Aswad Syam
Aswad Syam

Selasa, 15 September 2020 12:48

Syekh Ali Jaber (kiri) dan pelaku penusukan, Alpin Andria (kanan).
Syekh Ali Jaber (kiri) dan pelaku penusukan, Alpin Andria (kanan).

Kata Keluarga, Penusuk Syekh Ali Jaber Stres Gara-gara Ibu Nikah Lagi

Keluarga pelaku penusukan Syekh Ali Jaber mengatakan, Alpin stres gara-gara ibunya menikah lagi di Hong Kong pada 2016 lalu.

LAMPUNG, BUKAMATA - Ada fakta baru yang ditemukan polisi, terkait Alpin Andria (24), pelaku penusukan terhadap pendakwah, Syekh Ali Jaber.

Dia diduga mengalami gangguan jiwa, setelah ibunya menikah lagi. Itu diungkap Kapolresta Bandarlampung, Kombes Yan Budi Jaya. Menurutnya, berdasarkan keterangan dari pihak keluarga, Alpin mengalami stres sejak 2016 lalu. Pemicunya, diduga karena ibunya yang bekerja di Hong Kong menikah lagi.

Namun kata Kombes Yan, sebagai penyidik pihaknya tidak mempercayai sepenuhnya keterangan keluarga pelaku. Pihak penyidik kata Kombes Yan, akan berkoordinasi dengan Biddokes Polda Lampung, dan juga memanggil dokter psikiater dan kejiwaan dari Jakarta, guna memastikan yang bersangkutan benar-benar mengalami gangguan jiwa.

Memang kata dia, ada keterangan dari Rumah Sakit Jiwa Kurungan Nyawa Bandar Lampung yang telah memeriksa Alpin. Keterangan dokter, memang ada indikasi ke arah gangguan jiwa. Tapi itu kata Kombes Yan mengutip keterangan dokter, masih jauh dari gangguan kejiwaan.

Sebelumnya, ayah Alpin, M Rudy (45) menyebutkan, putranya mengalami gangguan jiwa sejak 2016 lalu. Namun, beberapa tetangga menyangkal. Mereka mengaku melihat Alpin sehat-sehat saja.

Pihak Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Lampung, juga melakukan tracking database pasien atau warga yang pernah berobat di rumah sakit tersebut. Hasilnya, tidak ditemukan rekam medis pelaku.

“Sudah kita cari, dan ternyata tidak ada nama yang bersangkutan, kita cek mundur data dari 2020 sampai mundur ke 4 tahun belakangan. Namun, bisa saja pelaku berobat di tempat lain, mungkin bisa dikroscek lagi ke orang tuanya,” ujar Humas RSJ Provinsj Lampung David, dikuutip dari lampost.co, Senin, 14 September 2020.

David menambahkan, hingga pukul 13.30, pelaku belum dibawa kepolisian untuk dibantarkan ke RSJ, dan menjalani observasi. Biasanya, observasi akan dilakukan maksimal 14 hari untuk mengetahui kejiwaan seseorang.

Kemudian, hasilnya nanti dalam bentuk visum et repertum psikiatrum yang akan diserahkan ke pihak berwenang.

Alpin Andria menusuk Syek Ali Jaber pada Minggu, 13 September 2020 lalu. Sekitar pukul 16.30 WIB di Masjid Falahuddin, Tanjung Karang, Bandar Lampung.

Saat itu, Syekh Ali Jaber hendak memberikan hadiah sepeda kepada seorang santriwati yang menghafal alfatiha dengan benar. Saat itu, santriwati itu bersama ibunya di atas panggung. Hendak mengabadikan foto dengan Syekh Ali Jaber.

Karena kamera ponselnya jelek, Syekh Ali Jaber hendak meminjam ponsel jemaah. Saat itulah Alpin lari ke atas panggung. Syekh Ali Jaber mengira hendak dipinjamkan ponsel. Ternyata, Alpin malah mencabut pisau dan menghujamkan ke arah Syekh Ali. Untuk pendakwah asal Madinah itu sempat mengelak sehingga pisau hanya mengenai lengannya.

Alpin telah ditetapkan sebagai tersangka. Terkini dia sudah meringkuk di penjara. Tersangka kata Kombes Yan, dikenakan pasal 351 ayat 2 dengan ancaman maksimal penjara lima tahun.

#Penusukan Syekh Ali Jaber #Penikaman

Berita Populer