Redaksi
Redaksi

Rabu, 04 November 2026 09:12

Dari Bahan Terbuang Jadi Sumber Penghasilan, Ibu Rumah Tangga di Weri-Saharey Dibekali Strategi Pemasaran Olahan Pala

Dari Bahan Terbuang Jadi Sumber Penghasilan, Ibu Rumah Tangga di Weri-Saharey Dibekali Strategi Pemasaran Olahan Pala

Tim 5 TEP Kementrans membekali 20 ibu rumah tangga di Weri-Saharey, Fakfak, strategi pemasaran produk olahan pala untuk memperkuat kemandirian ekonomi keluarga.

FAKFAK, BUKAMATANEWS — Potensi pala yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal kini mulai membuka peluang ekonomi bagi ibu rumah tangga di Kampung Weri dan Kampung Saharey, Kawasan Transmigrasi Weri Saharey.

Melalui program pemberdayaan Tim 5 TEP Kementerian Transmigrasi (Kementrans), kelompok perempuan di dua kampung tersebut tidak hanya dilatih mengolah pala menjadi berbagai produk bernilai jual, tetapi juga dibekali strategi pemasaran agar usaha yang dirintis dapat berkembang secara berkelanjutan.

Upaya penguatan ekonomi rumah tangga itu diwujudkan melalui pelatihan pemasaran produk olahan pala yang berlangsung di Kampung Weri, Senin (2/11/2026). Sebanyak 20 ibu rumah tangga dari kelompok usaha Putri Gunung Kampung Weri dan kelompok Sengger Kampung Saharey mengikuti kegiatan tersebut.

Pelatihan ini menjadi tahapan penting dalam rangkaian program pemberdayaan perempuan yang dipimpin Dr. Irma Andriani. Fokusnya, memastikan keterampilan produksi yang telah dimiliki kelompok tidak berhenti pada kemampuan mengolah bahan baku, tetapi mampu berkembang menjadi usaha produktif yang memiliki akses pasar.

Sebelumnya, Tim 5 telah memberikan pelatihan dan pendampingan pembuatan berbagai produk turunan pala. Mulai dari sabun, balsem, aromaterapi, manisan pala, permen (candy), hingga sirup pala.

Tidak hanya itu, kelompok usaha juga telah difasilitasi dalam pengurusan izin Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan produk untuk memasuki pasar.

Namun, tersedianya produk dan kemasan yang menarik belum cukup menjamin keberlangsungan sebuah usaha. Persoalan pemasaran menjadi tantangan yang perlu dijawab agar produk olahan pala mampu menjangkau konsumen lebih luas.

Karena itu, dalam pelatihan kali ini, Dr. Syamsari yang juga merupakan dosen pemasaran hadir memberikan materi mengenai bauran pemasaran atau marketing mix. Materi tersebut mencakup empat aspek utama, yakni strategi produk, penetapan harga, distribusi, dan promosi.

Ketua Tim 5, Dr. Irma Andriani, mengatakan penguatan pemasaran menjadi mata rantai penting dalam memastikan usaha kelompok ibu rumah tangga dapat terus berjalan.

Menurutnya, berbagai produk olahan pala yang telah dihasilkan melalui proses pelatihan dan pendampingan sudah memiliki kemasan serta potensi untuk bersaing di pasar. Tantangan berikutnya adalah bagaimana produk tersebut dapat dipasarkan secara efektif.

"Kami berharap kegiatan kita selama ini, yang telah menghasilkan produk olahan lengkap dengan kemasannya dan memiliki potensi bersaing di pasar, tidak mengalami kendala pemasaran yang akhirnya membuat usaha ini tidak berkelanjutan," terang Irma.

Ia berharap pengetahuan dan keterampilan pemasaran yang diperoleh dapat menjadi bekal bagi kelompok untuk mengembangkan usaha secara mandiri, memperluas jangkauan konsumen, sekaligus meningkatkan nilai ekonomi komoditas pala Fakfak.

Komitmen untuk melanjutkan usaha tersebut juga datang dari kelompok perempuan di Kampung Saharey.

Ketua Tim PKK Kampung Saharey mengungkapkan, sebelum mendapatkan pendampingan, daging pala yang dihasilkan masyarakat kerap terbuang karena belum mengetahui cara mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.

Namun, melalui pelatihan dan pendampingan Tim 5, masyarakat mulai menyadari bahwa potensi lokal tersebut dapat dikembangkan menjadi sumber penghasilan keluarga.

"Kami dulu membuang-buang saja daging pala ini, namun Tim 5 menyadarkan dan menyemangati kami melalui pelatihan dan pendampingan pembuatan produk. Jadi, kami sekarang bertekad untuk terus melanjutkan usaha ini," ungkapnya.

Komitmen tersebut menjadi salah satu capaian penting program pemberdayaan, yakni tumbuhnya kesadaran, keterampilan, dan motivasi perempuan untuk mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.

Dengan bekal kemampuan produksi, pengemasan, perizinan, hingga strategi pemasaran, kelompok usaha Putri Gunung dan Sengger diharapkan mampu mempertahankan kegiatan produksi secara mandiri.

Lebih dari sekadar menghasilkan produk olahan, program ini diharapkan menjadi pintu masuk bagi tumbuhnya usaha ekonomi produktif berbasis potensi lokal yang mampu meningkatkan pendapatan keluarga serta memperkuat kemandirian masyarakat di Kawasan Transmigrasi Weri Saharey.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
#Kementerian Transmigrasi