Abdul El Sayed Menang di Michigan, Berpeluang Jadi Senator Muslim Pertama AS
04 November 2026 18:52
Demokrat diproyeksikan merebut DPR dan Senat AS dalam Pemilu Sela 2026. Kemenangan ini menjadi pukulan politik bagi Donald Trump dan membuka peluang pengawasan lebih ketat terhadap pemerintahannya.
WASHINGTON – Peta kekuatan politik Amerika Serikat (AS) mengalami perubahan besar setelah Partai Demokrat diproyeksikan merebut kendali dua kamar Kongres, DPR dan Senat, dalam pemilu sela (midterm elections) 2026.

Hasil tersebut menjadi pukulan politik bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik. Kemenangan Demokrat sekaligus menandai menguatnya perlawanan politik terhadap pemerintahan Trump menjelang dua tahun terakhir masa jabatannya.
Keberhasilan Demokrat tidak hanya terlihat dari perebutan kursi di DPR, tetapi juga dari kemampuan mereka menembus sejumlah negara bagian yang selama puluhan tahun dikenal sebagai basis kuat Partai Republik.
Dilansir CNN, Rabu (4/11/2026), Demokrat mencatat kemenangan penting di sejumlah wilayah yang sebelumnya sulit ditembus. Salah satunya South Carolina, negara bagian yang dimenangkan Trump dengan selisih 18 poin pada pemilihan presiden 2024.

Kemenangan juga diraih di Texas, yang sejak 1994 belum pernah memilih kandidat Demokrat untuk jabatan tingkat negara bagian. Partai tersebut turut mencatat keberhasilan di Kansas, yang terakhir kali memilih senator Demokrat pada 1932.
Selain itu, Demokrat berhasil mengamankan kemenangan di Ohio dan Iowa. Rentetan hasil tersebut memperlihatkan perubahan peta dukungan pemilih yang selama ini menjadi salah satu kekuatan politik Partai Republik.
Ketidakpuasan terhadap Trump Jadi Faktor Penentu
Gelombang kemenangan Demokrat tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Trump.
Sejumlah persoalan menjadi sorotan pemilih, mulai dari tekanan inflasi, kebijakan tarif perdagangan, perang dengan Iran, hingga kekhawatiran terhadap perilaku presiden dan dugaan upaya memperkaya diri.
Hasil jajak pendapat pemilih CNN menunjukkan lebih dari enam dari setiap 10 pemilih tidak menyetujui kinerja Trump. Bahkan, lebih dari separuh responden mengaku sangat tidak puas terhadap kepemimpinannya.
Persoalan ekonomi juga menjadi faktor penting. Sekitar dua pertiga pemilih menilai kebijakan Trump justru memperburuk kondisi perekonomian Amerika Serikat.
Situasi tersebut menjadi momentum bagi Demokrat untuk mengonsolidasikan dukungan, termasuk di wilayah yang sebelumnya memberikan kemenangan besar kepada Trump pada Pilpres 2024.
Kemenangan ini sekaligus mengakhiri periode sekitar 22 bulan ketika Trump menikmati dukungan politik kuat di Washington. Sejak kembali ke Gedung Putih, ia memperluas penggunaan kewenangan eksekutif dengan dukungan mayoritas Partai Republik di Kongres.
Namun, hasil pemilu sela 2026 mengubah keseimbangan tersebut.
Dalam catatan politik Amerika Serikat selama 50 tahun terakhir, perubahan kendali DPR dan Senat secara bersamaan dalam satu siklus pemilu hanya terjadi dua kali.
Demokrat Kuasai Senat, Kemenangan yang Tak Terduga
Jika kemenangan di DPR sebelumnya telah diperkirakan, keberhasilan merebut Senat menjadi pencapaian yang jauh lebih besar bagi Demokrat.
Untuk menguasai kamar atas Kongres tersebut, Demokrat harus memenangkan sejumlah pertarungan di negara bagian yang pada Pilpres 2024 memberikan keunggulan dua digit kepada Trump.
Kemenangan di South Carolina, Texas, Ohio, Kansas, dan Iowa menjadi bagian penting dari keberhasilan tersebut.
Sementara itu, perebutan DPR relatif lebih mudah karena Demokrat hanya membutuhkan tambahan bersih tiga kursi untuk mengambil alih mayoritas.
Besaran keunggulan Demokrat di kedua kamar masih bergantung pada hasil akhir penghitungan suara. Namun, proyeksi menunjukkan partai tersebut berpeluang memiliki mayoritas yang cukup untuk mempertahankan kendali Kongres.
Kekuasaan Trump Tak Hilang, tetapi Pengawasan Makin Ketat
Meski berhasil menguasai dua kamar Kongres, kemenangan Demokrat tidak serta-merta membuat mereka leluasa menjalankan seluruh agenda politiknya.
Trump masih memiliki hak veto terhadap rancangan undang-undang yang disetujui Kongres. Selain itu, sebagian besar legislasi di Senat membutuhkan dukungan minimal 60 suara untuk dapat disahkan.
Artinya, sejumlah agenda prioritas Demokrat masih berpotensi menghadapi hambatan politik dan membutuhkan kompromi dengan Partai Republik.
Namun, kendali atas DPR dan Senat memberikan Demokrat instrumen politik yang jauh lebih kuat untuk mengawasi pemerintahan Trump.
Mereka memiliki kewenangan melakukan penyelidikan terhadap berbagai kebijakan dan persoalan yang melibatkan pemerintahan, termasuk memanggil pihak-pihak terkait melalui mekanisme subpoena atau pemanggilan resmi Kongres.
Kewenangan tersebut dapat digunakan untuk meminta keterangan pejabat pemerintah, mengumpulkan dokumen, hingga mengusut berbagai persoalan yang menjadi perhatian parlemen.
Di Senat, kemenangan Demokrat juga memberikan pengaruh besar terhadap proses persetujuan calon pejabat tinggi dan hakim federal yang diajukan presiden.
Termasuk di dalamnya peluang untuk menahan atau menggagalkan nominasi hakim yang diajukan Trump apabila terjadi kekosongan kursi di Mahkamah Agung Amerika Serikat selama sisa masa jabatannya.
Dengan perubahan komposisi Kongres ini, dua tahun terakhir pemerintahan Trump diperkirakan akan berlangsung dalam dinamika politik yang berbeda.
Jika sebelumnya Trump memiliki dukungan mayoritas untuk mendorong agenda pemerintahannya, kini Gedung Putih harus berhadapan dengan Kongres yang dikuasai oposisi.
Kemenangan Demokrat bukan sekadar pergantian mayoritas parlemen, melainkan juga perubahan keseimbangan kekuasaan yang berpotensi menentukan arah kebijakan Amerika Serikat hingga akhir masa jabatan Trump.
04 November 2026 18:52
04 November 2026 17:25
04 November 2026 09:44
04 November 2026 09:12
04 November 2026 09:17
04 November 2026 09:22
04 November 2026 09:27
04 November 2026 09:44