Ulfa
Ulfa

Sabtu, 16 Mei 2020 18:37

Dahlan Iskan Soal Keluar dari Krisis: Pemerintah Daerah Fokus Covid-19, Pusat Tangani Ekonomi

Dahlan Iskan mengusulkan pemerintah harus memisahkan antara Covid-19 dengan perekonomian. Artinya, pemerintah daerah dipercaya menangani virus dan pemerintah pusat mengurus recovery ekonomi.

BUKAMATA - Mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan berharap virus corona (Covid-19) bisa diatas secara tepat agar perokonomian kembali berjalan normal pada 1 Juli 2020 mendatang.

Hal tersebut diungkapkan Dahlan Iskan dalam sesi diskusi online bertema 'Dari mana dan pemulihan ekonomi: Printing money atau global bond?'. Diskusi itu dipandu Direktur Eksekutif Narasi Institute Achmad Nur Hidayat.

Mulanya, Dahlan Iskan memberi pandangan saat ditanya mengenai alternatif pembiayaan recovery ekonomi RI. Kata dia pembiayaan melalui utang sudah tidak bisa dibayangkan.

"Semua tahu bahwa pinjaman (Indonesia selama) 50 tahun sudah agak sulit membayangkannya, dan salah satunya sudah pasti pertanian. Pertanian ini ada dua, satu yang untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri dan ini harus cepat bertindak karena kalau orang itu lapar, dampaknya akan luar biasa, sekrisis apapun kalau pangan cukup itu akan lumayanlah," kata Dahlan Iskan.

Selain pertanian, eskpor juga harus didorong. Jangan sampai dilupakan. Sebab kata Dahlan, dalam sulit apapun, ekspor harus tetap berjalan.

"Kemudian substitusi impor. Jadi pertama pertanian, eskpor, kemudian substitusi impor. Tapi ini jumlah berapa, kebutuhan berapa, baru nanti kita bicara cari uangnya darimana, pilihannya sekarang juga sudah jelas, tinggal utang atau printing money," bebernya.

Menurut Dahlan Iskan, melalui Perppu yang sudah disahkan menjadi UU, Presiden bisa memilih opsi-opsi pendanaan untuk memperbaiki perekonomian dalam negeri.

"Kan Perppu sudah disahkan menjadi UU, presiden bisa melakukan apa saja sekarang, pokoknya terserah, suka-suka, apapuan bisa dilakukan pilihannya begitu banyak. Nah sekarang mampun tidak keluar dari krisis ini," ucap Dahlan.

Untuk itu, Mantan Direktur Utama PT PLN ini menyebut pemerintah sudah harus memisahkan antara Covid-19 dengan perekonomian. Artinya, pemerintah daerah dipercaya menangani virus dan pemerintah pusat mengurus recovery ekonomi.

"Sekarang ini energi harus mulai dipisah, siapa yang urus Covid-19, siapa yang urus recovery ekonomi. Saya lihat sekarang semua pihak perhatiannya kepada Covid-19, tetapi karena yang ditempuh setengah lokcdown, maka enegerinya setengah saja. Jadi dibagi betul, siapa yang menangani Covid-19, kemudian separuhnya kosentrasi nggak usah pikir Covid-19, mikir recovery ekonomi, termasuk sektor-sektro apa yang mendapat pendaan," katanya.

"Kalau perlu yang menangani Covid-19, udah biar pemerintah daerah, misalanya dengan kordinasi menteri dalam negeri. Kemudian pemerintah pusat pikirkan ini sepenuhnya untuk menggerakkan ekonomi kembali," sambungnya.

Dengan kebijakan tersebut, lanjut Dahlan Iskan, Indonesia dengan cepat bebas dan Covid-19 dan sudah kembali normal pada 1 Juli 2020 mendatang.

"1 Juli semuanya sudah mulai star, jadi kita korbankan enam bulan pertama tahun ini, dan apakah seluruh persiapan, kan persiapa politik sudah selesai, tinggal sekarang mulai menyusun kemudian prioritasnya. Jadi ada waktu 1 setengah bulan, ini cukup tidak agar 1 Juli bisa star, jadi apakah mendahulukan eksportir yang dulu diselamatkan, kemudian substitusi impor, kemudian pertanian ini harus stara duluan," ucap Dahlan.

Meski begitu, kata dia, pabrik dan sektor ekonomi lainnya yang akan beroperasi pada 1 Juli nanti, harus tetap menerapkan protokol kesehatan.

"Supaya pabrik jalan, dia harus punya protokol baru, itu kan kita sudah meniru saja. Jadi pabrik dizinkan kerja, karyawan dizinkan masuk protokolnya, bagaimana itu sudah harus jalan 1 Juli, dan fasilitias dari negara seperti apa, dan pendaannya seperti apa, kemudian tinggal ekspor dan pertanian," pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Covid-19 #Virus Corona

Berita Populer