Redaksi : Minggu, 21 Juni 2020 14:59
Mendiang dr Deny Dwi Yuniarto semasa hidup.

MADURA, BUKAMATA - Ini kisah sedih dr Deny Dwi Yuniarto. Senin, 15 Juni 2020 lalu, dr Deny mengembuskan napas terakhirnya di RS Unair Surabaya. Dia menyusul kedua orang tuanya yang juga meninggal akibat Covid-19.

Sedihnya lagi, istrinya, E (32) dan anaknya yang masih berusia satu tahun, kini juga terpapar Covid-19.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sampang, Agus Mulyadi mengungkapkan, almarhum dr Deny terjangkit virus corona setelah melakukan pemeriksaan secara mandiri bersama istrinya di salah satu Rumah Sakit Kabupaten Pamekasan pada 10 Juni 2020.

Kemudian pada 13 Juni 2020 melakukan perawatan di Rumah Sakit Unair Surabaya. Setelah dua hari menjalani perawatan, pada Senin pagi dr Deny meninggal sehingga, dipulangkan ke tempat tinggalnya untuk dimakamkan sesuai protokol kesehatan Covid-19.

Agus menambahkan, selesai melakukan pemeriksaan di RS Pamekasan, istrinya  E (32) sebagai dokter di Puskesmas Robetal juga terkonfirmasi positif covid-19. Sehingga langsung dilakukan isolasi di RSUD  dr. Mohammad Zyn Sampang.

“Tapi hari ini diberangkatkan ke salah satu RS di Surabaya,”  terangnya.

Setelah dr Deny gugur dan istrinya dinyatakan positif Covid, Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Sampang, Madura telah melakukan rapid test terhadap sejumlah tenaga medis di Puskesmas Tambelangan dan Robatal. 

Seperti diketahui, selama ini dr Deny bertugas di Puskesmas Tambelangan sedangkan istrinya berdinas di Puskesmas Robatal. 

Agus mengatakan, dengan adanya salah satu dokter berstatus positif di dua puskesmas itu, pihaknya melakukan rapid test terhadap semua pegawai di masing-masing puskesmas.

Di setiap UPT puskesmas ada sekitar 60 sampai 65 tenaga medis sehingga, jumlah keseluruhan yang di rapid test pada dua puskesmas lebih dari 100 orang.

“Kami merapid test semua tenaga medis di Puskesmas Tambelangan dan Puskesmas Robatal secara merata,” ujarnya.

Ia menambahkan, untuk hasil rapid test hanya ada tujuh tenaga kesehatan reaktif dari Puskesmas Robatal.

“Sedangkan untuk Puskesmas Tambelangan semuanya non reaktif,” ucap Agus Mulyadi.

Mengetahui hal itu, dari tujuh tenaga kesehatan tersebut dilakukan uji swab yang dijadwalkan pada 18 Juni 2020.

“Mudah-mudahan hasilnya nanti negatif,” harapnya.

Gugus Tugas Covid-19 Sampang juga melakukan penutupan pelayanan di dua Puskesmas itu sebagai bentuk upaya memutus mata rantai penyebaran covid-19.

Penutupan pelayanan dilakukan mulai kemarin dan akan berjalan selama 7 hari, sehingga hari Senin pekan depan akan buka kembali.

Meninggalnya Dokter Deny menambah duka bagi keluarganya.

Sebab, sebelumnya orangtua Dokter Deny juga meninggal karena terpapar covid-19.

Tiga hari sebelum dokter Deny, ibu kandungnya juga meninggal dunia karena diserang Covid-19.

Sebelum kematian ibu kandungnya, ayah kandung Dokter Deny yang merupakan perawat senior di RSUD Sampang, juga meninggal dunia, Minggu (7/6/2020).

Saat ini, istri almarhum dr Deny bersama dengan anak semata wayangnya yang masih berusia 1 tahun, tengah menjalani isolasi di RSUD Sampang, setelah terkonfirmasi positif Covid-19.

“Kami betul-betul berduka, karena keluarga besar dr D merupakan tenaga medis di Kabupaten Sampang yang sama-sama berjuang untuk melawan Covid-19, namun harus gugur karena terserang Covid-19,” ujar Juru Bicara Gugus Tugas Penanggulangan Covid-19 Kabupaten Sampang, Juwardi, dilansir Kompas.

Sebelum meninggal, dr Deny Dwi Yuniarto memposting pesan menyentuh. Pesan menyentuh Dokter Deny Dwi Yuniarto itu dibagikan kepada rekan sejawatnya saat sudah dirujuk ke Surabaya. 

Di antaranya kepada Agus Suryantono, Kepala Bagian Humas dan Protokol Sekretariat Daerah Kabupaten Sampang.

Catatan itu kemudian menjadi pesan berantai.

“Ini adalah realitas yang kita hadapi. Kita tidak meminta dipuja. Kita tidak meminta disanjung Kalau memang anda harus keluar rumah karena pekerjaan dan perputaran ekonomi, insya Allah kita akan memahami. Tapi jangan curigai kami mengada-ada dengan penyakit ini Karena kita tidak akan tau penyakit ini mengenai siapa dan dimana,” demikian tulisan dr Deny.

Menurut Agus, pesan itu menjadi peringatan bahwa tenaga medis dalam menangani Covid-19 tidak membutuhkan pujian dan sanjungan. Tenaga medis rela mengorbankan hidupnya demi menangani corona.

Selain itu, pesan dr Deny mengingatkan bahwa corona nyata adanya, bukan mengada-ada karena korbannya keluarga dokter sendiri.

“Pesan lainnya dari dr D bahwa corona bukan rekayasa. Jadi, kita semua diajak agar selalu waspada agar tidak seperti nasib dr D,” ungkap Agus Suryantono.