MALUKU - Rapat pembahasan penanganan virus Corona (Covid-19) di Gedung DPRD Maluku Tengah (Malteng), Maluku, berlangsung ricuh, pada Kamis (30/4) lalu.
Rapat Anggota DPRD Malteng bersama Tim Gugus Tugas Covid-19 ini awalnya berjalan normal. Namun tiba-tiba berubah menjadi kacau setelah salah satu aggota Dewan menyampaikan pendapatnya.
Aggota Dewan itu adalah Sukry Wailissa dari Partai PKB. Dia mengamuk lalu melemparkan mic ke arah pimpinan rapat hingga banting meja. Videonya pun viral di media sosial.
Sukry mengaku kecewa dengan sikap Bupati Malteng, Abua Tuasikal yang dinilai tidak ikhlas melihat masyarakat saat pandemi Covid-19.
"Artinya jujur saya mau bilang, kalau kondisi ini eksekutif tidak ikhlas melihat daerah ini. Saudara Bupati tidak ikhlas lihat masyarakat di daerah ini. Kalau saudara Bupati ikhlas, tidak mungkin langkah yang diambil Bupati seperti ini," kata Sukry menggunakan dialeg Maluku.
Kata Sukry, rapat penangan Covid-19 sudah ketiga kalinya. Namun hingga saat ini tidak ada hasil dari pertemuan tersebut. Sebab, Bupati Malteng tidak pernah menghadiri rapat tersebut.
"Hari kita sudah melakukan pertemuan ketiga kali, tapi apa hasil dari pertemuan ini, kita hanya buang-buang energi, kita tahu regulasi makanya kita datang kesini panggil Tim Gugus bukan kita diceramahi pimpinan," tegasnya.
"Tapi bagaimana kita mencari solusi dan mejawab apa yang menjadi harapan masyarakat saat ini. Kalau seperti ini, bubakarkan DPRD," sambungnya.
Sukry kembali menegaskan, masyarakat Maluku Tengah saat ini membutuhkan sentuhan pemerintah dengan DPDR. Untu itu, dia meminta Bupati Malteng dihadirkan dalam rapat tersebut.
"Masyarakat di luar membutuhkan sentuhan kita, tapi apa yang kita kasih buat mereka. Buka maka, buka hati. Makanya pimpinan hadirkan saudara bupati, lembaga ini tidak dihiraukan sama sekali, tidak diindahkan sama sekali," ucap Ketua Komisi II DPRD Malteng itu.
"Kita juga capek pimpinan, mungkin teman-teman lain tidak di-bully, tapi kalau saya ini tiap saat, sampau HP yang satu dikasih mati, karena mereka (masyarakat) telepon terus, sms terus, kita mau jawab apa pimpinan, coba buka mata, buka hati itu," tambahnya.
Menurut Sukri, sikap DPRD Malteng saat ini dibutuhkan masyarakat untuk mengambil kebijakan guna memutus penyebaran Covid-19.
"Rasa kepeludian pimpinan sekarang ini dibutuhkan masyarakat Maluku Tengah, sebenrnya langkah apa yang kita bikin hari ini. Ini memang kekesalan saya, tidak sewajarnya saya bikin begini, tapi ini sudah lebih, makanya kalau pertemuan seperti ini lebih baik bubar," turunya.
"Ini takut bupati?, takut bupati tidak kasih kalian proyek. Mari kita buka-bukan. Boleh kita atur kepentingan kita, tapi jangan kita korban kepentingan masyarakat di luar, jangan. Ini kalau seperti begini kan tunggu masyarakat mati dulu," tutupnya.
BERITA TERKAIT
-
8 Pandangan WHO Terhadap Situasi Covid Saat Ini
-
Setelah Mempertimbangkan Kategori Covid sebagai Flu Biasa, Kini Jepang Terapkan Aturan Tidak Wajib Masker
-
Jokowi Mengakhiri PPKM, Kasus Covid-19 Meningkat Menjadi 366 Kasus
-
Berlaku Hari Ini, Berikut Ketentuan Surat Edaran Perjalanan Domestik di Masa Pandemi
-
Resmi, Presiden Jokowi Sampaikan Langsung Pelonggaran Pemakaian Makser