantum itu BUKAN angka elektabilitas pasangan. Itu adalah angka "elektabilitas tertutup" untuk kandidat orang per orang (Appi, Danny, Ical, Irman, dan lain-lain), BUKAN sebagai pasangan. Ini terdapat pada slide/halaman 25 dokumen Laporan Survei Pemilukada Kota Makassar, 23-31 Juli 2020. (Jumlah totalnya tak 100% di meme itu karena elektabilitas para bakal kandidat lain dan jawaban “tidak menjawab/tidak tahu” tidak ikut disertakan dalam meme itu).

Adapun untuk pasangan bakal calon, dengan simulasi perkiraan empat
pasangan calon -- yang ternyata kemudian menjadi kenyataan -- data
elektabilitasnya berbeda. Ini terdapat pada slide/halaman 37 dokumen
Laporan Survei Pemilukada Kota Makassar, 23-31 Juli 2020. (Untuk tetap
memegang teguh etika dan komitmen untuk tak menyampaikan hasil survei
kepada sembarang pihak, saya tak merasa perlu membahasnya di sini karena
tak terlalu relevan). Yang penting, saya tegaskan bahwa data hasil survei yang dimuat dalam meme itu memang keliru. Sekali lagi, kekeliruan ini bukan masalah teknis melainkan masalah etika publikasi hasil survei yang sangat penting. Apalagi meme-nya memuat foto dan nama saya serta PolMark Indonesia.
13. PolMark Indonesia sepanjang hampir 11 tahun hidupnya berusaha menjaga etika publikasi survei dengan sangat ketat. Haram hukumnya menyampaikan hasil survei dengan mengubah keterangan waktu, hasil-hasil survei dan semua data/informasi apapun. Hasil survei wajib dilaporkan sebagaimana adanya.

PENUTUP: SOAL ISU PEMECATAN DAN PENGUSIRAN ITU
1. Tidak ada pemecatan. Kontrak kerja sama Pendampingan-Terbatas antara pihak kami dan EA memosisikan Para Pihak di dalamnya dalam hubungan kemitraan yang sejajar. Kontrak ini tak menjadikan saya dan keluarga besar PolMark Indonesia sebagai bawahan pihak lain. Karena itu, pemecatan dari satu pihak ke pihak lainnya tak dimungkinkan untuk terjadi. Secara spesifik, kontrak kerja sama antara kami dan EA tidak menempatkan saya sebagai pegawainya EA dan karena itu EA tidak ada dalam posisi untuk bisa memecat saya.
2. Saya lah yang justru sudah lebih dulu berinisiatif untuk mengundurkan diri dari kerja sama pendampingan Appi-Rahman dan sudah meminta EA
membicarakannya secara tuntas/layak. Yang mungkin untuk dilakukan memang
pengakhiran kerja sama berdasarkan klausul-klausul yang tertera di dalam kontrak. Berkaitan dengan ini, faktanya, pada pagi hari Senin (14/9/2020) saya lah yang justru menyatakan akan mengundurkan diri dari pendampingan di Kota Makassar dan akan mengembalikan dana kerja sama. EA sendiri sudah menerima dengan baik dan terbuka rencana pengunduran diri saya itu dan bersedia membahasnya secara tuntas dalam pertemuan yang waktunya telah kami sepakati bersama (Selasa, 15/9/2020, pukul 10.00 pagi).
3. Tidak mungkin ada pengusiran dan memang tidak pernah terjadi. EA dan Tim Pemenangan Appi-Rahman tahu persis bahwa mereka tidak memiliki hak hukum apapun untuk mengusir seorang atau sekelompok warga negara yang baik untuk keluar dari suatu tempat yang bukan miliknya. Kota Makassar adalah bagian dari wilayah hukum Republik Indonesia yang di dalamnya setiap warga negara yang taat hukum dapat masuk atau keluar sesuai kehendaknya. Kota Makassar bagi kami bukanlah wilayah negara asing yang untuk berada di dalamnya kami perlu memiliki visa dan tanpa itu kami dapat diusir keluar. Kota Makassar juga bukan sebuah pekarangan rumah seseorang yang di sana orang lain dapat diusir keluar karena masuk tanpa izin pemiliknya.
4. Saya yakin kita sudah cukup dewasa untuk menggunakan kata pemecatan dan
pengusiran pada tempatnya dan secara selayaknya. Saya berharap media juga
menjadi bagian dari kedewasaan ini.
5. Bagi kami, uang bukan segalanya. Berulang-ulang kami melakukan kerja
pendampingan secara pro-bono untuk kandidat-kandidat yang sangat layak
dibantu. Bagi kami, menjaga kejujuran atas hasil survei dan riset lain dalam kerja pendampingan adalah sesuatu yang sakral. Berulang-ulang dengan tegas kami menolak keinginan pihak lain yang ingin menggunakan hasil survei secara tidak semestinya.

Demikian penjelasan yang dapat saya berikan. Mohon maklum kepada semua pihak yang belum/tidak saya jawab pertanyaannya dan belum/tidak saya layani permintaan konfirmasinya. Semua saya lakukan dengan penuh kesadaran untuk tidak bersikap reaktif dan emosional.

Di atas segalanya saya ingin terus menjaga prinsip-prinisip dasar yang sangat fundamental: Pertemanan, persahabatan dan persaudaraan tak boleh dikorbankan untuk sesuatu yang tak layak. Bahwa lebih mulia membangun secara susah payah persaudaraan dengan sebanyak mungkin orang dibandingkan memantik dengan mudah permusuhan sekalipun hanya dengan sedikit orang.
Saya berdoa semoga Pilkada Kota Makassar sebagaimana juga 269 Pilkada lainnya dalam Pilkada Serentak 2020 di seluruh Indonesia terselenggara sebagai Pilkada yang sehat, jujur dan demokratis. Semoga, Rakyat atau Warga lah yang akhirnya keluar sebagai pemenang sesungguhnya.

Tangerang Selatan,
Rabu, 16 September 2020
Salam hormat,


Eep Saefulloh Fatah
Founder & CEO PolMark Indonesia
(Political Marketing Consulting)

#PolMark #Eep Saefulloh Fatah #Appi-ARB

Berita Populer