Redaksi : Sabtu, 02 Mei 2020 10:19
Najwa Shihab

BUKAMATA - Dalam instagram pribadinya, @najwashihab yang dilihat Bukamata, Sabtu (2/5/2020), presenter Najwa Shihab membuat surat terbuka untuk para anggota DPR RI. Dia mempertanyakan kinerja prioritas legislator Senayan itu saat pemerintah fokus pada penanganan virus corona.

"Kepada tuan dan puan para anggota DPR yang terhormat Apa kabar hari ini? Sepertinya tak sebaik biasanya? Sama, di sini pun begitu, kita semua memang sedang diuji," kata Najwa Shihab mengawali videonya.

Ia juga menyindir soal work from home (WFH) yang sedang dilakukan anggota DPR di masa pendemi corona ini.

"Hidup memang tak selalu baik kan? seperti kami kami ini tuan dan puan juga mungkin lebih banyak bekerja di rumah. Kalau lihat siaran sidang atau rapat terbuka di gedung DPR sekarang sih kelihatannya banyak kursi yang kosong, eh tapi biasanya juga kosong kan ya?," sindir wanita yang akrab disapa Nana ini.

Kemudian, Najwa Shihab pun membandingkan kinerja anggota DPR RI dengan parlemen di negara lain.

"Tuan dan puan anggota DPR yang terhormat, saya perhatikan parlemen-parlemen negara lain fokus melawan corona. Tapi rasa-rasanya isu-isu yang keluar dari Senayan belakangan kok kebanyakan tidak terkait corona ya?," ungkap Nana.

Menurut Najwa Shihab, yang dibahas anggota DPR di masa virus corona ini justru malah soal lain yang tidak terkait corona. Salah satunya, UU Cipta Kerja yang menguntungkan investor ketimbang pekerja.

"Kami malah membaca DPR bersemangat membahas isu-isu lain, contohnya rancangan undang-undang Cipta kerja yang banyak ditolak karena dinilai mementingkan kepentingan investor di atas kebutuhan pekerja," jelasnya.

Padahal, kata Najwa, Presiden Jokowi pekan lalu sempat menyatakan, pemerintah dan DPR menunda pembahasan salah satu klaster di rancangan undang-undang itu, yakni klaster Ketenagakerjaan.

"Ini untuk memberi kesempatan menjalani substansi dan mendapat masukan dari banyak pihak. Berpegang pada alasan itu, maka sudah seharusnya klaster lain dalam RUU Cipta kerja pun perlu ditinjau ulang," ungkapnya.

"Tidak cukup hanya menunda pembahasan 1 klaster saja," tambahnya.

Najwa juga kembali menyinggung pembahasan soal pembebasan napi koruptor. Lalu mencolek Menkumham, Yasonna Laoly.

"Ada juga RUU lain yang masih nekat mau dibahas, ada RUU KUHP yang tahun lalu diserbu unjuk rasa, lalu RUU Pemasyarakatan. Ada koruptor yang sudah ngebet pengen bebaskah? Apa kabar Pak Yasonna?," tambah Nana.

Najwa menegaskan, membahas undang-undang yang yang menyangkut hajat hidup orang banyak di masa seperti sekarang ini terlalu mengundang curiga.

Sebab, banyak orang yang menunda momen penting di hidupnya karena virus corona ini.

"Gara-gara pandemi, yang pada jatuh cinta saja berani menunda nikah lho. Ini kok DPR buru-buru banget kayak lagi kejar setoran," sindirnya.

Najwa sepakat, tidak ada undang-undang yang tidak penting, semuanya penting.

"Justru karena undang-undang itu penting, aneh jika pembahasannya diseriusi di waktu seperti sekarang. Saat di mana perhatian dan konsentrasi kita sedang terkuras bertahan hidup di tengah wabah," ungkapnya.

Apalagi lanjut Najwa, produk hukumnya pun berpotensi cacat bila tidak memenuhi ketentuan, dan rasanya belum ada aturan pembahasan RUU secara virtual.

"Jika ngotot menuntaskan omnibus law, atau RUU KUHP atau RUU Pemasyarakatan, jangan salahkan Jika ada yang menilai DPR tidak menjadikan perang melawan corona sebagai prioritas," kata Najwa Shihab.

Sebab, ia percaya bahwa setiap tindakan dan keputusan di masa krisis mencerminkan skala prioritas.

"Apa memang inikah prioritas wakil-wakil rakyat kami saat ini? Bikin ribut juga jelas tak seharusnya jadi prioritas," ujarnya lagi.

Najwa Shihab kemudian menyoal soal Satgas Covid-19 DPR yang dikabarkan mengimpor jamu ilegal dari Tiongkok secara besar-besaran untuk pasien positif virus corona.

"Satgas kemudian membantah itu, katanya ini diproduksi di Jakarta dan merupakan sumbangan wakil ketua DPR RI Sufmi Dasco, yang akan dibagikan gratis ke berbagai rumah sakit," ungkapnya.

Namun kemudian dikabarkan juga jamunya mengandung bahan berbahaya dan belum terbukti klinis.

"Satgas lagi-lagi membantah katanya sedang proses mendapatkan izin edar di Badan Pengawasan obat dan makanan. Sedang itu berarti belum kan ya?," beber Nana.

"Tuan dan puan yang terhormat, niat baik pun perlu proses yang baik, proses yang semrawut hanya akan disusul polemik. Sementara sekarang kita sedang banyak-banyaknya menaruh harapan kepada negara," tambahnya.

Najwa Shihab juga mengingatkan bahwa tindak tanduk DPR, salah benarnya akan selalu dilihat.

"Makanya sempat ramai juga warganet mengkritik Satgas Covid-19 DPR yang berfoto menggunakan APD saat hendak berkunjung ke rumah sakit darurat Wisma Atlet menyerahkan tanggungan DPR," ungkapnya lagi.

Menurut Najwa Shihab, hal itu dinilai melukai hati masyarakat.

Sebab para tenaga medis sedang benar-benar bertaruh nyawa karena kekurangan APD.

"Tidak ada yang meragukan jumlah sumbangan DPR Kami yakin pasti banyak namanya juga DPR beli ribuan rapid test saja mampu ngeborong Jamu apa lagi. Tapi ini suara hati, kecuali ya kalau yang dipakai anggota DPR itu APD yang lain, alat pelindung dewan. Salam hormat dari kami yang kalian wakili," pungkas Najwa.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram

Tuan dan Puan Anggota DPR, apa kabar? selamat berpuasa. Ini surat terbuka dari kami yang anda wakili. #CatatanNajwa

Sebuah kiriman dibagikan oleh Najwa Shihab (@najwashihab) pada

TAG