BUKAMATA - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membeberkan fakta mengejutkan. Ternyata, angka kematian terkait virus Corona (Covid-19) di Indonesia mencapai 1.000 orang.
Ketua Umum IDI, Daeng M Faqih mengatakan, jumlah itu sudah termasuk pasien positif dan pasien dalam pengawasan (PDP) Corona.
"PDP yang meninggal belum masuk dalam laporan kematian. PDP yang meninggal oleh RS dilaporkan juga sebagai kematian perawatan COVID, dimakamkan sesuai prosedur COVID. Hasil pemeriksaan belum keluar bahkan belum sempat diperiksa," kata Daeng M Faqih.
Menurut Daeng, pemeriksaan terkait virus Corona di Indonesia relatif kurang cepat. Karena itu, mereka yang berstatus PDP meninggal dunia sebelum hasil pemeriksaan keluar.
"Kurang cepat pemeriksaannya sehingga yang mati dalam status PDP belum keluar hasilnya malah tak sempat diperiksa. Ini pentingnya testing perlu diperluas dan dipercepat prosesnya seperti yang disampaikan Presiden," ujar Daeng.
Senada, Humas PB IDI, Halik Malik menyebut, angka kematian yang mencapai 1.000 orang itu merupakan akumulasi dari kasus positif dan PDP Corona.
"Dari angka positif COVID yang meninggal dan PDP COVID yang meninggal di RS yang merawat atau barangkali ada juga yang di luar di rumah sakit tapi sudah dilaporkan sebagai PDP itu kalau ditotal-total ya memang angkanya di atas angka yang disebutkan," ujar Halik.
Halik mengatakan selama ini PDP Corona tak diumumkan resmi pemerintah. Jumlah kasus ODP dan PDP Corona baru disampaikan secara berkala setelah ada perintah dari Presiden Joko Widodo.
"Ya sejauh ini kan belum pernah diumumkan yang statusnya PDP. Sementara banyak laporan pasien dalam pengawasan COVID-19 ini belum menerima hasil lab keburu meninggal. Nah itu kalau ditotalkan dengan yang sudah disampaikan jubir pemerintah ya memang angkanya di atas itu," ujar Halik dikutip Detikcom.
Menurut Halik, data terkait Corona yang disampaikan pemerintah saat ini belum menggambarkan kondisi rill kasus Corona di Indonesia. Itu disebabkan pemeriksaan yang masih belum masif di sejumlah daerah.
"Memang sejak awal IDI mendorong supaya data yang terpapar COVID siapapun yang terdampak COVID ini termausk petugas medis tenaga kesehatan dokter itu perlu diketahui seberapa jumlahnya yang tertular COVID-19 berapa yang dirawat, berapa yang wafat karena COVID," tutur Halik.
Saat dikonfirmasi soal data tersebut, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19, Achmad Yurianto memastikan semua kematian dicatat oleh pemerintah, terlepas apapun penyebabnya.
Namun dia menjelaskan data yang dipublikasikan hanya yang terkonfirmasi Covid-19. Karena data tersebut juga akan dilaporkan pada organisasi kesehatan dunia (WHO).
"Kita hanya mencatat untuk Covid-19, karena ini juga menjadi laporan kita ke WHO," kata Yuri dilansir Liputan6.
Kemudian saat ditanya terkait temuan IDI yang menyebut data kematian yang dimiliki pemerintah tidak real, Yuri pun enggan memberi komentar. "Tanya Pak Daeng saja, kok tanya saya," tegas Yuri.
BERITA TERKAIT
-
2 Santri Jadi Korban Banjir di Polman, 1 Tewas dan Korban Lainnya Hilang
-
8 Pandangan WHO Terhadap Situasi Covid Saat Ini
-
Setelah Mempertimbangkan Kategori Covid sebagai Flu Biasa, Kini Jepang Terapkan Aturan Tidak Wajib Masker
-
Jokowi Mengakhiri PPKM, Kasus Covid-19 Meningkat Menjadi 366 Kasus
-
Tubuh Wanita di Makassar Ditemukan Membusuk di Dalam Indekos