Redaksi : Minggu, 02 Agustus 2020 10:42
Andi Baso Ryadi Mappasulle dan ketiga putrinya, mendoakan almarhumah isterinya dari balik tembok pemakaman Covid-19 di Macanda Gowa.

GOWA, BUKAMATA - Ada tiga video. Diunggah Andi Baso Ryadi Mappasulle di Facebooknya. Satu video memperlihatkan tiga putrinya memanjat di sebuah tower. Di sisi pemakaman Covid-19 di Macanda, Gowa.

Seorang wanita berhijab krem terus memanjat. Sambil berpegangan dia melongok ke dalam areal pemakaman yang dibatasi dinding papan beton.

"Masih ada nisannya ummimu nak?" tanya Andi Baso.

"Tidak kutahuki yah," jawab gadis berhijab itu sambil terus naik.

Terdengar peringatan dari seorang pria. Diduga penjaga pemakaman Macanda.

"Awas jatuh. Kalau ada apa-apa saya yang kena marah," terdengar suara seorang pria. Diduga petugas penjaga pemakaman itu.

Gadis berhijab itu terus melongok ke dalam areal pemakaman.

"Saya kira pernahki masuk pasangkan nisannya ummi nak?" ujar Andi Baso dengan nada tanya.

"Ada tambahan lagi di samping-sampingnya yah," jawab gadis berhijab itu.

"Astagfirullah, padahal isteri saya tidak positif loh pak," ujar Andi Baso dalam video itu.

Di video lain, tampak Andi Baso dan tiga putrinya, berdoa di depan pagar papan beton yang bagian atasnya ditumbuhi tanaman menjalar.

Di balik tembok itulah diyakini isteri Andi Baso Ryadi Mappasulle, Nurhayani Abram dikuburkan. Andi Baso bersimpuh, diikuti ketiga putrinya. Lalu menengadahkan tangan, memanjatkan doa.

Ada video lainnya memperlihatkan suasana makam di dalam, yang rata-rata masih tanah merah. Makam yang lama rata-rata bernisan putih. Ada pula yang tampak masih baru.

Video itu direkam Andi Baso pada Jumat, 31 Juli 2020. Usai salat Iduladha, dia mengajak ketiga putrinya menziarahi makam sang isteri.

Sayang, petugas tidak mengizinkan masuk. Akhirnya, memanjat tower jadi pilihan.

Di caption ketiga video itu, Andi Baso menulis, bahwa dengan tidak memberikan ijin memindahkan makam isterinya dari pemakaman Covid-19 ke pemakaman keluarga, Andi Baso mendoakan semoga anak-anaknya Pak Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah tidak mengalami apa yang anak-anak Andi Baso alami.

"Jujur tadi saya berdoa untuk almarhumah isteri saya, juga untuk Pak Profesor Gubernur Nurdin Abdullah, semoga tidak pernah mengalami, mendoakan keluarganya dari balik tembok, seperti yang kami alami. Bersenang-senanglah di atas penderitaan dan kesakitan kami," tulis Andi Baso.

Perjuangan Andi Baso memang penuh liku. Saat isterinya mengembuskan napas terakhir, dia meminta untuk dimandikan dan dikafani. Namun, dia tak kuasa melawan petugas dengan protokol kesehatannya. Bahkan, putri sulung Andi Baso sempat menaiki kap mobil jenazah yang akan membawa ibunya ke pemakaman Covid-19 di Macanda Gowa.

Beberapa hari setelah dimakamkan, hasil swab keluar. Hasilnya negatif Covid-19. Saat itulah, Andi Baso berjuang, memindahkan jenazah isterinya dari Macanda ke kampung halamannya di Bulukumba.

"Karena kami ini perantau. Saat di tanah rantau, isteri saya selalu bilang, kalau saya mati jangan pernah makamkan saya di kampung orang. Makamkan saya di kampung halaman," ujar Andi Baso mengenang wasiat isterinya.

Karenanya dia berjuang sekuat tenaga. Berbekal hasil tes swab yang negatif, dia menyurati DPRD Sulsel, meminta bantuan agar jenazah isterinya diizinkan dipindahkan ke Bulukumba.

DPRD Sulsel sudah menandatangani surat rekomendasi ke Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah, untuk mengizinkan pemindahan makam. Namun, Gubernur Sulsel, Nurdin Abdullah enggan mengeluarkan rekomendasi. Alasannya, harus meminta persetujuan pusat terlebih dahulu.

Sampai-sampai, Andi Baso dan putri-putrinya, pernah memblokade mobil dinas Gubernur Sulsel saat berada di DPRD Sulsel.