Aswad Syam
Aswad Syam

Selasa, 30 Juni 2020 07:55

Survei: Lebih Sepertiga Publik Merasa Dihantui Komunisme di Dalam RUU HIP

Direktur Median, Rico Marbun memaparkan hasil surveinya. Sebagian besar publik, tidak setuju trisila dan ekasila. Bahkan menyebut komunisme bisa bangkit akibat pelonggaran dari RUU HIP itu.

BUKAMATA - Pancasila sebagai dasar negara, sudah final. Namun, tiba-tiba isu komunisme muncul di tengah-tengah pembahasan Rancangan Undang-undang (RUU) Haluan Ideologi Pancasila (HIP).

Rico Marbun melalui lembaga surveinya, Median melakukan survei persepsi publik terkait bangkitnya komunisme di Indonesia. Menurut Rico dalam videonya, ini memang isu yang sangat sensitif.

"Kita ingin tahu apa yang dipikirkan publik soal RUU HIP dikaitkan dengan persepsi publik," ujar Rico.

Median lalu membuat pertanyaan, sejauh mana publik percaya, bahwa RUU HIP bisa membuka kesempatan komunis masuk ke Indonesia.

Hasilnya kata Rico, ternyata jumlah orang yang percaya ada 35,9 persen. Terdiri atas, sangat percaya 15,2 persen dan percaya, 20,7 persen.

Yang tidak percaya kata dia, ada 25 persen. Terdiri atas sangat tidak percaya 22,8 persen, sangat tidak percaya ada 2,2 persen. Dan yang tidak tahu atau tidak menjawab 39,1 persen.

"Jadi total publik yang bilang RUU HIP ini bisa jadi pintu masuk komunis, ada 35,9 persen, dan tidak percaya ada 25 persen," urai Direktur Median tersebut.

Apa alasan publik sehingga percaya komunisme bisa masuk lewat RUU HIP? Menurut Rico, ada 15,2 persen bilang prmbahasannya menjurus ke PKI, 12,1 persen mengatakan RUU HIP tidak mencantumkan pelarangan komunisme, 12,1 persen bilang RUU HIP menjadi kelonggaran PKI bisa masuk, 9,1 persen mengatakan karena sila pertama diganti.

Lainnya, 6,1 persen mengatakan RUU HIP ditunggangi PKI, 3,0 persen takut dijajah komunis, 3,0 persen bilang sudah terbuka semua informasi, 3,0 persen bilang PKI sudah dilarang di Indonesia, dan 3,0 persen bilang paham komunis sudah ada di DPR.

Sedang yang tidak percaya beralasan, PKI sudah dilarang di Indonesia. Itu ada 17,4 persen. Lalu 17,4 persen lainnya bilang PKk sudah tidak ada. Kemudian 8,7 persen sebut itu hoaks, dan ada 4,3 persen mengatakan sulit membuka kesempatan PKI kembali.

Rico menyimpulkan, ada dua alasan kenapa isu komunisme bangkit begitu dipercaya. Pertama, karena dalam RUU HIP tidak ada satupub ayat yang secara tegas melarang ideologi komunis, dan yang kedua, adanya persepsi publik seakan-akan sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa diganti, atau kesakralannya dikurangi.

"Itulah dua tema besar bahwa sebagian besar publik tidak setuju ada trisila dan ekasila, dan publik menyatakan, isu komunisme bisa dikaitkan RUU HIP cukup nyata dirasakan publik," cetus Rico.

Menurut Rico, hasil survei itu bisa menjadi bahan pemikiran elite negeri ini, bahwa RUU tersebut, tidak ada gunanya.

Dia bilang, lebih 60 persen publik, tidak setuju dengan trisila dan ekasila. Ada lebih sepertiga publik menyatakan, bahwa komunisme menghantui pikiran mereka dalam RUU HIP.

"Anda harus ingat, RUU ini dibuat ubtuk publik, sehingga perhatikan apa yang publik pikirkan," tegas Rico.

#RUU HIP