Redaksi : Jumat, 16 Oktober 2026 12:33
Kepala Bidang Humas Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Makassar, Wisnu Maulana

MAKASSAR, BUKAMATANEWS — Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Daya Kota Makassar mencatat peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sekitar 13–20 persen sejak Agustus hingga pertengahan Oktober 2026.

Peningkatan tersebut tercatat pada sejumlah layanan kesehatan, mulai dari rawat jalan, rawat inap, hingga Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Humas RSUD Daya Kota Makassar, Wisnu Maulana, mengatakan tren peningkatan kasus ISPA terlihat dalam periode Agustus, September, hingga pertengahan Oktober tahun ini.

“Ada peningkatan sekitar 13–20 persen dari bulan Agustus, September hingga pertengahan Oktober, baik di rawat jalan, rawat inap maupun di IGD,” ujar Wisnu.

Peningkatan kasus tersebut menjadi perhatian, mengingat gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor, seperti perubahan cuaca, paparan debu, polusi udara, serta infeksi virus dan bakteri.

Hubungan dengan Kabut Asap Masih Perlu Dikaji

Terkait kemungkinan kaitan peningkatan kasus ISPA dengan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pihak RSUD Daya menegaskan perlunya kajian lebih lanjut oleh instansi terkait.

Menurut Wisnu, diperlukan analisis lebih mendalam untuk memastikan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap peningkatan kasus tersebut, termasuk kemungkinan pengaruh kualitas udara.

“Untuk hal ini perlu kajian lebih lanjut oleh instansi terkait,” jelasnya.

Kabut asap karhutla dapat mengandung partikel halus yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama sistem pernapasan. Paparan polusi udara juga dapat memperburuk kondisi orang yang memiliki asma atau penyakit pernapasan lainnya.

Meski demikian, peningkatan kasus ISPA yang tercatat di rumah sakit tidak serta-merta membuktikan adanya hubungan langsung dengan kabut asap. Penilaian tersebut membutuhkan data kualitas udara, pola kunjungan pasien, serta kajian epidemiologis yang relevan.

Warga Diimbau Menjaga Kesehatan Pernapasan

Di tengah meningkatnya perhatian terhadap kualitas udara di Makassar dan sekitarnya, masyarakat diimbau menjaga kesehatan serta mengurangi paparan debu dan asap, terutama ketika kondisi udara memburuk.

Masyarakat dapat menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel saat harus beraktivitas di luar ruangan, membatasi kegiatan fisik berat di luar ruangan ketika udara tercemar, serta menjaga kebersihan lingkungan.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, dan orang dengan penyakit pernapasan atau jantung, perlu lebih berhati-hati terhadap paparan polusi udara.

Apabila mengalami gejala seperti sesak napas, napas berbunyi, atau gangguan pernapasan yang semakin berat, masyarakat disarankan segera mencari pertolongan medis.

Peningkatan kasus ISPA ini menjadi pengingat pentingnya pemantauan kesehatan masyarakat dan kualitas udara secara bersamaan. Koordinasi antara fasilitas pelayanan kesehatan dan instansi lingkungan diperlukan untuk mengidentifikasi faktor risiko serta menentukan langkah penanganan yang tepat. (*)