Ibnu Kasir Amahoru
Ibnu Kasir Amahoru

Selasa, 30 Juni 2020 00:32

Fadli Zon. IST
Fadli Zon. IST

Bicara Soal Negara Gagal, Fadli Zon: Jokowi Pertontonkan Kegagalan Kepemimpinan

Menurut Fadli Zon, kegagalan sebuah negara sangat mungkin terjadi pada pada setiap negara, terutama yang terkait dengan bagaiamana respon dari national leadership terhadap situasi dan kondisi yang ada.

MAKASSAR - Anggota DPR RI, Fadli Zon secara blak-blakan bicara terkait ancaman negara gagal, yang merupakan buntut dari penyebaran Virus Corona (Covid-19). Salah satu faktor yang disebutkannya adalah krisis kepemimpinan.

Hal tersebut diungkapkan Fadli Zon dalam Zominari Politik yang digagas Narasi Institute dan Bukamatanews, pada Senin (29/6/2020) malam. Diskusi yang mengusung tema 'Mengapa Negara-negara Gagal' ini dipandu langsung Pakar Kebijakan Publik, Achmad Nur Hidayat.

Menurut Fadli Zon, kegagalan sebuah negara sangat mungkin terjadi pada pada setiap negara, terutama yang terkait dengan bagaiamana respon dari national leadership terhadap situasi dan kondisi yang ada.

"Kalau kita melihat sejarah yang ada, kejatuhan sebuah negara, kegagalan sebuah negara, kelemahan sebuah negara, itu sangat erat kaitannya dengan kondisi yang ada (di Indonesia), banyak faktor, seperti faktor ekonomi, faktor sosial, budaya, pertahanan, dll. Dan bangaimana respon leadershipnya, kepemimpinan nasionalnya," kata Fadli Zon.

Waketum Partai Gerindra ini lantas mengambil contoh negara Uni Soviet. Menurutnya, banyak kekuatan-kekuatan koersif yang mempersatukan Uni Soviet, hingga menjadi negara yang kuat, adidaya, super power, namun mengalami disintegrasi pada tahun 1991.

"Padalah Uni Soviet mempunyai militer yang begitu kuat, mempunyai intelejen yang sangat kuat , kemudian mempunyai partai komunis yang sampai mengakar ke bawah dan tentu ideologi yang ada pada setiap orang. Tapi begitu kuatnya Uni Soviet, akhirnya mengalami disintegrasi dan itu dimulai dari salah satu faktor penting adalah kepemimpinan yang lemah," bebernya.

"Kalau kita lihat pada Indonesia, bagaimana Indonesia ini menjadi sebuah negara. Inikan dari sebuah imajinasi, dan imajinasi Indonesia itu betul-betul karena sikap kelegowan, sikap besar hati dari berbagai golongan, terutama dari golongan Islam dan kebangsaan, sampai sejauh mana itu bisa bertahan?," tambahnya.

Fadli Zon menilai, bertahannya negara Indonesia hingga 75 tahun ini adalah sebuah mukjizat yang luar biasa. Sebab jika dianalisa dari berbagai sisi, itu hampir tidak masuk akal, sebuah negara dengan beragam etnis, suku, bangsa, ras, dan agama itu bisa menyatu, tanpa ada ikatan yang kuat.

"Walupun kita tahu ada poetensi-potensi, ada ancaman disintegrasi di ujung Barat dan ujung Timur, tapi kita melihat bahwa sebenarnya salah satu faktor yang mepersatukan menurut saya adalah faktor Islam, dan ini yang mengikat dari semua kelompok yang ada, kebetulan Islam menjadi agama mayoritas di Indonesia," ucap Fadli.

"Tapi kalau kita melihat kajian yanga ada, tanda-tanda (Indonesia) menuju negara gagal itu secara teoritik kan ada. Situasinya dimana pemerintah dan negara itu secara domestik tidak bisa lagi menguasai apa yang terjadi, seperti menyerah," sambunganya.

Fadli Zon lantas menyindir pidato Presiden Joko Widodo yang marah-marah di depan para menteri dan kepala lembaga. Menurutnya, pidato yang baru diupload 28 Juni itu, bisa bermata dua. Pertama, untuk memperlihatkan bahwa Jokowi sedang mengimbau menteri-mentrinya untuk menyadari adanya suatu persamaan presepsi situasi krisis.

"Tapi di sisi lain, orang melihat bahwa pemerintahan ini sudah tidak mampu lagi untuk membuat sebuah orkestra yang baik. Padahal Pak Jokowi sendiri yang mengatakan bahwa tidak ada visi-misi menteri, tapi yang ada adalah visi misi Presiden. Yang terjadi masing-masing (menteri) memainkan alat musiknya sendiri, sehingga tidak terdengar indah, ada bahkan yang tidak memainkan," katanya.

"Sehingga kalau kita, lihat apa yang terjadi sekarang ini, leadership kita mengalami sebuah kegagalan. Jadi apa yang ditunjukan oleh Presiden di dalam rapat itu, sebaiknya tidak perlu ditunjukkan, karena ini malah mempertontonkan kegagalan dari national leadership di dalam mengatasi situasi dan kondisi seperti saat ini," tambahnya.

Bahkan kata Fadli, Jokowi secara terang-terangan telah mengakui kinerja para menteri dan kinerja pemerintahan saat sangat lambat dalam menangani krisis akibat Covid-19. "Ini tidak sesusia dengan apa yang diharapkan masyrakat. Lantas siapa yang bertanggungjawab, nah kalau kembali ke tadi kan tentu yang tanggungjawab Presiden sendiri," tegasnya.

Untuk itu, Fadli khawatir kelemahan dari national leadership ini bisa membawa Indonesia pada kegagal bernegara. Seharusnya, kata dia, terjadi sebuah konsolidasi di dalam pemerintahan dan dalam negara.

"Supaya konsolidasi itu benar orang-orang atau peserta dari kebinet ini betul-betul orang yang tidak hanya bisa kerja, tapi kabinet crisis, bukan kabinet pesta. Kalua pesta inikan kabinet dari parpol, hasil bagi-bagi kekuasan dll. Ada yang tepat dalam di dalam posisinya, ada juga yang terpaksan diakomodasi, sehingga yang saya lihat masing-masing hanya memikirkan diri dan kelompoknya, tidak memikirkan nasib rakyat," ungkap Fadli.

"Jadi observasi dari Presiden ini sudah tepat, tapi apakah observasi ini tinggal observasi, Presiden-kan seharusnya mengambil langkah-langkah yang nyata dan terukur untuk melakukan konsolidasi kekuasaannya. Jadi jangan sampai presiden menjadi pengamat, dari apa yang dia amati, kemudian dia mengamati lalu mengimbau. Kalau tidak bisa terjadi caos, ini yang sama sekali tidak kita inginkan karena kita sudah mempunyai pengalaman," bebernya.

"Mudah-mudahan kita bisa kontrol dan presiden masih bisa melakukan konsolidasi kekuasaan dan tidak mengeluh di depan publik, termasuk di depan menteri-menterinya," pungkasnya.

Sekadar diketahui, selain Fadli Zoon, disksusi ini juga mengahadirkan sejumlah pembicara seperti, Ketua Umum Partai Gelora Anis Matta, Fadhil Hasan, Alviani PH.D, Fuad Bawazer, Abdul Malik, Prof Didin Damanhuri, dan Andri BS Sudibyo.

 

#Fadli Zon #Jokowi #Covid-19